• Home
  • /a>
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Abziz Blog

Kesusahan Sehari Cukuplah Sehari

—kalo nilai matematika lo jelek itu gak usah sepaneng—hidup lo gak selalu tentang matematika. Ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa dihitung secara matematis. Kerja keras misalnya. (Adrian)
Jakarta, 2015.
Siang begitu terik, panasnya menyengat hingga ke ubun–ubun. Keringat mengucur deras membasahi pelipis, menembus seragam putih milik para siswa di ruangan itu. Kelas begitu lenggang. Penghuninya mengeluh. Kepanasan. Lapar. Lelah. Pelajaran matematika jam segini sungguh tidak efektif. Bak masuk telinga kanan  keluar telinga kiri.
Kipas di ruangan hanya seperti pajangan. Tidak terasa kinerjanya. 15 menit lagi pelajaran akan berakhir, tapi tidak ada tanda–tanda sang guru akan menyudahi materi yang disampaikan. Reya melengos, ia sudah menelan banyak ludah siang ini—mengatasi dehidrasi. Matanya menutup separuh, sungguh ia tidak sedikitpun paham materi yang  disampaikan.
‘Tett—Tett—tett’  bel akhirnya berdering 15 menit kemudian, sesaat setelah Reya terkejut karena ia hampir menjatuhkan kepalanya—ketiduran.
“Besok minggu depan ulangan ya, anak–anak”. Kata sang guru seraya mengakhiri pelajaran. Reya melotot, tidak terima. Bagaimana bisa? Ini baru 2 kali pertemuan sang guru menjelaskan materi bab ini, dan langsung ulangan? Astaga. Sebenarnya bukan masalah waktu, masalahnya adalah Reya tidak paham sama sekali materi bab ini.
“Ahh rese emang ya, gak ngerti dah.”, maki Reya sembari memberesi buku di laci mejanya, beberapa teman sekelasnya yang masih bertugas piket menghadap ke arahnya.
“Kenapa, Rey? Dari tadi ngedumel mulu prasaan ya,”,  Sahut Elisa tiba– tiba.
“Yaiyalah, gimana gak ngedumel coba, emang kamu paham apa pelajaran Pak Wawan tadi? Ngasih rumus kagak, catetan juga kagak. Mana minggu depan ulangan lagi.”
“Yee.. main–main sama gue nanya begituan, kalo gue nih ya Rey, jelas.”
“Serius?  Yaudah besok aku main ke rumahmu ya El, ajarin matematika.”
“Jelas gak paham maksudnya, Rey.”
“Aelah, El. Kirain beneran paham.”
“Gak ngerti gue Rey, pemikiran guru–guru tuh suka aneh. Gue rasa tugas dan ulangan terus menerus tuh bikin otak lemot. Udah fisik cape, otak juga ikut dipaksa mikir. Gak efektif. Belajar hari ini belom paham udah ditambahin materi baru lagi. Ulangan sama tugas tuh cuma ajang pencarian nilai, bukan uji pemahaman. Paling–paling sebulan lagi lo lo semua juga udah lupa materinya. Lah, wasted amat.”
“Bodo amat, capek gue, El”, Reya menarik tas nya seraya keluar kelas.
“Lah, main pergi aja nih bocah, mau kemana, Rey?”
“Basecamp DA” , teriak Reya sambil lari menuju basecamp.
Basecamp sepertinya sudah menjadi tempat favorit Reya, setiap pulang sekolah  kalo belum ke BC dulu rasanya kurang lengkap. Sesampainya di basecamp Reya buru– buru menghempaskan tubuhnya di kursi—tidur. Hingga belum semenit Reya memejamkan mata sebuah tangan mengguncangkan tubuhnya.
“Rey, woi, bangun dong.”  Seseorang mengggoyang–goyangkan tubuhnya yang justru dibalas Reya dengan memperpulas tidurnya.
“Rey, 2 hitungan gak bangun, ember air melayang nih.”
Reya membuka paksa matanya, kawan di hadapannya ini kurang ajar sekali. Astaga. Belum semenit semenjak Reya memejamkan mata sudah dipaksa bangun.
“APAAN SIH AH, BARU SEMENIT BELUM ADA JUGA UDAH DIBANGUNIN.” Semprot Reya frustasi.
“Belum semenit apanya. Astaga. Liat tuh jam.” Rania melotot. Jam setengah 6.
“Oh yaudah,  maap deh.”
“Kebiasaan dah, tadi tuh HP mu bunyi terus, kayaknya mama-mu nelpon deh.”
“Terus kenapa gak kamu angkat?”
“Udah.”
“Terus?”
“Coba telpon balik deh, males ngejelasin.”
Reya segera mengambil ponselnya, mencari-cari kontak Mamanya di ponsel putih miliknya.
“Halo, ma ?” katanya sedetik setelah telepon diangkat
“REYAAA PULANG SEKARANG. TAU WAKTU DONG. KAMU TUH ANAK PEREMPUAN.”
“Ya.” Reya segera memutuskan sampungan telponnya. Bisa lebih parah kalau dilanjutin.
“BELIAA, ANAA. JAHAT BANGET YA SUMPAH.”
“Paan sih, Rey? teriak–teriak mulu”, kata Adrian yang tiba–tiba muncul di pintu basecamp.
“Tau tuh, nanya aja sama Belia sama Ana.”
“Rey, makan yuk”, ajak Adrian sambil berjalan ke arah Reya.
“Gak. Mau pulang.”
“Yaelah, Rey. Tumben jam segini udah balik.”
“Habis dimarahin, ga baik anak perempuan pulang malem.”
“Sok alim”
“Mending sok alim, daripada ngaku–ngaku alim.” Reya kemudian meninggalkan Basecamp dengan keadaan pikiran carut marut. Bertemu Adrian memang selalu membuatnya harus siap adu mulut ditambah lagi harus berhadapan dengan matematika. Matematika bukan bidang yang ia sukai. Sungguh. Ribet—pikirnya.
Senin pagi.
Jangan lupa senyum, Rey.
Reya tersenyum membaca pesan singkat itu, menolak membalasnya. Keadaan hatinya sedang buruk sekarang. 2 hari lagi ulangan matematika, dan Reya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak paham sama sekali bab yang disampaikan. Bukan tanpa usaha belajar—tapi memang tidak ada waktu. Sekolahnya memang disiplin sekali. Sampai sekolah harus jam 6.30 dan baru pulang pukul 3.00 sore dengan beban PR yang begitu banyak. Belum lagi urusan organisasi yang tidak bisa kelar dalam sehari. Sebenarnya Reya lebih suka organisasi—lebih santai. Gak menuntut. Tapi apa boleh buat? Sekolahnya tidak terlalu mendukung ekstrakulikuler atau organisasi berjalan.
“Kusut amat muka lo, Rey”, sapa Elisa ketika Reya baru sampe depan kelas.
“Frustasi. Sama matematika.”
“YaTuhan. Gausah dipikir–pikir amat kali, Rey. Hidup lo tu gak cuma tentang matematika.”
Reya hanya diam. Terlanjur frustasi, Ia segera mengambil Novel di pojok kelas—membacanya. Berhenti ketika jam sudah menunjukkan waktu untuk upacara. Seharian ini ia melewati pelajaran dengan keadaan hati yang tidak terlalu buruk. Pulang sekolah seperti biasa ia segera berlari menuju basecamp—bukan lagi untuk tidur.
“Hai, Rey”, sapa Adrian ketika Reya memasuki basecamp. Reya mengkerut, ia benar – benar tidak mau bertemu Adrian hari ini, semalam ia habis adu mulut melalui WhatsApp.
“Pa? gausah sok nyapa. Belia, ayo buruan, ntar keburu mulai”, Balas Reya kemudian.
“Pada mau kemana?”, Potong Adrian kemudian.
“Reya mau masuk ke hati lo tuh, Yan.” Canda Belia.
“Cuih, Ogah.”, Balas Reya cepat sambil meninggalkan basecamp, Belia buru–buru mengejar di belakangnya.
Sore ini, Reya dan Belia mengikuti pelatihan SAKA (Satuan Karya) Bakti Husada—kesehatan. Ini merupakan komunitas bakti masyarakat dalam PRAMUKA. Entah mengapa, Reya lebih suka kegiatan seperti ini, dibanding harus memperhatikan pelajaran matematika—membosankan—pikirnya. Reya sungguh menikmati momen ini. Ketika ia bisa belajar tentang sesuatu hal yang berbeda dari teman-temannya. Bukan tentang pelajaran di kelas, tapi tentang pengabdian. Tentang bagaimana kita harus menolong orang lain tanpa pamrih. Reya tidak pernah tau—bahwa esok hari pengalaman inilah yang justru membawanya ke kesuksesan.

Rabu.
Reya memasuki ruangan kelas dengan jalan yang super cepat. Astaga. Hari ini ulangan matematika. Entah kenapa, Reya takut sekali dengan pelajaran ini. Semalam Reya sudah mengerjakan soal—sungguh, Reya tidak berbohong. Bahkan ia belajar selepas maghrib hingga jam setengah 2 pagi. Ditemani 2 cangkir kopi yang membuatnya betah membuka mata hingga pagi. Reya sudah percaya diri sekali bisa mengerjakan soal–soal yang diberikan.
13.30.
Pak wawan benar–benar masuk kelas. Mereview materi sebentar—kemudian menyuruh  murid-muridnya mengeluarkan selembar kertas. Reya sumringah, dia yakin sekali. 2 menit kemudian Pak Wawan sudah sibuk membagikan lembar soal. Reya sudah selesai menuliskan nama ketika selembar soal sampai di mejanya. Cepat–cepat Reya membukanya. Langsung mengerjakan nomor satu.
5 menit berlalu. Coret–coretan Reya penuh. Nihil. Reya tidak menemukan jawaban nomor satu, angkanya aneh. 10 menit kemudian Reya sudah pindah mengerjakan nomor dua—tentu saja meninggalkan nomor satu. Tapi sama saja, Nihil. Rumusnya mentok—tidak ketemu jawabannya. Reya melanjutkan ke nomor tiga, gambar kubus di hadapannya sudah seperti melayang–layang. Soal dihadapnnya benar–benar membuatnya frustasi. Keringat dingin sudah membasahi bajunya. Bagaimana bisa? Semalam ia sudah berusaha keras belajar mati–matian. Semua soal ditebas habis olehnya, dan sekarang? Astaga. Lima soal dihadapannya seperti berlipat ganda menjadi lima puluh.
Sedetik kemudian matanya tak sengaja melirik jawaban milik Seva—teman sebangkunya, tapi kemudian Reya sadar. Dia harus mengerjakan sendiri.
Ya Allah, Reya sudah belajar tadi malam. Reya sungguh sudah belajar. Ya Allah, Reya sungguh tidak ingin mencontek, Reya percaya Allah sudah melihat Reya berusaha, bantu Reya Ya Allah.
Waktu berakhir ketika Reya selesai menjawab soal nomor lima—jawaban seadanya. Pak Wawan segera mengambil jawaban, membagikan acak kembali jawaban–jawaban para siswanya. Langsung koreksi. Reya mengeluh, moodnya sudah sangat buruk kali ini. Seva disampingnya juga terlihat frustasi, tapi bedanya tidak panik seperti Reya. Pak Wawan segera menuliskan jawaban lengkap dengan caranya di papan tulis—Reya sudah seperti ingin menangis kali ini. Jawaban yang ia tulis hanya ada 2 nomor yang benar–benar sama persis  seperti tulisan Pak Wawan. Dan hasilnya? Astaga. Bahkan nilai Reya tidak melebihi angka enam. Pulang sekolah Reya segera lari ke basecamp, ia tidak peduli ada siapa saja disitu. Melempar tasnya ke meja dan membanting tubuhnya ke kursi—menunduk—kemudian tangisnya benar – benar pecah.
Adrian, Belia, Maya, Rizki yang sudah ada di meja bundar tersebut tersentak. Reya menangis—seorang Reya yang biasanya cuek–cuek saja kali ini menangis. Maya dan Belia segera mendekat ke arah Reya. Mengelus–elus puncak kepalanya—bertanya kenapa. Yang ditanya justru seenggukan—bingung menjawab apa. Rizki hanya melihat aksi di depannya itu, sementara Adrian malah keluar basecamp entah kemana.
Setengah jam setelahnya, Reya sudah mulai tenang—yang justru malah ketiduran di meja basecamp. Tidurnya pulas sekali. Satu jam setelahnya Reya terbangun, kepalanya berat sekali. Matanya juga susah dibuka. Dan kesalnya lagi—orang pertama yang dilihatnya justru Adrian. Ah, sial—pikirnya. “Tidurnya pules amat, tadi ada gempa loh”, Adrian yang melihat Reya bangun langsung menyelutuk.
“Nih, minum dulu, gausah jaim. Gue tau lo haus”, kata Adrian sambil menyodorkan segelas  teh hangat. Reya meneguknya perlahan.
“Yang lain kemana? Tumben basecamp sepi.”
“Pada cari bahan buat kemah bulan depan, yang disini tinggal gue, elo, Maya, Rizki, sama Sisil tuh di depan.”
“Terus lo ngapain disini?”
“Liatin lo”
“Oh.”
“Ngapain nangis?”
“Ngg..” Reya hendak menjawab ketika tiba – tiba beberapa kawannya masuk ke basecamp.
“Udah bangun Rey?” “Kenapa Nangis Rey?” dan beberapa pertanyaan lain yang serentak disodorkan kepada Reya.
“Gapapa” Jawab Reya pendek.
“Gausah sok gapapa lo Rey, nangis tuh pasti ada alesannya.”, Kata Adrian sewot yang dibalas pelototan Reya. Ia sungguh tidak ingin bertengkar hari ini.
“Iya, Rey. Cerita lah. Kita kan keluarga.”
“Ngg.. gausah deh.”
“Siapa tau kita bisa bantu, kamu gak percaya sama keluarga sendiri, Rey?”
“Eh.. bukan gitu.”
“Yaudah, makanya cerita.”
“Ngg.. ya intinya aku kecewa.”
“Widihh.. ngeri nih Reya. Kecewa sama Adrian  ya, Rey?”
“Apaan bawa–bawa nama gue.”, Adrian yang merasa terpanggil namanya membela diri.
“Sama matematika.”
“Napa emang matematika?”
“Dari dulu tuh, gue selalu merhatiin pelajaran matenatika. PR juga selalu gue kerjain—meskipun banyak nanya. Kalo ulangan juga belajar sampe malem dan gue rela gak belajar pelajaran lain demi matematika. Dan hasilnya? Nilainya udah kayak anak kecil belajar berhitung. Empat lima paling mentok di enam. Gue tuh jadi ngerasa—bodo banget gitu ya. Salah apa coba? Apa iya harus pake nyontek biar hasilnya bagus?”
“lo salah besar, Rey..” Potong Adirian langsung.
“..Lo jangan pernah sekalipun nyontek—dengan cara apapun. Lo emang bisa puas setelah tau nilai lo bagus. Tapi setelahnya—lo akan bener–bener nyesel. Sebenernya bukan cuma itu yang gue takutin. Gue takutnya lo sekali nyontek akan ketagihan nyontek terus, Rey—kebiasaan ngandelin orang lain. Gimanapun,  nyontek itu sama aja korupsi.”
“Ya, tapi nilai matematika gue jelek terus, mama gue bisa koor Indonesia raya tiap pagi ke gue.”
“Matematika doang kan? Pelajaran lain baik–baik aja kan? Biologi misalnya. Lo gak harus pinter matematika buat jadi dokter, lo gak harus pinter matematika buat jadi presiden. Lo tau aja udah cukup. Gak semua pekerjaan tuh nuntut pinter matematika, Rey. Kesalahannya adalah..”
“Apa?”
“Kita hidup di negara yang memandang kecerdasan siswanya dilihat dari nilai matematika mereka. Sementara bapak gue SMA aja gak lulus, tapi sekarang? Bisa jadi pengusaha sukses.”
“Tapi gue udah usaha buat dapetin nilai bagus.”
“Hasil tuh ga selalu bisa dilihat sekarang. kalo nilai matematika lo jelek itu gak usah sepaneng—hidup lo gak selalu tentang matematika. Ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa dihitung secara matematis. Kerja keras misalnya.”
“Tapi orangtua gue, selalu ngeliat hasil, tanpa ngeliat gimana usaha gue ngedapetinnya. So, itulah yang ngebuat gue kepikiran buat nyontek.”
“Hah, dengan cara kayak begitu lo yakin masa depan lo bagus ? Rey, kalo lo mau punya masa depan yang cerah, yang bagus, kenapa harus pakai cara yang jelek buat ngedapetinnya?  Norak, Rey.”
Adrian terdiam sejenak. 2 detik kemudian melanjutkan kata–katanya.
“... Lo tiap pulang sekolah seminggu 2x ikut saka, tiap sabtu lo bantuin orang–orang di buat sosialisasi kesehatan. Malemnya, lo masih maksain diri buat belajar. Di usia lo segini, lo udah belajar mengabdi tuh udah keren. Percaya sama gue. Tuhan gak buta, Rey. Tunggu 5 sampe 10  tahun lagi. Apa yang akan terjadi di kehidupan lo.”
Skak mat—semua perkataan Adrian (mungkin) benar. Teman–teman Reya diruangan itu melongo—selama ini mereka tidak tahu bahwa Adrian bisa sebijak itu. Sementara Reya hanya terdiam—merenungi apa yang dikatakan Adrian—yang justru semakin ia membantah, hatinya berkata semua perkataan Adrian benar.
“Inget, Rey. Gaada satupun usaha yang sia–sia. Hasil gak akan menghianati kerja keras”, Kata Adrian ketika mengakhiri kalimatnya.
Sore itu langit cerah—tanpa awan. Semoga pertanda baik.
Jakarta, 2022
Reya hendak melepaskan jas dokter miliknya ketika asistennya mengatakan bahwa masih tersisa satu pasien lagi. Reya mengangguk mengiyakan. Tersenyum ketika seorang pasien masuk ke ruangannya dengan memakai masker. Mungkin flu—pikirnya.
Pasien itu duduk di hadapan Reya. Reya hendak bertanya sontak terkejut ketika pasien di depannya membuka masker.
Ini Adrian, kan?
“Adrian?”, kata Reya dengan nada bertanya, yang dipanggil justru cekikikan.
“Santai aja keles mukanya, Rey. Jadi gimana? Kata Gue dulu bener, kan?”
Reya tertawa.
“Jadi lo jauh–jauh kesini Cuma mau nyampein itu doang? Rese lo, ah.”
Adrian ikut tertawa.
“Kalo iya kenapa?”
“Thanks a lot, Yan. I was so lucky to have a friend like you.”, Kata Reya sambil tersenyum.
“Lebay, lo.”, Balas Adrian beberapa detik kemudian dan membuat sontak mengerucutkan mulutnya dan memukulkan bantal leher dibelakangnya pada Adrian.
Dan lagi, seperti bernostalgia, mereka justru kembali bertengkar seperti hari – hari di tujuh tahun lalu.



Karya : Hafidhania Penadi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kasih Yang Terpendam
Musim mulai berganti. Begitu pula dengan seragam putih biru yang kini mulai berganti menjadi putih abu-abu. Namaku Rinta Ayu Lesmana, aku seorang gadis remaja 15 tahun yang duduk di kelas 9 SMP. "Rin gimana masih pusing nggak?", tegur seorang gadis berambut panjang. Gadis itu adalah Nindya Kusuma. Sahabat yang sangat tahu tentang diriku. Kami sudah bersahabat dari 3 tahun yang lalu. "Nggak papa kok Nin,  ini udah agak mendingan." Kami sedang berada di sebuah bus yang menuju ke kota kelahiranku yaitu Yogyakarta. Sekolah kami baru saja melakukan kegiatan study tour ke Bandung sejak 2 hari yang lalu. Kegiatan study tour ini merupakan agenda terakhir di akhir semester ini. Kondisi tubuhku saat ini memang sedang tidak sehat. Nindya duduk disampingku selama kami berada di dalam bus. Dia selalu merawatku, ketika aku merasa mual atau pusing, dia adalah orang yang terus menemani dan memberi semangat padaku.
Nindya sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Kini tiba saatnya kami harus menjalani ujian akhir nasional. "Eh Rin kamu pengen nerusin kemana nanti?", tanya Nindya kepadaku. "Kalau bisa, aku ingin sekali sekolah di SMA 3 Jogja, kalau kamu rencananya mau kemana?", jawabku dengan kembali melempar pertanyaan. Kulihat wajah Nindya tertunduk lesu dan dengan pelan keluar suara, "Sepertinya aku akan melanjutkan sekolah ke Bogor Rin." Aku terbelalak mendengar ucapan Nindya, perlahan air mata membasahi pipiku. Aku tak sanggup membayangkan kenyataan yang akan kuhadapi, sahabat yang selama ini ada menemani hari-hariku dengan sekejap mata akan pergi untuk meneruskan masa depannya jauh dari kota ini. Bibirku mulai bergetar seiring ucapan keluar dari mulutku, "Kalau kamu beneran mau ke Bogor, jangan lupain aku ya Nin, kita udah lama sahabatan kayak gini." Dengan seketika Nindya memelukku sangat erat, air mata membasahi wajahnya. "Pasti Rin, aku nggak akan lupain kamu. Aku yakin suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi, main bareng, ngobrol bareng dan banyak lagi." Kelamnya senja sore itu seolah mengerti akan perasaanku dan Nindya.
Tak pernah kusangka bahwa sore itu adalah pertemuan terakhirku dengan Nindya, karena keesokan harinya Nindya sudah berangkat ke Bogor. Berat rasanya memulai masa putih abu-abuku tanpa Nindya, sahabat terdekatku. Di SMA baruku ini memang banyak teman-teman yang sangat baik padaku, namun tak satupun dari mereka yang lebih mengerti tentang diriku kecuali Nindya. Hari demi hari kulalui dengan berbagai macam hal baru. Ada masanya aku mulai tertarik dengan seorang pria, namun tak lebih dari cinta monyet anak SMA. Tak terasa kini seragam putih abu-abu sudah akan kutanggalkan. Kini aku sudah beranjak menjadi gadis dewasa. Aku tidak pernah lupa pada Nindya, sahabat masa SMP-ku. Sudah setahun ini aku tidak berkomunikasi dengannya lagi. Rasanya berat, apa mungkin Nindya sudah bosan ataukah dia sudah lupa denganku? Yang jelas, kini kami sudah menjalani kehidupan kami sendiri-sendiri tanpa saling mengetahui satu sama lain.
Kini tiba saatnya aku harus belajar ekstra keras untuk bisa meneruskan masa depanku di universitas yang aku inginkan. Sebuah universitas terkemuka di Jogja, yaitu Universitas Gadjah Mada. Aku mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas yang menunjang kegiatan belajarku. Pagi ini aku memulai hariku dengan semangat karena hari ini adalah hari seleksi untuk masuk UGM dengan tes. Aku mandi dan segera menuju UGM. Rasanya mendebarkan, soal-soal yang harus kukerjakan lumayan sulit, namun aku harus tetap optimis. Aku mendaftar jurusan Akuntansi di UGM. Setelah selesai melakukan tes itu, aku menuju parkiran kampus untuk mengambil motorku dan segera pulang. Tiba-tiba, "Bruuk . . .", aku terjatuh ke lantai. Kulihat seorang laki - laki berbadan tegap dan tinggi sedang merapikan buku-bukuku yang berserakkan di lantai. "Eh maaf mbak saya nggak sengaja, nih buku-bukunya." ucap lelaki itu dengan sopan. Aku segera berdiri dan menjawab, "Iya mas, nggak papa. Lain kali hati-hati aja." ucapku dengam senyum lalu aku berjalan meninggalkan laki-laki itu. Aku mulai mengendarai motorku dan meninggalkan kampus itu, di perjalanan kulihat lelaki yang tadi menabrakku di kampus itu sedang berjalan bersama seorang wanita di sebelahnya. Wanita itu berkacamata dan seolah aku sudah tidak asing lagi dengan wajah wanita itu. "Ah mungkin itu temannya." ucapku sambil meneruskan perjalanan.
"KRIIIINGG . . . . .  KRIIING . . .", bunyi alarm di kamarku. Hari ini tanggal 21 Februari 2016, hari saat hasil tesku akan diumumkan di UGM. Dengan bersemangat, aku mulai merapikan diri dan berangkat ke UGM. Disana sudah riuh oleh calon mahasiswa yang juga ingin melihat hasil tes mereka. Perlahan aku menyusup gerombolan orang-orang yang berjubel di depan papan pengumuman. Setelah berjuang keras, akhirnya aku mencapai papan pengumuman tersebut, ku fokuskan pandanganku pada sebuah kertas yang tertempel di depan mataku. "Yeeeeee . . . ." , teriakku setelah aku mendapati namaku tertera disana sebagai daftar mahasiswa yang diterima di jurusan Akuntansi UGM. Saat itu aku dengan spontan memeluk orang di sebelahku. Setelah aku tersadar, aku segera melepaskan pelukan itu. " Ehh ehhh maaf mas, saya terlalu senang tadi makanya jadi begitu." Lelaki itu menjawab, " Lhoo mbak kan yang kemarin bukunya jatuh gara-gara saya tabrak kan. Senang bisa ketemu sama mbak lagi.
 Aku tersentak bahwa ternyata lelaki yang kupeluk tadi tidak lain adalah lelaki yang dulu pernah membuat buku-bukuku jatuh. "Eh iya mas. Sekali lagi maaf ya." Ucapku dengan sedikit gugup. " Iya mbak, nama mbak siapa?", tanya lelaki itu dengan mengulurkan tangannya. "Nama saya Rinta.", jawabku dengan tersenyum sambil membalas uluran tangannya. "Saya David mbak. Salam kenal." Balasnya dengan senyuman manis.
Dalam sekejap kurasa ada sebuah rasa masuk dalam hatiku. Entah apakah itu. Hari-hari selanjutnya David selalu terbayang diingatanku. Apalagi David sangat baik padaku. Kami sering bertemu di kampus secara tidak sengaja.
Sore ini aku harus mengantar ibukku ke rumah makan temannya untuk memesan makanan. Sesampainya di rumah makan itu, aku tertarik dengan sebuah rumah dengan kebun terbuka di pelatarannya. Kebun itu dipenuhi macam-macam bunga dengan kolam ikan dibagian tengahnya. Kulihat ada seorang gadis sebayaku sedang menyiram bunga di salah satu sudut taman itu. Kusapa gadis itu, "Wah bunga nya bagus-bagus mbak." Gadis itu membalikkan badannya. Dan ternyata, aku sangat kaget dengan apa yang kulihat di depan mataku. "Nindya, ini beneran kamu?", kulihat gadis itu juga kaget namun setelah itu dia tersenyum padaku lalu memelukku dengan erat. Tak pernah kusangka bahwa kami akan bertemu disini. Kami kembali meneteskan air mata seperti pada saat kami akan berpisah. Aku dan Nindya mulai berbincang-bincang seperti dulu. "Apa kabar Rin kamu?", tanya Nindya. "Aku baik- baik aja Nin, kamu sendiri gimana Nin?", "Aku juga baik-baik aja Rin." Semenjak pertemuan itu hubungan persahabatanku dengan Nindya kembali terjalin baik seperti dulu. Apalagi belum lama ini aku tahu bahwa Nindya juga sudah kembali ke Jogja dan juga kuliah di UGM.
Hari ini aku sangat lapar setelah mengikuti beberapa mata kuliah. Aku sudah resmi menjadi mahasiswa di UGM. Aku segera menuju kantin dan kulihat disana ada David yang sedang memesan minuman. Dengan sengaja aku memilih tempat duduk di sampingnya. "Hallo Vid, kok sendirian?", David segera menoleh ke arahku, " Iya Rin, nggak ada temen nih, habis lihat pengumuman." Saat David mengatakan itu, pandanganku tertuju pada handphone David yang tepat berada di depanku. Kulihat layarnya, " Deg . . ." jantungku mulai berdebar kencang. Kuberanikan diri untuk bertanya pada David, "Vid kalau boleh tau, cewek ini siapa?". David segera membuka ponselnya dan melihat foto yang kumaksud itu sambil tersenyum manis seolah pikirannya menerawang jauh entah kemana. "Oh ini, ini pacarku Rin. Namanya Nindya, saat ini dia sedang sakit-sakitan, ini alasan kenapa selama ini aku yang sering ke kampus ini untuk mencarikan dia info. tentang kampus ini. Aku sangat menyayanginya. Kasihan dia akhir-akhir ini dia harus bolak-balik ke Rumah Sakit untuk menyelesaikan pengobatannya." Dalam sekejap, ada rasa memasuki jiwaku, kurasakan semua perasaan yang selama ini kubangun untuk David seketika runtuh. Aku tak tahan mendengar kata-kata David yang menceritakan tentang Nindya, sahabat terdekatku. Rasanya sakit. Kuputuskan untuk aku pergi dari kantin itu, "Vid, maaf ya aku harus pergi." Aku segera berlari menuju taman kampus, disana air mataku tak terbendung lagi. Tak pernah kusangka bahwa ternyata David adalah kekasih Nindya, sahabat yang baru saja aku temui kembali.
Handphone-ku berbunyi saat aku masih ada di taman kampus. Tertera di layarku tulisan "Sahabatku Nindya". Segera kuhapus air mataku dan aku mulai bicara, "Hallo Nin, ada apa?", mulai terdengar suara dari ujung telepon, "Begini Rin, besuk kamu datang ke rumahku ya jam 7 malam." Suara itu terdengar sangat bahagia dengan sedikit tawa. Jawabku, "Memangnya ada acara apa Nin?"
Sejenak tak terdengar suara dari telepon itu, "Aku mau tunangan sama pacarku Rin, namanya David. Besuk kukenalin sama kamu deh, yang penting kamu datang ya." Air mataku kembali jauh.  Dengan segera aku menjawab, "Iya Nin, aku akan datang." Segera ku matikan handphone-ku. Perasaanku serasa dihantam sesuatu yang tak mudah untuk aku jelaskan.

 Tiba malam dimana pertunangan Nindya dan David akan digelar. Aku datang dengan membawa kado untuk Nindya. Sebenarnya masih berat untuk aku menerima kenyataan ini. Namun aku berusaha ikut bahagia atas kebahagiaan sahabat terdekatku yaitu Nindya. Sampai tiba hari pertunangan itu, tak ada seorang pun yang tahu jika sebenarnya aku menyimpan perasaan terpendam pada David.

Karya : Dyah Cintya Paramita
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Berawal dari Tatap
Ini adalah sebuah sebuah kisah yang aku alami selama usiaku 16 tahun. Aku bernama Rachel Mutia Permata dan aku biasa dipanggil Rachel. Aku adalah anak dari 2 orang bersaudara, aku mempunyai satu orang kakak yang sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di Jogja. Masa kecilku berbeda dari masa kecil dari orang pada umumnya. Dahulu ibuku tidak percaya bahwa ia akan mempunyai anak yang kedua, karena memang aku tidak direncanakan dan ibuku tidak mau mempunyai anak terlebih dahulu. Namun, akhirnya orangtuaku pergi ke seorang pendeta di gerejaku. Pendeta itu menasihati orangtuaku hingga orang tuaku mau menerimaku. Pada suatu malam ibuku berdoa kepada Tuhan, ibuku berkata kepada Tuhan kalau ia akan ditempatkan sebagai guru di suatu desa pelosok dan mengapa Tuhan memberi anak? Namun, Tuhan menjawab kalau anak itu sebagai teman ibuku di desa pelosok tersebut tepatnya di Pekalongan. Hingga akhirnya ibuku menerima dan bersyukur pada Tuhan. Dan memang rencana Tuhan itu indah. Banyak kenangan selama aku kecil di Pekalongan, mulai dari sulitnya mencari air, membeli kebutuhan rumah, dan harus berpisah dengan Ayah dan kakakku. Hingga akhirnya pada tahun 2005 aku bisa pindah di Klaten dan berkumpul bersama keluargaku hingga saat ini.
Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya aku tumbuh menjadi gadis remaja.  Banyak pengalaman manis, pahit yang aku rasakan. Mulai dari aku mempunyai sahabat dan aku mengenal apa itu jatuh cinta. Suatu saat ketika aku masih SD kelas 6, aku pernah dicomblangin dengan Miko cowok kelas sebelah, karena waktu itu aku 6B dan Miko 6A dan tau nggak yang nyomblangin aku adalah guruku yang bernama Pak  Hasan. Dulu, kerap kali Miko suka main ke kelasku dan pura-puranya mau ketemu Pak Hasan. Tapi tiba-tiba Pak Hasan bilang kalau Miko mencariku, pernah juga Pak Hasan minta no hpku, katanya sih yang minta Miko. Pernah suatu saat Miko menembakku lewat SMS, terus aku bilang nih sama Miko kalau aku nggak mau jawab. Dan katanya guruku lagi, saat Try Out nilai Miko jelek karena mikirin aku. Ya itulah cinta monyet, cinta yang hanya berlangsung seperti membalikkan telapak tangan, dan ketika SMP, aku sudah tidak berhubungan dengan Miko hingga saat ini.
Sekarang aku sudah menjadi anak SMA, berkat usaha belajarku akhirnya aku diterima di SMA yang aku inginkan, yaitu SMA Intan Cerdas Klaten. Kata orang masa SMA itu masa yang paling menyenangkan. Tapi, apakah ini benar? kataku dalam hati, sambil memandangi pemandangan di samping jendela tempat tidurku sebelum aku mulai menjalani masa SMA ku di Intan Cerdas.
Hal pertama sebelum pembagian kelas, ya MOS (Masa Orientasi Siswa). MOS adalah masa dimana aku melewati cobaan hidup hahaha, karena di masa ini aku harus menguncir rambutku sebanyak 18 seperti angkatanku, yaitu angkatan 18. Pernah suatu ketika aku menerima hukuman dari kakak OSIS karena kaos kakiku kurang tinggi. Aku  sebenarnya sangat takut saat itu, namun tak disangka Michael teman SMP ku juga dihukum dan berdiri di samping ku. Meskipun aku dihukum, aku tetap menikmati dan mengambil nilai positif yang didapat, hingga akhirnya MOS pun selesai.
Pertama kali aku masuk kelas, disitulah ceritaku di X MIPA 3 dimulai. Hari pertama masuk sekolah ya seperti biasanyalah anak pasti diem, jaim, dan sok kalem gitu kaya udah kelas anak baik-baik. Seminggu kemudian mulai sedikit terbongkar dari anak-anak ini ada yang bandel, usil, suka ketawa sendiri, caper sama guru minta jadi menantunya pun ada, lengkap pokoknya. Bulan demi bulan aku lewati, makin lama semua makin akrab seperti satu keluarga, tiap hari bertemu, belajar bareng, main bareng, semuanya bareng. Di SMA tersebut aku juga mempunyai sahabat, dia sangat baik dan sangat perhatian denganku. Tiap hari ngrumpi bareng, ketawa bareng, ke WC aja bareng heheeh. Sahabatku itu bernama Lea.
Saat SMP, aku punya teman cowok yang sangat dekat sekali denganku, dia bernama Michael, ya dia yang dihukum bersamaku ketika MOS dulu. Ketika aku tau kalau Michael satu SMA denganku, aku sangat senang karena aku sebenarnya tertarik dengan Michael, namun sayang Michael tidak satu kelas denganku, Michael ada di X MIPA 2. Ya meskipun jarak kelasnya dekat, namun tetap membuatku kecewa.
Beberapa bulan ku lalui, kini tiba saatnya ulang tahun sekolahku. Saat ulang tahun tersebut, sekolahku mengundang band terkenal di Indonesia. Aku sangat senang dan gila-gilaan asik loncat sambil bernyanyi, ya jujur aja ini baru pertama kalinya aku melihat artis secara langsung.
Satu semester aku lalui, ya meskipun nilainya pas-pasan tidak membuatku menjadi patah semangat. Aku juga akhirnya berkomitmen semangat untuk berangkat les. Ya inilah dampak anak yang menggunakan kurikulum 2013, anak harus belajar sendiri, belum lagi pulangnya juga sore, yaitu sekitar jam 15.00 WIB, belum lagi les sampai jam 18.00 WIB, sehingga sampai di rumah sekitar pukul 18.30 WIB. Sampai di rumah juga harus belajar lagi. Ini terkadang membuatku mengeluh. Namun, ini harus aku jalani demi masa depanku.
Dari tahun ke tahun, dari SD sampai SMA ini aku selalu dicomblangin dengan salah satu cowok di kelasku. Tau sendiri kan waktu SD aku dicomblangin sama Miko. Hal itu juga terjadi ketika SMA ini. Saat di SMA aku dicomblangin dengan Willy, cowok keturunan Jawa dan Cina dengan postur tinggi dan gagah. Namun aku biasa saja tak ada perasaan dengan Willy. Aku sebenarnya masih ada rasa dengan Michael, namun sepertinya Michael tidak mengetahuinya. Salah satu hal yang membuatku senang adalah ketika aku bertemu dengan Michael secara tidak sengaja di jalan.

Rachel             : “Lea, ayo cepetan pulang, udah mau hujan nih!”
Lea                  : “Iya sabar bentar dong, ini beres-beres.”
Rachel             : “Aku tunggu di luar kelas ya?”
Lea                  : “Oke.”
(Beberapa menit kemudian...)
Lea                  : “Ayoo Hel!”
Rachel             : “Ayoo, hih lama banget.” (sambil menggerutu)
(Aku dan Lea berjalan ke arah luar gerbang, tapi aku masih menggerutu karena menunggu Lea yang sangat lama. Tiba-tiba saat di lampu merah, Michael datang dari belakang)
Michael                       : “Rachel.”
(Aku sangat kaget dan wajahku sangat senang. Aku juga tak sengaja menatap Michael, begitupun Michael yang menatapku kembali)
Rachel             : “Hai Michael”
(Mikhael pun tersenyum dan melanjutnya berjalannya)
Lea                  : “Ehem... kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih.”
Rachel             : “Apaan sih.” (Jawabku dengan wajah malu-malu)
Kejadian seperti itu kerap kali membuatku melting, ya tau sendirilah ketemu cowok yang kita suka, apalagi dulu waktu SMP pernah diboncengin Michael dari rumah Michael sampai ke sekolah. Di lain pihak ada Willy yang dicomblangin denganku, namun aku tetap setia dengan Michael meskipun Michael belum mengetahui perasaanku sampai sekarang.
 Hari berganti hari, perasaanku mulai bercampur aduk antara cinta dan persahabatan. Lebih lagi ceritaku dengan Michael yang tiap hari pasti ketemu dan pasti juga aku disapa Michael, hal itu membuatku semakin sulit melupakan Michael. Suatu ketika di saat jam istirahat aku tiduran di bangku tempat dudukku sambil menghadap jendela sebelah kanan kelas, karena aku sangat capek belajar di kelas. Di lain pihak, Lea melihat Michael yang memandangiku dari jendela sebelah kiri. Namun, aku tak mengetahui hal itu. Sepulang sekolah Lea bercerita itu semua kepadaku, ia menceritakan dengan detail kejadian ketika jam istirahat tadi. Aku langsung berbunga-bunga dan rasanya GR (Gede Rasa) banget, namun aku tidak begitu saja percaya apa yang dikatakan Lea, bisa saja Lea hanya membuatku GR.
Hingga akhirnya tiba bulan Februari tepat tanggal 14. Aku sangat badmood banget di hari itu karena aku tidak mendapatkan sesuatu yang spesial di hari itu, beda dengan temanku yang lain yang mendapat coklat, bunga, atau boneka. Tapi aku? Sekalipun tak pernah. Dengan wajah kesal aku berangkat sekolah. Aku mengikuti semua pelajaran dengan menggerutu. Di lain pihak banyak temanku yang mendapatkan sesuatu dari pacar ataupun sahabatnya. Bel pulang pun berbunyi, dengan menunduk aku berjalan keluar sekolah. Hingga tiba dirumah, aku langsung membaringkan tubuhku di tempat tidur. Beberapa menit kemudian Hpku berbunyi, aku bangun dan mencari Hpku di dalam tas, tiba-tiba aku menemukan sebuah bunga mawar merah dan satu buah coklat. Aku sangat senang sekali, aku pikir itu pemberian Lea. Kemudian aku langsung bertanya kepada Lea tanpa menghiraukan pesan darinya terlebih dulu. Tapi, Lea berkata kalau itu semua bukan pemberian Lea. Dalam hari aku bertanya-tanya, ”Ini milik siapa? Mengapa tidak ada namanya?”. “Apakah ini dari Willy?”, kataku dalam hati.
Hari berikutnya aku masuk sekolah dan masih bertanya-tanya tentang orang misterius itu. Dan pada saat pelajaran aku meminta ijin ke kamar mandi kepada guru. Tak disangka aku bertemu Michael ketika aku berjalan menuju ke kamar mandi. Langsung Michael menyapaku dan memberiku sebuah kertas. Michael berkata, “Tolong dibuka sebelum pulang sekolah ya.” Dengan kaget aku menjawab, “Emang isinya apa?”. “Buka sendiri saja”, jawab Michael. Michael pun langsung pergi meninggalkanku dan aku melanjutkan berjalan ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku langsung membuka surat dari Michael. Isi surat itu, “Nanti sepulang sekolah kita ketemuan di Taman Lampion ya.” Aku senang sedikit kaget, sebenarnya apa yang terjadi?. Aku pun langsung kembali ke kelas dan menceritakan kepada Lea.
Bel sekolah pun berbunyi, aku masih ragu dengan ajakan Michael tadi, tapi Lea menguatkanku dan menyuruhku segera pergi ke Taman Lampion. Aku pun menuruti perintah Lea, dengan hati deg-degan aku munuju di Taman Lampion, dari kejauhan aku melihat Michael yang sudah menunggu di sana. Michael pun tersenyum dan memanggilku. Aku pun menghampirinya dan tiba-tiba Michael memberiku mawar merah dan dia menembakku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bertanya kepada Michael, ”Apakah kamu yang memberiku coklat dan sebuah bunga mawar di hari valentine itu?” jawab Michael, “Ya itu semua aku yang memberikan untukmu, dan asal kamu tau, aku sebenernya suka kamu sejak pertama kali kita bertemu saat SMP, tapi aku hanya diam dan kamu tak pernah tau itu. Sebenarnya aku tau kalau kamu juga suka sama aku. Dan ini saatnya aku menyatakannya.” “Aku bingung, tapi aku suka kamu. Ya aku terima kamu.” Jawab Rachel.

Sejak saat itu kita mulai bersama-sama, terkadang Michael mengantarkanku pulang ke rumah dan kita juga belajar bersama. Aku tak tahu hubungan kita selanjutnya. Tapi ini semua berawal dari tatap saat kita bertemu.

Karya : Brihana Nugraheni
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
RENALDI
Hari pertama masuk SMA, Rena sekilas melihat seorang cowok duduk di bangku paling depan. Ada sesuatu yang menarik dengan cowok itu, Andre, di benak Rena. Entah mengapa itu muncul tiba-tiba. Ada sesuatu yang berbeda. Lama-kelamaan Rena mengagumi Andre. Ia mengagumi mulai dari cara bergaul dengan teman dan sikapnya dengan perempuan. Mereka berdua mulai akrab. Hari-harinya telah dilalui.
Tak ada seorang pun yang mengetahui jika Rena menyukai Andre. Tapi lama-kelamaan teman sekelas mereka tahu. Di sini ada satu hal yang diharapkan Rena. Andre tak menyukai sikap teman-temannya. Semakin bertambah hari banyak yang mengejek “Rena-Andre, Andre-Rena”. Andre semakin menjauh dari Rena. Setiap kali ada hal tentang Rena,  Andre tak menyukai dan  malah menjauh.
Suatu ketika, Aldi, cowok hits di sekolahnya menulis “Rena-Andre” di buku Rena dan Andre. Tak hanya itu, ia juga menulis nama “Rena” di pakaian OSIS Andre dengan spidol ketika ia sedang olahraga. Andre tak tahu siapa yang menulis di pakaiannya itu.
Rena melihat namanya ada pakaian OSIS Andre. Ia menduga Aldi yang menulis karena tak ada orang sejail itu di kelasnya. Dari situ, justru Rena lah yang merasa bersalah dengan Andre. Semenjak itu Rena menyadari, ia merasa Andre semakin terbebani semenjak Rena hadir di kehidupan Andre.
Mereka bedua semakin renggang.
Rena mulai tak menyukai Aldi.
Sebulan berlalu. Bel istirahat berbunyi. Rena mengambil uang saku di tasnya. Ada hal yang aneh. Dalam tasnya ada amplop pink. Rena curiga. Kedua mata Rena memandangi semua yang ada di kelas, agar tak ada yang mengetahui. Rena menarik Nisa untuk diajak ke kamar mandi. Dibukalah amplop tadi.
Rena ragu membuka amplop itu. Ia malu dengan Nisa sekaligus bimbang. “Nis…” bisik Rena dengan amplop yang masih digenggamannya. “Buka aja Ren nggak usah malu-malu. Di sini nggak ada siapa-siapa.”, bujuk Nisa. Rena terdiam dan menunduk. Perlahan ia membuka amplop itu. Rena tak menyangka. Itu semua tak terduga. Amplop pink berisi kertas merah marun bergambar bunga mawar. Barisan kata-kata kiasan, membentuk kalimat bermakna. Bait demi bait usai dibaca, diterkanya makna di dalamnya. Sebuah puisi cinta dari seseorang yang dikagumiya, Andre.
Rena memberikan senyum pada Nisa. “Gimana Ren?”, Nisa memulai pembicaraan. “Mmm, hhhh”, Rena menarik napas dalam-dalam. Ia tak percaya dengan apa yang telah dibacanya. “Sesuatu yang mustahil terjadi” gumamnya.
“Semua itu mungkin saja Ren”, jawab Nisa.
“Nis, aku nggak percaya dengan surat ini. Mungkin ini yang nulis orang lain.”
“Ini nyata Rena, surat itu ada di genggamanmu.”
“Kalo boleh cerita ya Nis, dulu aku pernah SMS dia. Tapi dia nggak pernah bales padahal tentang tugas sekolah Nis. Tapi di surat ini dia malah meminta jawaban dariku lewat SMS. Dia menunggu balasanku.”
“Iya Ren, itu dulu. Tulisan yang ada di genggamanmu itulah dia yang sekarang. Dia yang tulus mencintaimu.”
“Enggak Nis, aku tetap nggak percaya.”
Bel masuk berbunyi. Rena langsung menyelipkan amplop dan surat itu di sakunya. Dia khawatir jika ada orang lain yang mengetahuinya karena itu adalah surat cinta pertama yang pernah ia terima.
Surat itu terus berada di pikiran Rena. Ada satu hal yang Rena curigai. Tulisan. Rena curiga jika surat itu adalah tulisan Aldi.
Sepulang sekolah, Rena menghadang Aldi di parkiran sepeda.
“Al, apa maksud surai itu?”
“Surat apa Ren?” Aldi pura-pura tidak tahu.
“Surat tadi, jangan pura-pura nggak tahu deh Al.”
“Surat apa sih, kapan aku nulis surat Ren?”                                       
Rena lalu meninggalkan Aldi.
Sesampainya Rena di rumah. Ia langsung menyobek-nyobek surat itu menjadi bagian yang kecil-kecil, lalu dibuangnya di beberapa tempat. Ada yang di tempat. Ada yang di tempat sampah, halaman belakang rumah. selokan, sampai-sampai kandang ayam milik ayahnya.
Hari berikutnya. Pelajaran kosong. Semua asyik dengan kegiatannya masing-masing. Rena sedang asyik mengobrol dengan Mira.
“Mir, aku boleh tanya? Tapi aku malu.”
“Hmm. Biasa aja kali, Ren, cerita aja.”
“Nah, kan kemarin aku ada yang ngasih surat, kamu tau nggak yang nulis siapa ? Aldi bukan?”
“Ssstt!” Tiba-tiba Mira berbicara lirih, “Aku tau kejadian itu, sebenarnya aku nggak boleh bilang ini ke siapa-siapa, aku bisa dapat ancaman dari Aulia. Tapi tenang aja.”
Rena hanya memandangi Mira dengan penuh rasa penasaran.
“Kemarin, aku tau Aldi dibelakangmu, ia menulis sesuatu, tapi aku kurang tahu. Terus aku diminta Aulia supaya tidak bilang siapa-siapa. Sebelumnya aku juga tahu,  yang beli amplop + surat adalah Resti.”
“Astaghfirullah! Oke Mir, makasih infonya.” Rena meninggalkan Mira. Rena merasa tertekan, geng yang berada dikelasnya bersekongkol. Mereka membuat suatu perencanaan agar Rena dan Andre pacaran. Rena tak menyukai hal ini. Meskipun Rena kagum pada Andre, namun keinginan Rena hanya satu. Andre menjadi teman akrabnya, teman dekatnya, sahabat. Bukan hal lain.
Semakin lama banyak teman Rena yang tau. Ia semakin dibully. Andre pun semakin menjauhi apapun yang ada hubungannya dengan Rena.
Dua bulan kemudian,
Rabu, 29 Januari 2016.
Pelajaran Prakarya dimulai. Banyak tugas dan PR, tapi Rena sudah mengerjakan tentunya. Hanya sedikit pertanyaan yang belum dimengerti. Lalu ia tanyakan pada Bu Aini. Hari itu, teman sebangku Rena sedang sakit, jadi Rena  sendiri. Meskipun begitu ada teman cowok yang duduk disampingnya, Aldi. Rena merasa nyaman berada disampingnya, tapi masih ada rasa benci sejak kejadian 2 bulan lalu. Aldi yang duduk disampingnya meminta jawaban tugas Prakarya. Tapi Rena tidak memberikannya. Tetapi entah mengapa saat dengan Aldi ada hal yang berbeda, karena jurus gombal Aldi yang begitu manjur, akhirnya Rena memberikan jawabannya.
30 menit berlalu, tangan Aldi masih sibuk menyalin jawaban Rena, tiba-tiba Bu Aini berada disamping Aldi dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan Aldi?”
“Saya sedang itu…eh apa ya. Saya…” jawab Aldi gugup.
“Kamu menyontek pekerjaan Rena ya?!” Bentak Bu Aini.
Aldi hanya terdiam dan menunduk.
“Ayo kembalikan buku Rena!” perintah Bu Aini.
“I…iya, Bu.” jawab Aldi sambil mengembalikan buku Rena dengan rasa malu. Aldi pindah ke tempat duduknya semula.
“Anak-anak, Ibu akan ke kantor dulu, kerjakan tugas itu. Jangan rame” perintah Bu Aini sambil berjalan ke kantor karena ada tamu yang ingin bertemu beliau. Semua murid tenang. Rena fokus mengerjakan tugas yang diberikan. Tiba-tiba Aldi mengambil buku Rena untuk dicontek kembali. “Aldi, kembalikan buku itu!” teriak Rena. Kelas menjadi gaduh, Aldi dan Rena menjadi pusat perhatian.
“Pinjem sebentar Rena.” rayu Aldi.
“Aldi, cepat kembalikan!” Aldi tak menghiraukan, ia fokus menulis. Bu Aini yang tak kujung kembali membuat kelas semakin gaduh.
“Cieee ciee, Rena-Aldi. Eheem.” seru beberapa teman kelas mereka.
“Hey, kalian ini apaan, bantu aku!”
Rena berusaha merebut bukunya dari tangan Aldi, tapi Rena tak bisa. Mereka berdua sampai kejar-kejaran di kelas. Riki, sang fotografer seklah memfoto aksi mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, mereka berhenti berkejaran. Di belakang kelas mereka saling berhadapan. Tak ada yang mengetahui. Teman-teman mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
“Al, mana bukuku.” tanya Rena dengan nafas yang tak beraturan. Aldi terus memandangi Rena yang berada dihadapannya. Lima menit kemudian Aldi meminta Rena duduk. Setelah duduk, tak ada obrolan di antar mereka berdua. Aldi hanya memandangi Rena dalam diam.
“Ren, maafkan aku selama ini. Gara-gara aku, kamu semakin jauh dengan Andre. Semua ini salahku. Terserah kamu mau anggap aku apa. Meskipun aku begitu, entah mengapa setiap kali aku denganmu ada sesuatu yang aku juga tak mengerti. Sekarang aku tahu aku mencintaimu dalam diam.” Aldi meninggalkan Rena. Ia meletakkan buku Rena di bangkunya.
Dua minggu kemudian. Aldi pindah ke Surabaya karena ikut orang tuanya. Aldi tak sempat pamitan dengan teman-temannya, begitu juga dengan Rena. Aldi pergi begitu saja.
Aldi, seseorang yang selalu menyelimuti benak Rena semenjak kejadian itu. Seseorang yang aneh. Janggal. “Dua minggu lalu adalah kejadian yang janggal.”, gumam Rena.

Tak ada kelanjutan dari mereka berdua. Tak ada komunikasi sama sekali. Tak ada ucapan selamat tinggal atau apa. Hanya kenangan yang tersisa di antara mereka berdua.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Umroh adalah mengunjungi Ka'bah (biatullah) untuk melaksanakan serangkaian kegiatan ibadah ( thawaf, sa'i, tahallul ) dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an maupun sunnah Rasulillah SAW. Dalil umroh terdapat di Q.S Al-Baqarah 2:196
ÙˆَاَتِÙ…ُّوا الْØ­َجَّ ÙˆَالْعُÙ…ْرَØ©َ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ù 
Artinya: “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. "
Perkembangan teknologi sekarang ini telah banyak menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Banyak hal dari sektor kehidupan yang telah menggunakan keberadaan dari teknologi itu sendiri. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek.
Lalu apa hubungannya perkembangan tekonologi dengan umroh?. Dulu orang jika ingin  umroh harus pergi ke biro travel. Sekarang kita yang hidup di zaman modern yang serba online sudah tidak perlu capek-capek pergi ke biro travel, karena sudah ada online travel umroh pertama dan terbesar di Indonesia yaitu Abutours. Aplikasi abutours tersedia di Appstore dan di Google Play.
Di aplikasi abutours anda bisa mendaftar umroh, pesan tiket pesawat dan pesan hotel. Di aplikasi abutours tersedia fitur doa, bermanfaat bagi anda yang melakukan ibadah haji maupun umroh dan tersedia informasi penting lainnya, salah satunya tujuan wisata. Tampilan dari aplikasi abutours sangat menarik dan aktraktif.
        





              














nabung umrah abutours
Bagaimana dengan dana untuk umroh?. Sudahkah anda mempersiapkan?. Bagi anda yang berencana melaksanakan perjalanan umroh, sekarang anda bisa mulai menabung untuk biaya perjalanan umroh. Apa sulitnya menabung untuk kepentingan di akhirat?. Abutours juga menyediakan layanan bagi anda yang ingin menabung untuk umroh yaitu Naurah.  Naurah merupakan salah satu dari program Koperasi Abu Tours Mandiri untuk memfasilitasi seluruh lapisan masyarakat agar bisa mewujudkan impian ber-Umroh. Abutours juga memberikan kemudahan untuk memilih paket umroh dengan mandiri, menentukan bulan dan tahun keberangkatan serta menentukan jumlah tabungan.
Mengapa harus Abutours?
1.    Harga Terjamin
Abutours menyediakan paket umroh dengan harga murah dan terjangkau. Semua biaya sudah termasuk dengan airport tax, pajak, handling dan tentu saja dengan fasilitas dan pelayanan berkualitas.
2.    Tidak Perlu Repot
Pengurusan barang bawaan anda akan ditangani langsung oleh tim abutours sejak keberangkatan hingga kepulangan. Jadi, anda tidak perlu repot untuk membawanya karena anda akan mendapatkan barang bawaan anda di dalam kamar hotel.
3.    Akomodasi dan Transportasi
Hotel yang disediakan setara hotel bintang 5 dengan jarak ke Masjidil Haram ±100-300 meter yang memudahkan Jamaah melaksanakan ibadah solat di Masjidil Haram. Didukung dengan transportasi abutours selama berada di arab saudi, serta makanan yang terjamin dengan menu masakan Indonesia.
4.    Proses Cepat dan Aman
Berbeda dengan travel umroh dan biro perjalanan lainnya, abutours.com dengan sistem online dan berbasis teknologi yang aman & mutakhir,  sehingga biaya operasional kami jauh lebih rendah dan murah. Ditambah semua proses pemesanan dapat dilakukan lebih efisien dan efektif melalui gadget anda, karena kami telah menyediakan layanan pemesanan secara online dan transaksi pembayaran umrah dapat dilakukan via Transfer ATM, Kartu Kredit, Hingga Internet Banking.
5.    Paket Promo Hemat
Abutours menyediakan berbagai macam pilihan paket umroh dengan harga hemat. Abutours juga menjamin harga Awal sama dengan harga di akhir. Selain umroh murah, tiket pesawat dan hotel, Abutours juga menyediakan kebutuhan ibadah umroh dan haji. Untuk memanjakan jamaah umroh murah Abutours, Anda akan dipandu saat belanja oleh-oleh ketika berada di Tanah Suci.
6.    Kota Keberangkatan dari Berbagai Daerah

Luasnya wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke juga menjadi salah satu alasan mengapa Abutours memiliki beberapa cabang di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti di Balikpapan, Jakarta, Makassar, Palembang, Semarang, Surabaya, Kendari, dan Medan. Dengan begitu, Anda tidak perlu harus ikut Abutours cabang Jakarta karena Anda dapat memilih kota tempat keberangkatan yang dekat dengan rumah Anda.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

/>

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juli 2018 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (1)
  • November 2016 (12)
  • Agustus 2015 (1)
  • Maret 2015 (2)
  • Februari 2015 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates