• Home
  • /a>
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Abziz Blog


Pesona Puncak Arjuna Wisata Spot Foto Hits Terbaru di Bayat

Baru-baru ini telah dibuka tempat wisata baru untuk spot foto di Bayat, yang berada di barat Bukit Cinta tepatnya di Sidowayah, Gununggajah, Bayat, Klaten
Dengan biaya tiket yang terjangkau, kamu bisa melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas bukit sambil foto-foto. Jika kamu ke sini paling cocok saat sunrise(matahari terbit) atau saat sunset(matahari terbanam).



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
    Jual Peralatan Makan Terlengkap dan Termurah di MelamineMall.com
    Saat ini dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan internet di indonesia, telah memiliki dampak yang besar terhadap perubahan bisnis. Yaitu mulai dari cara beriklan, cara jual beli, cara berinteraksi antar manusia, dsb. Salah satu perkembangan teknologi dan internet inilah, muncul e-commerce. Di Indonesia e-commerce berkembang dengan pesat karena masyarakat Indonesia sangat terbuka akan teknologi baru, pola hidup yang cenderung konsumtif ditambah pengguna internet di Indonesia yang meningkat pesat. Dengan adanya e-commerce, maka penjual dan pembeli tidak perlu bertemu mereka hanya berinteraksi melalui internet maupun dengan komunikasi melalui telepon. Dalam proses ini kepercayaanlah yang menjadi modal utama. Namun dengan perkembangan yang semakin pesat, maka banyak toko online / e-commerce bermunculan. Baik mereka dengan memanfaatkan blog, social media, maupun website.
    Kini tersedia toko online yang menjual berbagai peralatan makan dan minum dengan bahan berkualitas yaitu Melaminemall.com. Hadirnya website melaminemall.com digagas oleh praktisi teknologi informasi Romeison Gulo (founder) yang bertujuan mempermudah pembeli dalam mencari perlengkapan rumah yang spesifik khusus Peralatan Makan Berkualitas dan Terjangkau untuk semua kalangan.
            Apa saja keunggulan Melaminemall.com?
             1,  Jual Set Alat Makan Terlengkap
Melaminemall.com memiliki produk peralatan makan dengan total kurang lebih 490-an variasi yang ready stock, yang terdiri dari piring, mangkok, cangkir, gelas, nampan, sendok, dll. Melaminemall.com juga akan terus memperbaharui dan menambah koleksi produk terbaru.
             2.  Barang yang dijual berkualitas
Jangan ragu untuk membeli peralatan makan di melaminemall.com . Di melaminemall.com tetap mengutamakan kualitas produk, dan pastinya di melaminemall.com tidak ada produk dengan kualitas abal-abal. Peralatan makan yang dijual di melaminemall.com memiliki kualitas yang baik yang terbuat dari bahan melamine yang mengkilap, kuat, tahan gores dan tahan panas.
             3.  Ada Diskonnya
            Ada diskon sepanjang waktu untuk semua produk di melaminemall.com.
             4.  Aman dan Terpercaya
Jangan takut bila anda ingin belanja produk peralatan makan di melaminemall.com dan produk yang anda beli tak terkirim karena di melaminemall.com aman dan terpercaya. Jadi peralatan makan yang anda beli akan terkirim.
Apa saja produk Melaminemall.com?
   1.  Piring Bermotif Unik
Piring yang dijual di melaminemall.com terdiri dari piring makan, piring sambal, piring pudding dll. Piring yang dijual di melaminemall.com juga memiliki variasi yang unik seperti bentuk dan warna. Ada yang berbentuk lingkaran, segi empat dan oval. Piring yang dijual ada yang cekung dan ceper. Variasi warnanya mulai dari hitam, putih, merah, hijau, dll. Melaminemall.com juga menjual alat makan piring motif daun. Selain bermotif daun melaminemall.com juga menjual piring dengan motif besek dan cabai.
   2.   Mangkok Bermotif Unik
Melaminemall.com juga menjual mangkok sop yang unik . Selain mangkok sop, melaminemall.com juga menjual mangkok nasi, mangkok mie, dll. Mangkok yang dijual di melaminemall.com juga memiliki variasi yang unik seperti bentuk dan warna.

   3.  Jual Set Alat Makan Bayi
Bagi anda yang memiliki bayi, kini di melaminemall.com menjual mangkok untuk bayi. Mangkok bayi yang dijual dilengkapi dengan tutup dan praktis untuk dibawa kemanapun.

   4.  Nampan berkualitas
Melaminemall.com menjual nampan berkualitas , yang tentunya kuat, tahan gores dan tahan panas. Nampan yang dijual di melaminemall.com cocok untuk kebutuhan restoran dan rumah anda.

   5.  Cangkir
Melaminemall.com menjual cangkir kopi terbaik, cocok bagi anda yang suka ngopi. Ukuran cangkir yang dijual bervariasi mulai dari 250 ml, 300 ml, maupun 400 ml. Cangkir yang dijual ada yang dilengkapi dengan tutup, sehingga minuman panas tidak mudah dingin.

   6.  Gelas
Melaminemall.com juga menjual gelas melamine mulai dari ukuran 280 ml sampai 400 ml. Tidak hanya gelas saja, namun juga menjual alas gelas dan tutup gelas yang bervariasi mulai dari ukuran 3,25 inch.

   7.  Sendok
Melaminemall.com menyediakan berbagai kebutuhan sendok melamine untuk anda, mulai dari sendok makan, sendok nasi, sendok sop, dan sendok sambal.

   8.   Asbak Berbentuk Unik
Melaminemall.com juga menjual asbak melamine dengan bentuk yang unik.

Untuk mendapat promo alat makan terbaru dan info lebih lanjut anda dapat mengunjungi melaminemall.com
Kontes SEO terbaru MelamineMall.com
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar

Glorimelamine.com Produsen Peralatan Makan Industri Horeka terbaik di indonesia.

Peralatan makan ialah peralatan yang digunakan untuk menyediakan, menyajikan, dan memakan makanan. Salah satu bahan pembuat peralatan makan ialah melamine. kini tersedia produk peralatan makanan yang terbuat dari melamine asli , aman bagi kesehatan, dan cocok bagi horeka yaitu GLORI MELAMINE.

Glori Melamine sebagai brand / merek yang dikelola oleh PT. Multi Anugrah Sukses berlokasi di daerah perkantoran Daan Mogot Baru LC2#14 Jakarta Barat berkomitmen untuk membawa produk-produk berkualitas tinggi untuk Anda, yang akan melengkapi kesempurnaan Keperluan rumah,bisnis maupun usaha anda,. Glori Melamine telah membuat produk-produk melamin berkualitas dan telah berpenglaman kurang lebih 15 Tahun. Di pabrik Glori Melamine telah dilengkapi dengan teknologi terbaru dalam setiap Custom Design Melamine Ware. Untuk melayani permintaan pasar akan piring melamine dan mangkok melamine berkualitas yang ekonomis PT. Multi Anugrah Sukses mulai meluncurkan produk dengan merek IFIANCY di tahun 2004. Produk IFIANCY tetap konsisten dengan tampilan produk dan kualitas yang tinggi, namun dipasarkan dengan harga yang lebih terjangkau.

Glori Melamine mengembangkan design piring melamin dan mangkok melamin terbaru dengan mengikuti trend di pasaran. Produk yang dihasilkan beragam mulai dari piring, mangkok, sendok, cangkir, nampan, sampai asbak melamine. Anda dapat membeli produk Glori Melamine dan Ifiancy di di toko terdekat di daerah anda, atau membeli secara online.
Mengapa harus Glori Melamine?
  1.   Durable
Produk Glori Melamine tahan banting. Cocok untuk pemakaian pada suhu -20°c sampai 120°c
  2.   Reasonable price
Glori Melamine menghadirkan produk – produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.
  3.   Terbuat dari Food Grade Melamine berkualitas premium
Produk Glori Melamine terbuat dari bahan baku Food Grade Melamine berkualitas premium untuk menghasilkan Peralatan makan dan minum yang sesuai dengan standard SNI7322:2008. Semua produk Glori Melamine juga diproses dengan pengawasan kualitas sesuai dengan standard management mutu ISO9001:2008 yang diaudit secara berkala oleh badan sertifikasi paling bergengsi di dunia yaitu TŰV-NORD. Jadi produk Glori Melamine terbukti aman bagi kesehatan.
  4.   Customizable
Glori Melamine memproduksi bermacam-macam melamin hasil custom design dengan kesempurnaan dalam pikiran, dengan Kerja sama tim profesional mampu memenuhi kebutuhan customer / pelanggan baik dalam skala kecil maupun skala besar.
Anda dapat melakukan kustomisasi produk sesuai kebutuhan anda. Mulai dari logo perusahaan, logo restoran, banner promosi sampai pada kebutuhan untuk souvenir. Caranya hanya dengan minimum order 100 pcs, lalu mengisi form yang tersedia, yang berisi  nama, no. Telp/HP, alamat, judul pesanan, email, jelaskan kebutuhan anda (diskripsi) dan melampirkan file sample logo atau design buatan anda.
  5.   Production
Proses produksi terjamin dengan bahan yang aman
  6.   Distribution
Produk Glori Melamine bisa dijumpai di semua lapisan masyarakat dari rumah tangga, rumah makan tradisional sampai rumah makan modern, food-court, warung-warung, pedagang gerobak makanan, kantin perusahaan, dsb dari Sabang sampai Merauke karena area distribusi Produk Glori Melamine sudah menjangkau seluruh wilayah Indonesia. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Novel
Kubalikkan lembar-perlembar halaman novelku, saat itu sudah tiga jam sejak adikku tertidur. Aku tidak dapat menghentikan ini. Rasa ingin tahuku menyeruak hingga aku mengetahui akhir dari novel ini. Yah, memang beginilah kebiasaanku. Di kasur ini aku membaca novel yang tebalnya hampir lima sentimeter. Di sampingku, adikku yang kelas dua SD tampak menggeliat dalam tidurnya. “Semoga mimpi indah,” batinku disela membaca. Kembali kuteruskan membaca, sesaat aku mendengar suara-suara aneh dari dalam dapur. Aku tidak mempedulikannya dan melanjutkan membaca. Sudah empat perlima bagian yang telah kubaca. “Sebentar lagi selesai,” pikirku sambil tersenyum. Kembali kudengar suara-suara aneh, tapi kali ini bukan berasal dari dapur. Kuedarkan pandangan mataku ke arah luar kamar. Gelap, kamarku satu-satunya yang masih menyala. Mataku terasa perih saat mencoba memfokuskan pandanganku ke luar kamar. “Ah, sudahlah. Itu pasti suara tikus atau kucing tetangga,” aku berusaha menenangkan diri. Suara itu terdengar lagi. Kembali kulihat ke arah luar kamarku saat bayangan hitam tiba-tiba muncul dan melihat ke arahku sesaat. “Apa itu!” aku tersentak kaget. Aku berlari ke luar kamar mencari bayangan itu. Aku juga menyalakan semua lampu agar dapat melihat sosok itu. Jantungku berdebar kencang dan tubuhku menegang, perlahan aku berjalan ke arah pintu depan. Saat aku mencoba membuka pintu, ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci.  Kurasa maling sekalipun tak dapat masuk rumah ini, tapi tadi itu apa? aku kembali mencarinya, tapi tak menemukan apa-apa. Mataku terasa berat untuk terus mencari. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, jantungku masih berdebar tak karuan dan perasaanku menjadi tak enak. Adikku masih tertidur pulas, aku duduk di sampingnya. Kulirik jam di depanku. “Jam dua malam, pantas saja aku jadi berhalusinasi begini …”
***
“Mbak, bangun!” teriak adikku sambil menggoyang-goyangkan badanku.
“Mbak, banguun! nanti telat, sekarang sudah jam setengah enam.”
“Apa?” teriakku tak percaya dengan yang apa yang kudengar. Aku langsung terbangun meski masih terasa mengantuk dan bergegas mengambil handuk
untuk mandi.
“Hei!” aku berteriak ketika adikku lebih dulu masuk kamar mandi.
“Siapa cepat, dia dapat.” Kata adikku sambil tertawa tidak jelas.
“Huh, dasar anak kecil!”  umpatku dalam hati. Aku kembali ke kamar, tak akan ku sia-siakan waktuku. Dengan cepat aku menjadwal pelajaranku hari ini, hari Jumat, dan memasukkannya ke dalam tas. “Bahasa Inggris, sejarah… apalagi, ya?” aku mencoba mengingat-ingatnya karena aku tidak mempunyai jadwal pelajaran. “Ah iya, ekonomii…” aku langsung memasukkan buku ekonomi ke dalam tas dengan malas, yah karena sebenarnya aku memang tidak menyukai pelajaran ekonomi. Setelah selesai menata jadwal pelajaran, aku berjalan ke kasur untuk merapikannya. Pertama, aku merapikan bantal dan menempatkannya ke tempat semula. Lalu aku menarik selimutku, aku merasa ada sesuatu yang jatuh. Aku melihat ke bawah dan langsung memungut benda itu. Melihat itu aku menjadi ingat kejadian semalam, tubuhku menegang. Aku merasa sesuatu memegang tubuhku.
“Mbak, aku dah selesai.” Kata seseorang di belakangku. Aku membalikkan badanku, “Ternyata Zidan, huh!” Aku terkejut sekaligus lega. Aku lalu bergegas melipat selimut dan meletakkan benda itu ke dalam rak buku. Setelah itu aku bergegas mandi. Selesai mandi aku langsung mempersiapkan diriku dan menyisir rambut panjangku lalu mengikatnya. Sekarang sudah jam enam pagi, aku bergegas memakai sepatu melihat adikku yang satunya lagi sudah menungguku di luar. Ibu telah menyiapkan sarapan, tetapi aku memintanya untuk dijadikan bekal di sekolah.  Setelah semua siap, aku pamit berangkat sekolah kepada ibu. Aku juga mencari ayah untuk pamit, tetapi ayah tidak ada di dalam rumah. Ternyata ayah ada di luar sedang berbicara dengan seseorang. Aku berjalan mendekatinya dan mendengar sedikit pembicaraan mereka.
“…bisa jatuh?” kata seseorang.
“Kurasa karena kucing atau anjing.” Kata ayah.
“Bagaimana bi–” orang itu berhenti berbicara saat melihatku berjalan ke arah ayah, “Sudah mau berangkat ya, dek?”
“Eh, emm iya, Pak!” kataku gugup kepada orang itu yang ternyata tetangga sebelahku. Aku langsung berpamitan dengan ayah dan tetanggaku. Di luar rumah sudah terparkir rapi sepedaku yang tadi disiapkan Ayah. Aku langsung menaiki sepeda sembari melihat tampang kesal adikku, Zidan, disampingku.
“Ayo berangkat, Dan!” Kataku sambil mengayuh sepeda.
“Lama banget, sih! Nanti aku te –”
“Iya, maaf.” Sengaja kupotong perkataan Zidan, adikku yang sekarang kelas 3 SMP. Kebetulan aku dan Zidan searah menuju sekolah. Tetapi aku kelas sepuluh, jadi aku tidak satu sekolah dengannya. Hanya saja sekolahnya lebih jauh dari sekolahku, itu yang membuatnya kesal padaku. Ia tidak mau telat sekolah, ia malu jika diketahui teman-temannya. Maklum, ia anak populer di sekolahnya. Tapi, yang unik darinya, ia tidak mau memakai motor ke sekolah yang menurut orang lain keren. Ia malah memilih berangkat naik sepeda. Baginya naik sepeda itu lebih keren dan menyehatkan. Yah, aku sendiri pun setuju Zidan naik sepeda, bukan karena kerennya, tapi karena dia belum punya SIM. Itu juga alasannku naik sepeda, selain itu aku bisa menikmati pemandangan indah ini dengan gratis selama perjalanan. “Ah, ini bukan waktunya memikirkan itu sambil melihat pemandangan. Bukan cuma Zidan yang telat aku juga bisa telat kalau begini terus,” batinku melihat kebodohan yang dari tadi kulakukan.
“Ayo, ngebut!” Kataku sambil mengayuh sepeda dengan cepat. Zidan mendengus mendengarnya.
“Dari tadi aku udah bilang itu,” Zidan mulai menyamakan kecepatannya denganku, “Ayo, lebih cepat lagi sekarang udah jam setengah tujuh!” teriak Zidan.
Mendengar itu aku pun mempercepat laju sepedaku lagi. Saat sampai di perempatan jalan, aku langsung belok kiri sementara Zidan tetap lurus.
“Bye!” kataku sambil melambaikan tangan. Zidan membalasku dengan melambaikan tangannya juga kepadaku.
***
Aku tiba di sekolah bertepatan dengan bel masuk dan langsung bergegas memakirkan sepeda. Setelah itu aku berjalan cepat menuju kelas. Beberapa siswa lain juga bergegas menuju kelasnya. Di kelas aku langsung duduk dan mengelap keringatku. Saat itu juga, bu guru datang, ketua kelas pun langsung menyiapkan kelas. Lalu, Bu Eka, guru bahasa Inggris mulai mengabsen murid-murid.
“ … Bayu,”
“hadir, Bu!” Kata seorang siswa yang juga ketua kelas ini , kelas 1 B.
“Nana,”
“Hadir, Bu!” Jawab seorang siswi yang duduk di depan mejaku yang juga mengangkat tangannya.
“Dian,”
“Hadir, Bu!” Jawab seorang siswi yang lain.
“Karina,”
“Hadir, Bu!” Jawabku terkejut sambil mengangkat tanganku. Tak menyangka namaku dipanggil, ternyata Bu Eka mengabsennya secara acak. Dan, yaps! benar itulah namaku, lengkapnya Karina Ayu Mutia. Saat ini aku berumur 15 tahun. Bersekolah di sekolah biasa, jarang bicara kecuali dengan teman dekat atau dengan terpaksa. Karena aku lebih suka membaca buku di perpustakaan sehingga aku kurang akrab dengan teman sekelasku.
Pelajaran pertama, Bahasa Inggris cukup menyenangkan, teman-temanku yang lain sepertinya juga menikmati pelajaran ini. Terutama saat seseorang temanku maju dan menceritakan pengalamannya dalam Bahasa Inggris. Aku dan teman-temanku tertawa melihat aksinya di depan kelas. Sebenarnya beliau pandai dalam berbahasa Inggris, alasan mengapa aku dan teman-teman tertawa lebih dikarenakan ekspresi beliau dalam menceritakan kisahnya bertemu dengan anjing peliharaanya, yang menurutnya lebih indah dibanding saat beliau bertemu dengan pacarnya. Semua siswa di kelas sontak menyorakinya, tentu saja karena beliau tidak pernah berpacaran.
“Hei, mending pacaran saja sana sama anjingmu!” kata Bayu jahil.
“Tidak perlu repot-repot karena aku sudah menganggapnya sebagai pacar,” kata Rian.
“Beneran, nih?” sahut Putri.
“Enggaklah, memangnya aku gak ada yang mau sampai pacaran sama anjing.” Jawab Rian jengkel.
“Ya, kenapa enggak?” tanya Angel, tampaknya ia dari tadi memperhatikan orang yang ada di depannya itu sambil menahan tawa.
“Oh! Jadi gitu, ya?” kata Mia, memasang wajah seriusnya. Aku tahu ini semua hanyalah bercanda.
“Iya-iya, kenapa enggak?” timpal Lina kali ini, kondisi kelas sekarang malah makin kacau.
“Hei! Kali–”
“That’s enough. Thanks you, Rian.” Potong Bu Eka sambil tersenyum. Rian pun langsung kembali ke tempat duduknya. Sepertinya Bu Eka memahami kondisi yang terjadi. Jika terus dibiarkan kurasa pembicaraan ini tidak akan selesai.
***
Pelajaran pertama berakhir dan aku benar-benar merasa malas pada pelajaran selanjutnya. Temanku yang lainnya sedang asik mengobrol. Sedangkan teman sampingku ini, Yasmin, sibuk memainkan ponselnya.
“Ngapain, Min? Kok senyum-senyum,” tanyaku memastikan aku tidak salah lihat.
“Enggak kok, lucu aja baca ini,” gumam Yasmin.
“Baca apa-an?” tanyaku penasaran.
“Rahasia, mau tahu aja!” jawab Yasmin asal-asalan. Aku mengerutkan keningku melihat tingkah Yasmin saat ini. Tiba-tiba kelas menjadi diam, reflek aku melihat kearah pintu. Ternyata Pak Wiharto, guru ekonomi sudah datang.  Pelajaran kali ini tentang ‘’Sistem dan Alat Pembayaran’’, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran dimulai. Sebenarnya sejak pelajaran pertama kepalaku terasa sakit, tapi karena pelajarannya menyenangkan rasa sakitnya tidak terlalu terasa. Sekarang kepalaku benar-benar sakit. Aku menengok ke belakang melihat jam. Jam menunjuk pukul delapan lebih lima belas menit. Aku menghembuskan napas panjang, tak sabar pelajaran ini segera berakhir.
Aku meletakkan kepalaku di atas hamburan buku-bukuku yang tergeletak pada meja. Aku melihat ke arah luar kelas, sambil mengetuk-ngetukkan pensil, bermaksud menghilangkan sakit kepalaku ini. Samar-samar kudengar suara Pak Wiharto mengajar. Di luar aku melihat seseorang mengenakan pakaian aneh. Seperti kostum yang ada di sirkus-sirkus dalam film. Ia mengenakan baju berwarna belang merah kuning dengan sedikit rumbai berwarna putih, celana panjang berwarna biru, sepatu coklat dengan ujung yang runcing. Dan satu lagi yang paling aneh kurasa, yaitu topi bundar berwarna-warni. Dia berdiri di depan kelasku. Menatap dan tersenyum kepadaku, kurasa. Dia tampak keriput dan rambutnya berwarna putih. Tapi anehnya teman-temanku tidak menyadari kehadirannya.  Sesuatu yang lembut terasa di bawah kakiku. Aku melihat ke bawah dan ternyata seekor kucing berbulu hitam. Beberapa kali sebelumnya kucing itu juga masuk ke kelasku. Entah aku tak tahu mengapa? Tapi sepertinya kucing itu seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku melihat ke arah luar kelas lagi, tapi orang itu sudah tidak ada.
 “Ah, aku tertidur. Jam berapa ini?” gumamku sendiri. Aku melihat ke arah jam, sekarang jam setengah dua belas malam. Aku terkejut begitu mengetahuinya. “Kenapa aku bisa tertidur selama ini? Kemana yang lainnya?” aku melihat sekelilingku. Aku masih mengenakan seragam dan berada di kelas sendirian. Aku tak tahu kenapa teman-temanku atau bahkan guruku, kenapa mereka tak membangunkanku? Aku membereskan buku-bukuku dan berjalan keluar. Kelas tak terkunci, pintunya masih terbuka. Tanpa sadar aku meneteskan air mata dan terus berjalan ke parkiran sekolah. “Kenapa mereka setega ini? Kenapa mereka tak membangunkanku? Aku salah apa? Kenapa begini kupikir mereka temanku? Apakah mereka temanku?” aku terjatuh dan menangis merasakan apa yang dilakukan teman-teman kepadaku. Aku bahkan tak tahu lagi mereka temanku atau bukan. Aku tahu aku sering membaca sehingga jarang berbicara pada mereka, tapi bukankah ini sudah keterlaluan.
Aku bangun dan membersihkan air mataku dengan tangan. Malam ini sangat gelap, lampu-lampu di sekolah hanya sedikit yang menyala. Aku meneruskan jalanku, tapi aku merasa sesuatu yang aneh. Aku melihat ke atas langit di mana bulan dan bintang berada, tapi tak ada satupun bulan dan bintang yang terlihat. Aku mengerutkan kening tak mengerti, bahkan di langit yang cerah tak ada bulan dan bintang yang menemaniku. Aku bergegas menuju parkiran sepeda mencoba tak mempedulikan hal aneh yang menimpaku. Aku berjalan cepat melewati kelas-kelas dan kuperhatikan tiap kelas yang kulalui. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, tapi di setiap pintu kelas terdapat noda merah seperti darah.  Bahkan tirai-tirai jendela yang semula berwarna hijau menjadi merah. Di parkiran aku terkejut, ternyata tidak seperti yang kukira. Sepedaku bukanlah satu-satunya yang ada di parkiran, masih banyak sepeda dan motor yang terparkir. Saat mencari sepedaku aku melihat seseorang di parkiran, wajahnya tak terlihat karena gelap. Aku berjalan mendekatinya dan melihat sekeliling memastikan apakah ada orang lain atau tidak? Orang itu berdiri tegak tak bergerak, tapi sepertinya ia melayang aku tak tahu pasti di parkiran benar-benar gelap. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Aku mengambil ponselku di tas dan menyalakan flashlight. Kemudian aku mengarahkan ponselku ke arah orang itu. Begitu terlihat jelas wajah orang itu, aku tak bisa berpikir apa-apa. Badanku begitu kaku, tanganku bergetar tanpa kuinginkan, dan ponselku tiba-tiba terlepas dari genggaman. Aku tak percaya dengan yang kulihat, berkali-kali aku mengerjap-ngerjapkan mata berharap kenyataan ini tak nyata. Namun bentuk itu makin terlihat jelas. Orang itu adalah Dian, dia meninggal dengan tubuh yang digantung dan pisau yang menancap di dadanya. Wajahnya pucat pasi dengan mulut menganga dan mata terbuka terbelalak. Aku menangis tak percaya semua ini terjadi aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu kenapa Dian dibunuh dengan kejam seperti ini dan siapa yang membunuhnya? “Jika semua sepeda dan motor masih ada di sini, apakah yang lainnya juga dibunuh? Apa itu sebabnya ada darah di pintu tiap kelas? Jika itu benar-benar terjadi berarti pembunuh itu masih ada di sini.” Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba sesosok hitam bergerak, aku langsung berlari mengejarnya. Memaksa tubuh ini bergerak tak peduli apakah itu si pembunuh atau bukan. Aku terus mengejar sosok itu, aku semakin mendekatinya. Sosok itu terlihat mengenakan jaket dan celana berwarna hitam.
“Ber… berhenti! Apa kamu si pembunuh?” teriakku dengan marah. Orang itu berhenti sebentar kemudian berlari lagi. “Hei, kubilang berhenti! Jawab pertanyaanku!” Orang itu tiba-tiba menghilang, aku berjalan mencarinya. Tiba-tiba seseorang menutup mulutku dari belakang. Aku berusaha melepasnya, tapi sia-sia tenaganya lebih besar. Orang itu kemudian menarikku ke belakang dan membisikkan sesuatu.
“Tenanglah, akan kujawab pertanyaanmu jika kau tenang,” suaranya terdengar berat seperti suara laki-laki. Aku menganggukkan kepala dan dia melepaskan tangannya. Aku berbalik dan memperhatikannya ternyata sosok itu adalah seorang laki-laki remaja. Tetapi aku belum pernah melihatnya di sekolah atau pun di rumah. Dia lebih tinggi dariku, aku mencoba mengingat-ingat apakah aku mengenalnya atau tidak? “aku bukan siapa-siapa, kau tak mengenalku. Cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan.” Katanya membaca pikiranku.
“Oh, umm a… apa kamu yang membunuh temanku Dian? Apa temanku yang lainnya juga kamu bunuh?” aku berusaha tidak menangis, tetapi bayang-bayang Dian terus berputar di kepalaku.
“Bukan aku yang membunuh Dian dan temanmu yang lain sepertinya juga terbunuh.” Kata laki-laki itu dengan tenang tak peduli kegelisahanku.
“Si… siapa yang membunuh teman-temanku, kenapa ia melakukannya?” tanyaku terisak aku sudah tak tahan lagi.
“Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu. Tapi, aku dapat mengatakan apa yang terjadi, jadi tenanglah jangan menangis.” Katanya lembut sambil mengusap air mataku. Aku mengangguk dan menenangkan diriku.
“Baikklah, jadi sebenarnya apa yang telah terjadi?” kataku tak sabar.
“Pikirkan dan dengarkan ini baik-baik aku tak akan mengulanginya, waktuku tak lama lagi. Apakah tidak aneh jika di langit di mana bulan dan bintang berada tidak ada? Coba kau lihat tak ada awan sama sekali, tapi tak ada satupun bulan dan bintang yang terlihat. Pikirkanlah nanti kau dapat mengerti apa yang terjadi. Kau tadi juga sempat menyadarinya, kan?” Katanya sambil menunjuk ke langit.
“Kenapa kamu tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi? Dan kenapa harus teka-teki?” aku benar-benar tak mengerti di situasi seperti ini dia malah memberiku sesuatu yang harus kutebak.
“Karena dengan begitu kau dapat memahami apa yang terjadi.” Katanya pelan.
Seketika orang itu menghilang entah kemana begitu mengatakannya. Dan aku entah mengapa berdiri di depan kelasku sendiri. “Apa yang sebenarnya terjadi?” aku ragu apakah aku harus masuk atau tidak? Tetapi aku mendengar sesuatu dari dalam kelas jadi aku memutuskan masuk ke dalam. Kelas tertutup, aneh padahal tadi masih terbuka. Tanganku bergetar perlahan-lahan aku menggerakkan tanganku dan mencoba membuka pintu kelas. Dengan tanganku yang kiriku terkepal erat aku mendorong pintu dengan tanganku yang lain. Pintu terbuka, di kelas sangat gelap aku tidak dapat melihat apapun. Beruntung aku sempat mengambil ponselku sebelum berlari mengejar pemuda tadi. Aku mulai menyoroti sudut penjuru kelasdan berjalan memasukinya. Aku berkeliling kelas sambil terus berpikir perkataan pemuda tadi meski pikiranku terasa kacau. Lalu aku melihat seseorang memakai jubah berdiri membelakangiku. Orang itu tampak memegang pisau dan berbalik kearahku begitu aku meyorotinya. Aku yakin dia pembunuhnya, tapi aku tak yakin siapa orang yang ada di hadapanku wajahnya familiar denganku. Mirip denganku, benar-benar mirip, aku yang berdiri di sana mengenakan jubah sambil membawa pisau. Aku diam beku begitu orang itu berjalan mendekatiku.
“Ke… kenapa kamu membunuh teman-temanku? Kenapa?” teriakku sambil menahan air mata.
“Seharusnya kamu tahu, kenapa. Aku adalah kamu. Apa kamu sudah membaca pesanku di tubuh Dian?” jawab orang itu sambil tertawa.
“Aku bukan kamu. Jangan menipuku dasar pembunuh! Dan pesan apa yang kamu maksud?” lagi-lagi hal yang tidak kumengerti, aku sudah sangat muak.
“Apa kamu lupa kejadian saat itu,” katanya sambil memegang bahuku. “Dian si busuk itu, dia membiarkanmu begitu saja melihat kamu jatuh dari sepeda. Padahal ia melihatnya dan ia malah menertawakanmu, bukan begitu? Aku sengaja menulis penghianat di kertas itu karena sebagai teman ia malah melakukan itu. Jadi aku membunuhnya dan itu juga yang kamu inginkan, bukan?”
“Kamu salah, Dian nggak pernah seperti itu. Dia tidak melihatku. Dan apa hanya karena ini kamu membunuhnya? Dasar pembunuh kejam!”
“Dia bahkan tak menganggapmu sebagai teman dan temanmu yang lainnya pun juga begitu. Aku bukan pembunuh kejam, aku adalah kamu. Satu lagi, kamu sendiri juga tidak pernah menganggap mereka sebagai teman. Bagimu mereka adalah pengganggu di saat kamu membaca, benar begitu?” sosok itu kembali tertawa begitu melihatku pucat.
“Se… sebenarnya siapa kamu? A… aku selalu merasa mereka teman-temanku. Dan ucapanmu salah.” Aku tergagap mengatakannya, tak mengerti juga ia bisa mengetahuinya.
“Aku tahu segalanya karena aku adalah kamu, dan kamu masih menganggap mereka teman? Bahkan setelah mereka melakukan hal-hal yang menyakiti hatimu. Di kelas saat kamu sakit tak ada yang menanyakan kondisimu. Bahkan teman semejamu pun tidak. Lalu, saat pelajaran olahraga tidak ada yang mau menjadi pasanganmu padahal jumlah siswa genap. Lalu– ”
“Sudah cukup, hentikan! Aku tak peduli seperti apa yang mereka lakukan padaku. Aku tetap menganggap mereka temanku. Aku sangat bahagia saat mereka dekat denganku, bersamaku. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu membunuh teman-temanku. Pembunuuh!” Teriakku tak tahan.
“Kamu tidak mengerti apa yang kukatakan, ya? Sekarang aku tak peduli lagi kamu itu aku atau bukan. Sekarang aku akan membunuhmu. Ha Ha Ha.” Kata sosok itu sambil tertawa.
“A… apa?” aku bergerak mundur ketakutan, sementara sosok itu mulai mendekatiku dan mengarahkan pisaunya ke arahku. Aku kembali memikirkan apa yang dikatakan pemuda tadi. Sosok itu semakin dekat aku tak dapat bergerak mundur dan pintu kelas tiba-tiba saja tertutup. Sosok itu mengarahkan pisaunya ke wajahku dengan cepat, aku sekarang mengerti apa maksud pemuda tadi dan tersenyum senang.
***
“Ah, aku tertidur. Jam berapa ini?” kataku sambil mengusap mataku.
“Eh, sekarang jam setengah sembilan. Kamu tidur ya, Rin?” goda Yasmin.
“Emm, iya. He he he,” aku menggaruk kepalaku meski tak gatal. “Ngomong-ngomong, Pak Wiharto kemana? Kok gak kelihatan,” tanyaku bingung.
“Pak Wiharto tadi pulang, katanya ada urusan. Pelajaran sekarang diganti sama sejarah. Eh, katanya gurunya baru, lho!” Kata Yasmin berbinar-binar.
“Hah! Beneran?” kataku memastikan, Yasmin hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Entah mengapa sekarang aku merasa lega. Suatu perasaan aneh begitu aku terbangun. Mimpi dalam tidur singkatku tadi tidak dapat kuingat, namun aku senang kepalaku tak terasa sakit lagi. Lalu datang seseorang ke dalam kelasku. Aku ragu apa aku pernah melihatnya, tapi sepertinya aku pernah melihatnya
“Perkenalkan saya adalah guru baru kalian. Nama bapak Nicholas Van Der Toon, saya mengajar sejarah.” Kata bapak itu sambil tersenyum. Aku memperhatikan baik-baik bapak itu, ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi berbentuk pita. Sesuatu yang sangat formal untuk dipakai seorang guru SMA. Kemudian ia mengenakan celana panjang berwarna hitam dan memakai sepatu coklat dengan ujungnya yang runcing. Aku melihat wajahnya, ia agak keriput dan rambutnya berwarna putih ia juga memiliki janggut panjang dan kulihat sekarang ia tersenyum padaku. Aku yakin kalau aku pernah melihatnya sebelumnya.
***
Hari Senin kegiatan study wisata kelas sepuluh diadakan. Aku dan teman sekelasku satu bus, begitu pengumumannya saat busnya tiba. Sebelumnya kami tak satu bus, namun tiba-tiba muncul pemberitahuan ini. Dan guru pembimbing kami adalah Pak Nicholas guru baru kami. Aku duduk di samping Dian, sesuai yang telah ditentukan. Perjalanan menuju lokasi kira-kira membutuhkan waktu 3 jam. Aku mengambil novelku berniat membaca, namun sebelum sempat membaca, novel itu sudah berada di tangan Dian. Aku mendengus kesal dan melihat Dian membuka-buka novelku.
“Tadi kamu cerita tentang Pak Nicholas yang menurutmu aneh dan mimpimu di hari jumat aku mati terbunuh dan ternyata kamu yang bunuh aku, ya kan?” kata Dian tiba-tiba mengulang ceritaku tadi. Aku memang menceritakannya ke Dian, tapi aku tak mengerti mengapa Dian bertanya itu.
“Ya, kenapa?” aku penasaran kenapa Dian tiba-tiba begini.
“Kamu masih merasa aneh sama Pak Nicholas, Rin?” tanya Dian mengangkat sebelah alisnya.
"Oh, umm..." aku memikirkan perkataan Dian sambil melihat ke arah Pak Nicholas yang sedang membaca koran, pakaiannya masih sangat formal untuk kegiatan di luar sekolah.  Benar, lagi-lagi jas yang ia pakai, berbeda dengan guru lain yang berkemeja. “Ya dia memang aneh,” kataku akhirnya.
“Baca buku ini lagi, deh! Kamu kebanyakan baca, sih. Jadi menganggap nyata cerita, kan akhirnya.” Dian menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya sambil melihat ke arahku dan memberikan kembali novelku.

Aku tak mengerti. Aku kemudian mengambilnya dan membaca novelku lagi. Aku memang belum selesai membacanya sejak Jumat. Dan setelah selesai membaca aku mengerti ucapan Dian, novelku bercerita tentang kehidupan pesirkus sang pembunuh yang terjebak dalam mimpinya.

Karya : Salma Azizah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kau Pertemukanku Dengan Kasih Tulus
“Ketika kau ketuk pintu hatiku, tak ada lagi celah untukmu masuk . Sang Dewa Malam membisikiku untuk menggeliat dalam kegelapan sunyi nan sepi. Delimaku, jemari lentikmu senantiasa menari dalam sanubariku menggelitik kedinginan malam. Menunggumu pulang, tak tahu arah tak tahu jalan. Tersesat! Hanya kilau bening hatimu yang akan menuntunmu kembali.” Telapak Suyatmi nampak pucat. Ingin dia merobek surat terakhir itu. Bibirnya yang merah bak buah delima kini membiru. Dinginnya malam menyelimuti kali ini. Suyatmi, gadis berbadan gemuk berisi ini telah kehilangan semangat hidupnya. Dikala ia berpisah dengan kekasihnya, Sumarno.
“Yatmi… Kemari, Nak! Ibu punya sesuatu untukmu.” seru Mak Cik, yang sudah berusia lanjut. Namun Mak Cik adalah satu-satunya orang tulus yang mau merawat Suyatmi. “Iya Mak… Tunggu sebentar.” Duk duk duk, langkah itu terdengar mendekat. Suyatmi yang dalam kesehariannya terbiasa tidak beralas kaki kini sudah berada di samping Maknya. “Ada apa, Mak? Tampaknya Emak senang sekali?” Senyum manis itu menyimpul dari bibir Mak Cik, “Iya Nduk, Mak baru saja mendapat bonus dari Pak Agus, penjualan telur asin Emak laku habis beberapa hari ini. Ini Mak ada sedikit uang saku tambahan untukmu.” Yatmi tersenyum mendengar kabar itu, namun Yatmi tampak ragu “Terimakasih Mak. . . Tapi apa tidak sebaiknya uang itu disimpan Mak saja? Yatmi belum ada kebutuhan yang mendesak, Mak.” Mak Cik membelai lembut rambut Yatmi yang hitam legam. Sama persis seperti almarhumah Ibu Yatmi dulu. Memang, dahulu Ibu Yatmi adalah kembang desa, namun beliau meninggal karena sakit memikirkan Ayah Yatmi yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk judi, judi, dan judi. “Ya sudah, Nduk. Uang ini Emak simpan untuk bekal kamu kelak.” Yatmi pun berdiri dan ijin masuk ke kamar.
Ia tak bisa lepas dari bayangan buku kusam itu. Meskipun kusam, buku itu menyimpan sejuta kenangan indah. Kisah cintanya dan Marno. Yatmi mulai membuka lembaran pertama buku itu. Ia mengingat kejadian pertama yang mengenalkannya pada Marno. Walaupun Sekolah Menengah Atas tempat Yatmi menimba ilmu tergolong terpencil, Masa Orientasi Peserta Didik tak luput dari sekolah ini. Perkenalan pertama pada saat masa orientasi itu selalu membayangi setiap jejak mereka. Ya…Mereka yang dulunya anak lugu, kini tak bisa menipu rasa yang ada dalam hati mereka. Cinta, hal yang dulunya tabu,kini menjadi penghias hari yang mereka lalui.
Setelah kenaikan kelas, Yatmi memutuskan untuk keluar sekolah untuk meringankan beban Mak Cik. Kini ia duduk membisu di samping Mak Cik. Membalur telur bebek dengan lumpur yang dicampur serbuk batu bata dan garam itu. Ia membayangkan kalau saja ia masih bersekolah, pastinya ia sedang makan berdua dengan Marno. Namun ia tak menyesali keputusannya, keinginannya untuk membantu Mak Cik nampaknya mulai mendapatkan jalan mulus. Yatmi mulai mendapat banyak pesanan telur asin, banyak keluarga yang menyukai telur asin buatannya. Sedikit demi sedikit ia mengembangkan industri rumah tangganya menjadi lebih besar.
Suyatmi merupakan anak yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan. Sembari mengembangkan usahanya dengan Mak Cik, Yatmi juga membeli buku-buku ilmu pengetahuan. Suyatmi ingin membebaskan diri dari keterbelakangan. Perpisahannya dengan Marno merupakan cambuk pedih bagi Yatmi. Ia terus berusaha memperbaiki hidupnya dan Mak Cik. Semangat Suyatmi terus berkobar meskipun usahanya tak selalu mulus, kadang banyak pesanan dan kadang tidak. Usaha rintisan Mak Cik itupun dititipkan ke sekolah tempat Yatmi menimba ilmu dulu.
Suatu hari ketika Yatmi menitipkan telur asin di SMA Yatmi dulu, dipecah lamunnya oleh seorang pria. “Hah Pak Bejo? Wah, sudah lama tidak bertemu ya Pak.” Tanya Yatmi dengan terkejut. “Oalah… Nak Yatmi to, sedang apa di sini?” tanya Pak Bejo “Ini Pak, saya sekarang membantu Mak untuk memasarkan telur asinnya.” “Oh, begitu… Ya sudah Nak Yatmi, Bapak tinggal dulu ya.” Sekilas ada sesosok lelaki tampan yang berjalan berdua dengan seorang wanita. Betapa hancurnya hati Yatmi ketika menyadari lelaki itu adalah kekasihnya dahulu…Marno!
Setapak demi setapak yang dilalui, semakin tidak menentu, seakan lepas engsel itu dari asalnya. Mak Cik yang memperhatikan Yatmi dari kejauhan, sudah bisa menebak apa yang dialami Yatmi siang tadi. “Kenapa Yatmi? Kok kamu lesu sekali?” “Tidak apa-apa Mak, hanya saja tadi Yatmi bertemu Latifah sahabat Yatmi dulu.” “Lho, kok malah sedih?” “Bukan apa-apa kok Mak, mungkin Yatmi hanya lelah. Yatmi ke kamar dulu ya, Mak.” Mak Cik mengangguk kecil menunjukkan masih ada kejanggalan yang dirasakan.
“Teganya kamu Latifah. Kamu sahabatku yang dahulu selalu menemani hariku. Tawa canda kita kau rusak sudah, kau hancurkan dengan sikap khianatmu.” Air mata menetes dari sudut mata sayu Suyatmi. Lembaran buku kusam itu pun nampak merapuh karena air yang merembas padanya. “Apa yang dulu kamu janjikan, menjadi sahabat setiaku. Kini kau rusak janji manismu sendiri tanpa penjelasan berarti. Kau acuh ketika menemuiku siang tadi. Bahkan kalian nampak tidak pernah mengenalku sebelumnya. Memang aku hanyalalah yatim yang tak tamat sekolahnya, namun tak sepantasnya kalian merendahkanku seperti ini.” Semakin deras air mata yang menetes dari mata sabit itu. Yatmi bergegas menuju tempat  wudhu. Dibasuhnya muka manis itu dengan sentuhan lembut. Ia lalu menghadap Sang Khaliq, diadukannya semua kejadian yang telah ia alami. Semacam ada kekuatan gaib. Yatmi menemukan dirinya yang baru, kini Yatmi menjadi dukun beranak. Reputasinya mengalahkan Pak Tunggono, langganan Pak Amrun. Ia menyadari, semakin lemah ia menjalani kehidupan, kehidupanpun semakin tak memiliki belas kasihan padanya. Ini yang ia jadikan pacuan untuk meperbaiki hidupnya.
Tabungan yang ia miliki selama ini, ia gunakan untuk membuka toko kelontong kecil-kecilan. Jiwa wiraswasta yang entah menurun dari siapa seakan ia berjalan dengan pembimbingnya yang tak tampak. Jauh berbeda dengan Yatmi yang dahulunya hanyalah wanita lemah. Yang hanya karena cinta, ia terseok-seok mengaduh kesakitan tanpa seorangpun peduli padanya. Cukup sudah itu menjadi kenangan pahit yang ada dalam perjalanan hidupnya. Kebangkitannya kini membawa pada kebaikan, wanita yang kuat, yang tidak mudah terombang-ambingkan apalagi hanya dengan khianat yang dilakukan Marno dan Latifah.

Waktu berlalu, mengenalkan Yatmi pada Bambang. Lelaki yang tak kalah tampan dengan Marno. Hanya saja kalah mapan mungkin. Bahtera kehidupan baru pun dimulai Yatmi. Menjalin kasih tulus abadi. Dengan Bambang.

Karya : Rico Adi Setyanto
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
DIBALIK MATA INI

Hari ini adalah hari senin, hari yang kebanyakan dibenci oleh anak sekolah, namun tidak  dengan Natha siswi kelas 11 SMA ini. Ia mempunyai sikap acuh tak acuh sehingga membuat dirinya tidak peduli dengan keadaan ini. ya dia sama seperti siswa siswi biasa yang berangkat ya berangkat aja nggak meduliin yang lain.. nah ini sekilas tentang kepribadian Natha.
***
Sesampainya di sekolahan, seperti biasa dia kumpul bersama dengan kedua sahabatnya, yaitu Vanka yang cerewet dan Nurul yang sok tau, mereka ngomongin orang lah, ngomongin guru lah, dan apa aja yang mereka suka. Tiba tiba “kringggggg” bel masuk berbunyi, mereka masuk ke kelas mereka yang kebetulan mereka satu kelas. Kelas mulai gaduh karena guru belum juga masuk ke kelas mereka, inilah saat yang tepat untuk mereka gunakan melanjutkan pembicaraan mereka tadi. “Ehh,lo tau nggak? Gue denger denger ada siswa baru lho” ucap Nurul yang memang sok tau ini “Ah yang bener lo??dia cewek apa pria?? pasti pria kan?? Cakep nggak?? Cakep kan?? Dia pindah ke kelas kita nggak?? Iya kan??” kata Vanka yang super duper cerewet ini. “Hemmm. Mulai nih kebiasaannya” kata Nurul yang jengkel. “Biarin” kata Vanka. ”Emm kalo dia cakep gimana? Mau lo gebet juga?” ejek Nurul. Tiba tiba pandangan mereka beralih ke Natha yang kelihatan murung tak bersemangat. “Itu Natha kenapa??” Tanya Vanka. ”Entah” tambah Nurul. “Hehh Nat lo kanapa? Dari tadi pagi gue lihat lo nggak semangat gitu? Lo tau nggak, kata Nurul ada anak baru lho, kalo pria lo mau gue jodohin sama dia? Ehh enggak deh, buat aku aja.hahahaha” kata Vanka. “Hussss” bentak Nurul. ”Gue nggak papa kok, cuma lagi badmood aja” kata Natha.
“Ehhh guys, jangan berisik itu ibu guru sudah otw, dia kayaknya bawa murid baru deh”  kata Hendra. “Hahh,beneran?? Wahhh… kalo itu pria pasti ganteng”  kata Vanka dengan suaranya yang khas, kayak petir. ”Huuuuuuuuuu” ejek temen temen sekelas nya.
Selamat pagi anak anak, maaf ibu datangnya agak telat, karena ada sedikit kepentingan. Nah anak anak hari ini kalian kedatangan teman baru yang akan  belajar bersama kalian selama 2 tahun kedepan. ”Baik sekarang silahkan perkenalkan diri kamu”  kata ibu guru. “Perkenalkan, nama saya Christian, biasa dipanggil Tian, saya pindahan dari SMA di Magelang, senang bisa pindah di sekolah ini”. kata Christian, sembari menatap kedepan berusaha untuk melemparkan tatapan bersahabat kepada semuanya. Dan dia segera menyadari kalau hampir semua yang berada di dalam kelas menatap kearahnya. Namun, karena ada kata ‘hampir’ maka, itu berarti tidak semua. Karena dengan jelas, mata Tian terhenti kearah penghuni bangku di depannya. Gadis yang berambut panjang tergerai, sedang asik dengan buku bacaannya. Tak menatapnya sama sekali, entah karena ia keasikan membaca buku atau memang kehadirannya sama sekali tidak menarik perhatian. Entahlah, Tian bukan merupakan tipe orang yang bisa menebak kepribadian seseorang. Rupanya gadis itu adalah Natha. ”Baiklah anak anak, ibu rasa sudah cukup perkenalannya, nah Tian kamu boleh pilih tempat duduk yang kamu sukai” kata ibu guru. Tian pun memilih tempat duduk di belakangnya Natha. ”Haii Tian,kenalin gue Vanka, gue siswi paling cantik di sekolah ini” kata Vanka. ” Ihh apaan sih genit banget, maafin dia ya, dia emang gitu orang nya, emm Tian kenalin, gue Nurul temennya Vanka” kata Nurul. “Haii Vanka, haii Nurul senang bisa kenalan sama kalian” kata Tian.
***
Setelah beberapa jam berlalu,”kringgggggg” bel pulang sekolah berbunyi. Di perjalann pulang Tian menyadari kalo Gadis itu dari tadi sama sekali tidak menoleh kearah nya, yang membuat Tian menjadi penasaran. Ingin menyapa tapi ia mengurungkan niat itu, takut mendapatkan tanggapan yang tidak semestinya. Tanpa berikir panjang ia kemudian bertanya nama gadis itu ke hendra yang kebetulan sedang pulang bersamaan. “Ndra, ngomong ngomong gadis yang disamingnya Vanka itu namanya siapa ya??” Tanya Tian. “Oh ituu.. jangan jangan kamu naksir ya.. cieeee”  ledek hendra. “Enggak ya, gue Cuma penasaran aja, nggak lebih” kata Tian. ”Okeylahh.. dia itu namanya Natha, gue punya nomor handphone nya, lo mau??” kata Hendra. Tanpa berpikir panjang Tian kemudian mengiya kan tawaran Hendra.
                                                ***
Sesampainya di rumah, Tian bergegas menghubungi Natha, mereka mulai ngobrol panjang lebar, hingga membuat mereka semakin akrab. Hari terus berganti, Tian dan Natha mulai ada perasaan nyaman, entah karena sikap mereka yang dewasa atau memang Cinta lah yang membuat mereka merasakan indahnya dunia. Keesokan harinya seperti biasa Tian dan Natha beraktifitas seperti selayaknya teman biasa, tidak ada tanda tanda kalau mereka saling tertarik, bahkan Vanka dan Nurul pun tidak mengetahui nya. Memang Tian dan Natha sudah berjanji jika ia tidak memberitahu kepada teman teman nya, jika selama ini ia saling menaruh hati.
***
“Nat, Tian nyariin lo tuh, dia ada di Taman, Sana gih temuin dia dulu. Kasian dia udah nunggu” kata Nurul. “Emangnya dia nyariin aku buat apa?” tanya Natha penasaran. ”Udahlah..sana aja dulu, nanti kamu tau kok” tambah Vanka. Natha pun bergegas nemuin Tian di taman, dan tanpa ia sadari ternyata Vinka dan Nurul sudah mengetahui perasaann Tian dan Natha, mereka berniat untuk memberi kejutan kepada sahabatnya itu.
***
“Tian?? Ngapain kamu manggil aku ke sini??” panggil Natha sambil menepuk pundaknya
“Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu Nat.” Kata Tian
“Mau ngomong apa? Ngomong aja langsung”
“Natha, sejak aku memperkenalkan diriku ke teman teman semua, Cuma kamu yang membuat aku penasaran, sikap kamu yang cuek membuat aku ingin lebih mengenal kamu. Awalnya aku gak pernah kepikiran buat suka sama kamu,apalagi cinta sama kamu, tapi semakin lama aku kenal kamu, ternyata aku merasa nyaman sama kamu, ganjil rasanya kalau gak ketemu kamu, cuma nama kamu yang setiap hari aku bisikan dalam doaku, nama yang membuat air mataku berlomba lomba menggenangi wajahku. Entah keajaiban apa yang ada di dalam namamu itu, aku tidak pernah menjanjikan kesetiaan tapi aku berjanji akan sebuah perasaan, perasaan yang tidak akan pernah sirna ditengah gelapnya dunia. Jadi Kamu mau nggak jadi pacar ku?? Kata Tian.
 Seketika semua teman teman Tian dan Natha pun  berteriak ”Terima,terima,terima” termasuk Vanka dan Nurul.
 “Ihhhh sosweet banget ya Christian, aku jadi iri deh” kata Vinka. “Samaaaaa” tambah Nurul. “Emmm, Tian makasih ya kamu telah datang di dalam kehidupan ku, aku juga nyaman saat di dekatmu, kau adalah salah satu laki-laki yang bisa memahami keadaan ku, aku seneng banget bisa kenal kamu, jadi sekarang aku mau jadi pacar kamu.” Kata Natha.
Semuanya pun bersorak sorai mendengar kalimat yang dilontarkan dari mulut Natha.“Tian, aku mohon sama kamu, kamu jangan pernah tinggalin aku ya,aku sayang banget sama kamu.” pinta Natha.
”iya sayang, aku janji aku nggak akan ninggalin kamu. Aku juga sayang banget sama kamu. Makasih ya” kata Tian


Karya : Naomi Kurnia
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

/>

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juli 2018 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (1)
  • November 2016 (12)
  • Agustus 2015 (1)
  • Maret 2015 (2)
  • Februari 2015 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates