• Home
  • /a>
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Abziz Blog

Perpisahan adalah Akhir Pertemuan
Angin berhembus meniup khimar panjang yang dipakai oleh seorang siswa dari salah satu SMP  dikota Bandung. Terlihat dia sedang berbincang dengan siswa yang lain. Mereka terlihat sangat asik dan bahagia dengan pembicaraan mereka. Namun, di sudut lain terlihat seorang siswa yang sedang menatap kearah langit. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Siswa berparas cantik dan sholehah tersebut bernama Maryam. Ternyata Maryam merupakan seorang yatim piatu, orang tuanya meninggal dikarenakan kecelakaan mobil saat perjalanan menuju rumah mereka.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Maryam hidup bersama paman dan bibinya yang tidak dianugrahi seorang anak. Adik lelakinya yang bernama Rasyid yang baru saja duduk di bangku SMP usianya terpaut 2 tahun oleh Maryam. Saat ini usia Maryam menginjak 15 tahun. Di tahun ini juga, Maryam akan lulus dari SMP dan akan melanjutkan studinya di Pondok Pesantren.
“Kakak pergi ya Syid, jaga paman dan bibi ya”
“Pasti aku akan menjaga paman dan bibi kak, Tenang saja Rasyid kan sudah besar” Rasyid menjawab dengan penuh percaya diri.
“Iyaa adekku yang manis, jangan kangen sama kakak ya’’
“Dih, ngapain kangen sama kakak’’ jawab Rasyid dengan wajah cueknya
‘’Dasar adek nyebelin, manis dikit kenapa? Kakak kamu kan mau pergi jauh nih. Kamu ngga peluk kakak nih? Nanti nyesel lo’’
‘’Yasudah Maryam adekmu mungkin belum rela kalau kamu tinggal jauh jauh. Nanti kalau kamu pergi, dia pasti akan mencarimu terus’’ Bibi muncul dari dapur membawakan bekal untuk perjalananku nanti.
‘’Yasudah bi, Maryam berangkat dulu ya. Maryam pergi dulu Assalamualaikum’’ tak lupa ia mecium tangan bibi dan pamanku.
Aku melangkah keluar rumah, dan meninggalkan Rasyid yang terlihat sangat sedih dengan kepergianku. Paman dan bibiku mengantar hingga depan rumah. Perjalanan baruku dimulai dari hari ini. Aku akan berusaha untuk mandiri. Kisah baruku akan dimulai di Pondok Pesantren yang akan mengajarkanku ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Aku menyadari aku masih sangat kekurangan ilmu agama, dan hal itu yang menyebabkan aku ingin masuk ke Pondok Pesantren. Aku ingin mendi seseorang yang berubah, menjadi anak yang sholehah, dan berbakti dengan orang tuaku. Meski orang tuaku telah tiada, namun aku yakin orang tuaku pasti akan bangga.
Kini aku sedang duduk didekat jendela agar bisa melihat pemandangan yang ada disekitarku. Aku akan pergi ke kota Yogyakarta, disitulah aku akan memulai kisah baru dalam hidupku. Aku masih duduk melihat lalu lalang orang-orang yang berada di Terminal, namun hingga 10 menit bus masih belum berangkat. Bangku disebelahku pun masih kosong. Aku memutuskan untuk memasang earphone yang kuselipkan dibalik khimar yang ku kenakan, dan aku memutar surat Yusuf yang ada di handphone ku.
“Assalamualaikum yaa ukhti, bolehkah saya duduk disini?”
“Waalaikumsallam, oh iya silahkan.”
Pemuda itu langsung duduk disamping ku . Dan memperhatikan wanita yang sedari tadi hanya melihat kearah pemandangan. Dan wanita yang ada disebelahnya terlihat sangat sedih. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Lelaki itu merasa kasihan dengan wanita disebelahnya dan mencoba untuk mengajak berkenalkan.
“Permisi, kita tadi belum berkenalan. Aku Haidar”
“Aku Maryam” Aku langsung melepas headphoneku. Tak kusambut tangan nya, aku hanya menangkupkan kedua tanganku di depan dada, aku sudah bertekad untuk mengubah diriku menjadi lebih baik mulai dari sekarang. Lillahi taala. Dia menarik uluran tangannya dengan kaku.
“Afwan, kamu berasal dari mana?”
“Aku dari Bandung, kalau kamu?”
“Aku juga dari Bandung. Kamu mau kemana?”
“Ke Yogyakarta. Sebenarnya aku akan sekolah disana.”
“Wah, aku juga akan sekolah di Pesantren Nurul Huda”
“Hmm, sepertinya tujuan kita sama, aku juga akan sekolah disana.Sampai berjumpa             disana”
Aku langsung mengalihkan pandanganku. Aku sangat kagum dengan lelaki disebelahku. Dia telah membuatku merasa lebih baik. Namun, aku masih memikirkan kedua orang tuaku. Aku sangat rindu dengan kedua orang tuaku. Terdengar lelaki disebelahku sedang membacakan ayat ayat Al Quran yang dipegangnya. Terdengar dia sedang membacakan surat Yusuf. Aku sangat menyukai suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat Al Quran dengan indah. Setelah sampai di Yogyakarta kami berpisah. Aku akan mencari beberapa buku untuk aku pelajari. Setelah selesai membeli buku, aku langsung menuju Pondok Pesantren.
“Mashaallah” Ucapku seraya kagum melihat Pondok Pesantren ku yang ternyata memiliki pemandangan yang amat indah.Pondok Pesantrenku yang letaknya agak dekat dengan pantai, membuatku kagum atas ciptaan-Nya. Aku langsung masuk ke ruangan yang memiliki beberapa tempat tidur. Ruangan itu kelak akan menjadi tempat untukku istirahat selama berada di Pesantren ini. Disana telah ada beberapa santri lain, mereka baru saja sampai dan menata bajunya di lemari yang telah disediakan.
“Assalamualaikum ukhti”
“Waalaikumsallam ukhtii” Ucap mereka serentak. Dan langsung menatapku dan berjabat tangan denganku. Dan memperkenalkan diri
Aku langsung menuju ke tempat tidurku dan aku langsung menata bajuku. Tiba-tiba Annisa, Rahma dan Bilqis menyusul ke kamarku. Mereka lalu membantuku menata bajuku. Selama berada di Pesantren ini, mereka bertiga selalu membantuku saat aku memiliki kesulitan. Kami memang bersahabat, dan setiap salah satu dari kita memiliki masalah, maka yang lain akan membantu untuk menyelesaikan masalah.
Pagi itu diadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan Pesantren. Kami berempat dengan semangat membersihkan sekitar kamar kami. Tiba-tiba Annisa menjerit ketakutan.
“Huwaaa akuu takutt. Tolonggg aku Maryam” Teriak Annisa dengan menutup matanya.
“Kenapa Annisa, kamu baik baik saja kan?” Tanyaku kepada Annisa, ternyata Bilqis dan Rahma juga berlari mendekati Annisa.
“Ituu ituu di kakikuuuu, adaa... Adaa cacinggg” Terdengar Annisa sedikit terisak karena kaget melihat cacing
“Hahahaha, kamu ada ada saja Annisa. Itu kan Cuma cacing.” Aku, Bilqis dan Rahma tertawa geli melihat Annisa yang sangat ketakutan melihat cacing.
“Iiihhh tolonggg bawa pergii cacingg ituu Maryam.” Aku segera membawa pergi cacing itu agar Annisa tidak membuat keributan lagi.
Aku merasa sangat bahagia memiliki sahabat seperti mereka. Mereka selalu menghiburku saat aku merasa kesepian ditinggal orang tuaku. Suatu malam aku duduk sendirian di taman Pesantren aku merindukan ayah dan ibuku. Mereka bertiga menghampiriku dengan membawakan jaket untuk kupakai. Karena udara malam hari ini sangat dingin. Mereka datang dengan tujuan untuk menghiburku, kebiasaan mereka disaat melihat salah seorang sahabatnya sedih. Mereka lah yang memberiku semangat agar aku dapat menjadi anak yang sholehah dan dapat mencapai cita-cita. Sehingga, sekarang aku mendapat peringkat 3 besar. Sahabatku yang lain pun juga memiliki prestasi yang tak kalah dariku. Kami selalu belajar bersama, dan saling mengingatkan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Tak terasa aku telah berada di Pesantren tersebut hampir selama 1 tahun. Dan aku akan menerima hasil kerja kerasku setelah aku belajar di Pesantren ini. Aku berharap ridho-Nya, agar aku dapat mendapat hasil yang memuaskan dan aku dapat membanggakan orang tua serta paman dan bibiku yang telah membiayaiku selama ini. Aku akan berubah menjadi diri yang lebih baik, dan itu ternyata berhasil setelah aku menemukan sahabat seperti mereka. Walapun aku masih belum bisa merubah diriku dengan sempurna, aku masih merasa aku belum sepenuhnya berubah menjadi baik. Dan aku akan berusaha.
“Maryam, selamat yaa kamu hebatt deh” Kompak ketiga sahabatku memberi ucapan selamat kepadaku.
“Syukron, kalian juga ngga kalah hebat kok” Aku segera merangkul ketiga sahabatku.
Aku tidak mau pergi dari ketiga sahabatku, aku masih ingin bersama sahabatku. Tak terasa ternyata aku telah meneteskan air mata. Aku sangat tidak bisa kehilangan mereka walaupun hanya dalam waktu singkat. Namun, aku juga sangat rindu dengan adikku Rasyid. Yang pasti akan kangen dengan kakaknya ini. Juga paman dan bibiku yang sangat berharga, yang telah kuanggap seperti orang tuaku sendiri.
“Kamu kenapa Maryam?” Tanya Bilqis kepadaku.
“Aku hanya tidak ingin  berpisah dengan kalian, aku pasti akan merindukan kalian.” Ucapku yang masih terisak. Mereka lalu memelukku dengan erat.
Setelah perpisaham dengan sahabat-sahabatku, aku segera menuju bus yang akan aku tumpangi untuk menuju ke Bandung. Lagi lagi aku memilih duduk di dekat jendela agar aku bisa melihat pemandangan. Aku pun sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi adikku Rasyid yang pastinya akan sangat senang melihatku kembali. Aku tertawa sendiri saat membayangkan adikku yang menggemaskan.
“Assalamualaikum ukhti bolehkah saya duduk disini?”
“Astaghfirullahaladzim!” Suara seseorang menyadarkanku.
“Haahh, Maaf saya kaget, ya silahkan.”

Aku menjawab tanpa melihat wajah orang disebelahku ini, kembali mata ku fokus keluar jendela. Bus mulai beranjak menuju ke Bandung, aku masih tenggelam dalam bayangan bagaimana kota kelahiranku ini, tentang masa-masa SMP, tentang ibu, tentang ayah, tentang adikku Rasyid, tentang paman dan bibiku, dan tentang dia yang telah melantunkan ayat-ayat Al Quran disebelahku saat aku akan menuju ke Yogyakarta waktu itu. Dia? Tunggu dulu, aku sepertinya sangat familiar dengan sosok yang menyapaku barusan. Aku menoleh kesebelahku. Dan ternyata yang disebelahku adalah dia. Aku terpaku melihat dia yang sedang sangat khusyuk membaca Al Quran ditangannya. Hatiku sangaat senang saat dia tersenyum kepadaku setelah menutup Al Quran nya.  Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Karya : Marisa Ayu Apsari
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Arti Sahabat
Hari ini adalah hari pertama dimana Zia masuk sekolah. Ya, Zia adalah siswa baru di SMA Teressia, salah satu SMA favorit di Semarang. Nama panjangnya adalah Arzia Zahra Tiara, kerap dipanggil Zia. Cantik, tinggi, putih, berambut panjang itulah Zia. Zia mempunyai sahabat yang bernama Siska. Mereka sudah menjalin persahabatan selama tiga tahun. Selama tiga tahun ini persahabatan mereka ayem tentrem.
Hari ini adalah jadwal untuk pembekalan mos. Dan parahnya, Zia hampir telat. Ia berlari sampai - sampai ia menabrak seseorang.
Brukkk..
“Aduh. Maaf kak.” ucap Zia
“Duh hati – hati dong.” timpal pria yang menabraknya.
“Ya maaf, kan gak sengaja. Mau nanya ruang 3 dimana ya Kak?”
“Nanti kamu lurus lalu belok kanan, dari kiri ruang ke 3.”
“Makasih kak. Sekali lagi maaf banget.” berlari meninggalkan pria tersebut.
Setelah sampai di kelas, Siska sudah ada didalam kelas. Zia pun bercerita kepada Siska bahwa tadi ia tabrakan dengan kakak kelas yang tinggi, ganteng, dan yang pasti membuat hati Zia berdebar - debar tapi sayangnya, ia judes. Saat mereka ngobrol, bel tanda masuk berbunyi. Ada dua kakak OSIS yang masuk ke kelas, dan ternyata salah satunya adalah pria yang ia tabrak, pria tersebut bernama Fandy.
“Pagi dek, acara hari ini adalah membentuk struktur pengurus kelompok 3. Ada yang mau jadi ketua?” sapa Fandy.
Namun tidak ada yang mau jadi ketua, semua tertunduk diam. Fandy melirik ke arah Zia, Zia menunduk dan berharap Fandy tidak menyuruhnya untuk jadi ketua. Dan naas,  doanya tidak terkabul. Fandy menunjuk Zia menjadi ketua.
Tapi jadi ketua juga ada untungnya. Ia jadi sering bertemu dengan Fandy. Memang wajah Kak Fandy terlihat judes, tapi sikapnya tidak sejudes wajahnya. Apalagi kalau udah kenal, langsung klepek - klepek dengan sikap manisnya.
Dan hari ini adalah hari terakhir mos. Zia merasa senang karena akhirnya ia terbebas dari perintah kakak OSIS, dan entah mengapa Zia juga merasa sedih. Dia sedih karena nanti jika mos selesai ia tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Fandy. Mos hari terakhir selesai, Zia dan Siska duduk di bangku taman.
“Zi, kamu kenapa kok bengong nanti kesambet loh.” Siska menepuk pundak Zia.
“Gapapa kok. pulang yuk.” Zia menggeleng.
Saat sampai dihalaman sekolah dari belakang Fandy menepuk pundak Zia.
“Eh kak, ada apa?” perasaan Zia gak karuan, antara bingung, senang, gugup jadi satu.
“Ikut aku bentar yuk.” menggandeng tangan Zia.
Saat digandeng Zia senang banget. Fandy mengajak Zia ke taman sekolah. Entah mengapa ia mengajak ke taman sekolah, mungkin disuruh bersihin taman. ”Kalo bersihin taman ngapain ngajak aku, kan yang lain ada.” batin Zia.
“Zi aku mau bilang sesuatu. Kamu mau gak jadi pacar aku?” menatap Zia dan memegang tangan Zia. Berharap Zia mau jadi pacarnya.
“Hah? Apa?” Zia sepertinya salah dengar.
“Iya jadi pacar aku. Kamu mau kan?” jelas Fandy dengan wajah harap – harap cemas.
“Emm, aku gak bisa jawab sekarang Kak.”
“Kalau begitu besok kamu harus jawab ya.”
“I...Iya Kak.” jawab Zia dengan gugup.
“Kok Kak sih, panggil Fandy aja biar lebih akrab. Yuk aku anterin pulang.” ajak Fandy.
“Enggak usah, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Udah ayo aku anterin pulang, keburu hujan.” menggandeng tangan Zia menuju parkiran motor.
Pagi hari Zia duduk dibangkunya sambil senyum-senyum sendiri. Siska pun menghampirinya. Zia pun cerita kepada Siska bahwa Fandy menembaknya.
“Gimana nih Sis? Aku terima gak?”
“Terserah kamu, kalau kamu merasa nyaman ya terima saja. Tapi ada satu syarat, sikap kamu gak boleh berubah. Jangan sampai hanya karena cinta persahabatan kita selesai.”
“Tenang aku gak bakalan berubah.” memeluk Siska.
“Emm OK deh aku pegang janjimu. Nanti ke toko buku ya.”
“Siap bos!”
Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Zia dan Siska bergegas pulang. Tapi saat keluar, Fandy sudah ada didepan kelas Zia dan menarik tangan Zia.
“Zi, gimana pertanyaan ku kemarin. Kamu mau jadi pacar aku?” ucap Fandy
Zia mengangguk.
“Beneran? Yaampun aku senang banget kamu mengangguk. Pulang bareng yuk.” ajak Fandy.
“Tapi aku diajak Siska ke toko buku.”
“Sis, kamu ke toko buku sendiri gapapa kan?” ucap Fandy kepada Siska.
“Gapapa kok Kak, silahkan. Udah Zi aku ke toko buku sendiri aja. Daaa!” melambaikan tangan kepada Zia dan Fandy.
Tak terasa satu bulan berlalu. Satu bulan juga Zia dan Fandy berpacaran. Hari-hari Zia dilalui dengan senang, setiap hari ia selalu bersama Fandy. Namun tidak dengan Siska. Semenjak berpacaran dengan Fandy sifat Zia berubah. Yang setiap hari ke kantin bareng Siska sekarang jarang ke kantin bareng. Dan dulu mereka sering pulang bareng, tapi sekarang jika Siska mengajak Zia pulang bareng, Zia selalu menolak dengan alasan “Mau pulang bareng Fandy.”
Siska merasakan Zia sekarang berubah. Sudah lama Siska menyimpan uneg - uneg itu, dan baru sekarang ia baru berani menyampaikan kepada Zia.
“Zi aku mau ngomong sama kamu. Tapi kamu jangan marah ya!” ucap Siska.
“Mau ngomong apa sih, aku gak marah kok.”
“Zi aku merasa kamu sekarang berubah.”
“Berubah gimana? Perasaan gak ada yang berubah dari aku kok.”
“Sifatmu sekarang berubah Zi. Dan sekarang kamu gak punya waktu untuk aku.”
“Bukannya aku gak punya waktu buat kamu Sis. Sekarang aku baru sibuk.”
“Sibuk apaan coba, sibuk pacaran?” bantah Siska.
“Kamu apaan sih. Terserah kamu deh mau bilang aku berubah atau gimana.” ujar Zia sambil memukul meja dan keluar kelas.
Setelah Siska mengatakan uneg – unegnya, Zia menjahui Siska. Siska selalu meminta maaf kepada Zia, tapi Zia tetap saja mengabaikannya. Suatu hari saat Siska akan berangkat les, ia melihat Fandy sedang di kafe bersama cewek, tapi cewek itu bukanlah Zia. Saat Siska melihat dari dekat, ternyata cewek itu adalah teman satu kelas Fandy.
Pagi harinya Siska mendekati Zia dan duduk disampingnya. Siska menceritakan apa yang dilihatnya kemarin sore kepada Zia. Tapi Zia tidak percaya dan memarahi Siska. Siska kaget, mengapa Zia jadi marah kepadanya, seharusnya Zia marah kepada Fandy. Siska kecewa kepada Zia.
Sekarang persahabatan mereka hancur hanya karena seorang pria. Sudah menginjak dua bulan Zia dan Fandy berpacaran. Tapi akhir – akhir ini Fandy tidak pernah menghantar Zia pulang, padahal dulu setiap hari Fandy selalu menghantarkan Zia pulang. Sekarang mereka juga jarang ke kantin bareng. Zia merasa Fandy sudah berubah. Apa mungkin yang dikatakan Siska bahwa Fandy punya pacar baru itu benar. Tapi Zia tidak mau berburuk sangka.
Setelah bel pulang sekolah Zia ke kelas Fandy. Tapi Fandy sudah pergi. Zia pun meninggalkan kelas Fandy. Tiba – tiba hujan turun, Zia berniat untuk berteduh di taman sekolah. Saat ia akan sampai, ia melihat Fandy sedang duduk dibangku taman dengan cewek. Ternyata apa yang dikatakan Siska benar. Zia mendekati Fandy.
“Fandy !! Jadi ini alasan mengapa sekarang kamu berubah.” menampar Fandy.
“Engga Zi, dengarkan penjelasanku dulu.” memegang tangan Zia.
“Kita Putus !” menepiskan tangan Fandy dan berlari meninggalkan Fandy.
Zia terduduk lemas di halaman sekolah dan menangis. Saat Siska akan pulang ia melihat Zia, Siska berlari mendekati Zia.
“Zia kamu kenapa?” menggoyangkan badan Zia penuh cemas. Namun Zia hanya diam dengan wajah pucat.
“Ayo Zi aku hantar pulang. Badan kamu dingin banget” memegang kening Zia.
Keesokan harinya, Zia tidak berangkat sekolah karena sakit. Siska panik, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada Zia. Setelah pulang sekolah, Siska menjenguk Zia.
“Zi, kamu sakit apa? Kamu baik – baik saja kan?” tanya Siska penuh cemas.
“Aku baik kok Sis.” balas Zia dengan suara yang pelan.
“Terus kemarin ngapain kamu hujan – hujan sambil menangis?”
“Fandy Sis, Fandy mengkhianati aku. Aku nyesel gak dengerin kamu. Aku udah marahin kamu tapi mengapa kamu masih peduli denganku?”
“Zi kamu itu sahabatku. Sahabat itu selalu ada dalam suka dan duka.”

Zia meminta maaf kepada Siska karena ia telah merusak persahabatan yang sudah dijalin selama tiga tahun hanya karena seorang pria. Setelah kejadian ini Zia dapat menyimpulkan bahwa pacar bisa menjadi mantan pacar, tapi sahabat tidak akan pernah menjadi mantan sahabat. Zia dan Siska berpelukan.

Karya : Marchita Adedhea
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kesusahan Sehari Cukuplah Sehari

—kalo nilai matematika lo jelek itu gak usah sepaneng—hidup lo gak selalu tentang matematika. Ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa dihitung secara matematis. Kerja keras misalnya. (Adrian)
Jakarta, 2015.
Siang begitu terik, panasnya menyengat hingga ke ubun–ubun. Keringat mengucur deras membasahi pelipis, menembus seragam putih milik para siswa di ruangan itu. Kelas begitu lenggang. Penghuninya mengeluh. Kepanasan. Lapar. Lelah. Pelajaran matematika jam segini sungguh tidak efektif. Bak masuk telinga kanan  keluar telinga kiri.
Kipas di ruangan hanya seperti pajangan. Tidak terasa kinerjanya. 15 menit lagi pelajaran akan berakhir, tapi tidak ada tanda–tanda sang guru akan menyudahi materi yang disampaikan. Reya melengos, ia sudah menelan banyak ludah siang ini—mengatasi dehidrasi. Matanya menutup separuh, sungguh ia tidak sedikitpun paham materi yang  disampaikan.
‘Tett—Tett—tett’  bel akhirnya berdering 15 menit kemudian, sesaat setelah Reya terkejut karena ia hampir menjatuhkan kepalanya—ketiduran.
“Besok minggu depan ulangan ya, anak–anak”. Kata sang guru seraya mengakhiri pelajaran. Reya melotot, tidak terima. Bagaimana bisa? Ini baru 2 kali pertemuan sang guru menjelaskan materi bab ini, dan langsung ulangan? Astaga. Sebenarnya bukan masalah waktu, masalahnya adalah Reya tidak paham sama sekali materi bab ini.
“Ahh rese emang ya, gak ngerti dah.”, maki Reya sembari memberesi buku di laci mejanya, beberapa teman sekelasnya yang masih bertugas piket menghadap ke arahnya.
“Kenapa, Rey? Dari tadi ngedumel mulu prasaan ya,”,  Sahut Elisa tiba– tiba.
“Yaiyalah, gimana gak ngedumel coba, emang kamu paham apa pelajaran Pak Wawan tadi? Ngasih rumus kagak, catetan juga kagak. Mana minggu depan ulangan lagi.”
“Yee.. main–main sama gue nanya begituan, kalo gue nih ya Rey, jelas.”
“Serius?  Yaudah besok aku main ke rumahmu ya El, ajarin matematika.”
“Jelas gak paham maksudnya, Rey.”
“Aelah, El. Kirain beneran paham.”
“Gak ngerti gue Rey, pemikiran guru–guru tuh suka aneh. Gue rasa tugas dan ulangan terus menerus tuh bikin otak lemot. Udah fisik cape, otak juga ikut dipaksa mikir. Gak efektif. Belajar hari ini belom paham udah ditambahin materi baru lagi. Ulangan sama tugas tuh cuma ajang pencarian nilai, bukan uji pemahaman. Paling–paling sebulan lagi lo lo semua juga udah lupa materinya. Lah, wasted amat.”
“Bodo amat, capek gue, El”, Reya menarik tas nya seraya keluar kelas.
“Lah, main pergi aja nih bocah, mau kemana, Rey?”
“Basecamp DA” , teriak Reya sambil lari menuju basecamp.
Basecamp sepertinya sudah menjadi tempat favorit Reya, setiap pulang sekolah  kalo belum ke BC dulu rasanya kurang lengkap. Sesampainya di basecamp Reya buru– buru menghempaskan tubuhnya di kursi—tidur. Hingga belum semenit Reya memejamkan mata sebuah tangan mengguncangkan tubuhnya.
“Rey, woi, bangun dong.”  Seseorang mengggoyang–goyangkan tubuhnya yang justru dibalas Reya dengan memperpulas tidurnya.
“Rey, 2 hitungan gak bangun, ember air melayang nih.”
Reya membuka paksa matanya, kawan di hadapannya ini kurang ajar sekali. Astaga. Belum semenit semenjak Reya memejamkan mata sudah dipaksa bangun.
“APAAN SIH AH, BARU SEMENIT BELUM ADA JUGA UDAH DIBANGUNIN.” Semprot Reya frustasi.
“Belum semenit apanya. Astaga. Liat tuh jam.” Rania melotot. Jam setengah 6.
“Oh yaudah,  maap deh.”
“Kebiasaan dah, tadi tuh HP mu bunyi terus, kayaknya mama-mu nelpon deh.”
“Terus kenapa gak kamu angkat?”
“Udah.”
“Terus?”
“Coba telpon balik deh, males ngejelasin.”
Reya segera mengambil ponselnya, mencari-cari kontak Mamanya di ponsel putih miliknya.
“Halo, ma ?” katanya sedetik setelah telepon diangkat
“REYAAA PULANG SEKARANG. TAU WAKTU DONG. KAMU TUH ANAK PEREMPUAN.”
“Ya.” Reya segera memutuskan sampungan telponnya. Bisa lebih parah kalau dilanjutin.
“BELIAA, ANAA. JAHAT BANGET YA SUMPAH.”
“Paan sih, Rey? teriak–teriak mulu”, kata Adrian yang tiba–tiba muncul di pintu basecamp.
“Tau tuh, nanya aja sama Belia sama Ana.”
“Rey, makan yuk”, ajak Adrian sambil berjalan ke arah Reya.
“Gak. Mau pulang.”
“Yaelah, Rey. Tumben jam segini udah balik.”
“Habis dimarahin, ga baik anak perempuan pulang malem.”
“Sok alim”
“Mending sok alim, daripada ngaku–ngaku alim.” Reya kemudian meninggalkan Basecamp dengan keadaan pikiran carut marut. Bertemu Adrian memang selalu membuatnya harus siap adu mulut ditambah lagi harus berhadapan dengan matematika. Matematika bukan bidang yang ia sukai. Sungguh. Ribet—pikirnya.
Senin pagi.
Jangan lupa senyum, Rey.
Reya tersenyum membaca pesan singkat itu, menolak membalasnya. Keadaan hatinya sedang buruk sekarang. 2 hari lagi ulangan matematika, dan Reya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak paham sama sekali bab yang disampaikan. Bukan tanpa usaha belajar—tapi memang tidak ada waktu. Sekolahnya memang disiplin sekali. Sampai sekolah harus jam 6.30 dan baru pulang pukul 3.00 sore dengan beban PR yang begitu banyak. Belum lagi urusan organisasi yang tidak bisa kelar dalam sehari. Sebenarnya Reya lebih suka organisasi—lebih santai. Gak menuntut. Tapi apa boleh buat? Sekolahnya tidak terlalu mendukung ekstrakulikuler atau organisasi berjalan.
“Kusut amat muka lo, Rey”, sapa Elisa ketika Reya baru sampe depan kelas.
“Frustasi. Sama matematika.”
“YaTuhan. Gausah dipikir–pikir amat kali, Rey. Hidup lo tu gak cuma tentang matematika.”
Reya hanya diam. Terlanjur frustasi, Ia segera mengambil Novel di pojok kelas—membacanya. Berhenti ketika jam sudah menunjukkan waktu untuk upacara. Seharian ini ia melewati pelajaran dengan keadaan hati yang tidak terlalu buruk. Pulang sekolah seperti biasa ia segera berlari menuju basecamp—bukan lagi untuk tidur.
“Hai, Rey”, sapa Adrian ketika Reya memasuki basecamp. Reya mengkerut, ia benar – benar tidak mau bertemu Adrian hari ini, semalam ia habis adu mulut melalui WhatsApp.
“Pa? gausah sok nyapa. Belia, ayo buruan, ntar keburu mulai”, Balas Reya kemudian.
“Pada mau kemana?”, Potong Adrian kemudian.
“Reya mau masuk ke hati lo tuh, Yan.” Canda Belia.
“Cuih, Ogah.”, Balas Reya cepat sambil meninggalkan basecamp, Belia buru–buru mengejar di belakangnya.
Sore ini, Reya dan Belia mengikuti pelatihan SAKA (Satuan Karya) Bakti Husada—kesehatan. Ini merupakan komunitas bakti masyarakat dalam PRAMUKA. Entah mengapa, Reya lebih suka kegiatan seperti ini, dibanding harus memperhatikan pelajaran matematika—membosankan—pikirnya. Reya sungguh menikmati momen ini. Ketika ia bisa belajar tentang sesuatu hal yang berbeda dari teman-temannya. Bukan tentang pelajaran di kelas, tapi tentang pengabdian. Tentang bagaimana kita harus menolong orang lain tanpa pamrih. Reya tidak pernah tau—bahwa esok hari pengalaman inilah yang justru membawanya ke kesuksesan.

Rabu.
Reya memasuki ruangan kelas dengan jalan yang super cepat. Astaga. Hari ini ulangan matematika. Entah kenapa, Reya takut sekali dengan pelajaran ini. Semalam Reya sudah mengerjakan soal—sungguh, Reya tidak berbohong. Bahkan ia belajar selepas maghrib hingga jam setengah 2 pagi. Ditemani 2 cangkir kopi yang membuatnya betah membuka mata hingga pagi. Reya sudah percaya diri sekali bisa mengerjakan soal–soal yang diberikan.
13.30.
Pak wawan benar–benar masuk kelas. Mereview materi sebentar—kemudian menyuruh  murid-muridnya mengeluarkan selembar kertas. Reya sumringah, dia yakin sekali. 2 menit kemudian Pak Wawan sudah sibuk membagikan lembar soal. Reya sudah selesai menuliskan nama ketika selembar soal sampai di mejanya. Cepat–cepat Reya membukanya. Langsung mengerjakan nomor satu.
5 menit berlalu. Coret–coretan Reya penuh. Nihil. Reya tidak menemukan jawaban nomor satu, angkanya aneh. 10 menit kemudian Reya sudah pindah mengerjakan nomor dua—tentu saja meninggalkan nomor satu. Tapi sama saja, Nihil. Rumusnya mentok—tidak ketemu jawabannya. Reya melanjutkan ke nomor tiga, gambar kubus di hadapannya sudah seperti melayang–layang. Soal dihadapnnya benar–benar membuatnya frustasi. Keringat dingin sudah membasahi bajunya. Bagaimana bisa? Semalam ia sudah berusaha keras belajar mati–matian. Semua soal ditebas habis olehnya, dan sekarang? Astaga. Lima soal dihadapannya seperti berlipat ganda menjadi lima puluh.
Sedetik kemudian matanya tak sengaja melirik jawaban milik Seva—teman sebangkunya, tapi kemudian Reya sadar. Dia harus mengerjakan sendiri.
Ya Allah, Reya sudah belajar tadi malam. Reya sungguh sudah belajar. Ya Allah, Reya sungguh tidak ingin mencontek, Reya percaya Allah sudah melihat Reya berusaha, bantu Reya Ya Allah.
Waktu berakhir ketika Reya selesai menjawab soal nomor lima—jawaban seadanya. Pak Wawan segera mengambil jawaban, membagikan acak kembali jawaban–jawaban para siswanya. Langsung koreksi. Reya mengeluh, moodnya sudah sangat buruk kali ini. Seva disampingnya juga terlihat frustasi, tapi bedanya tidak panik seperti Reya. Pak Wawan segera menuliskan jawaban lengkap dengan caranya di papan tulis—Reya sudah seperti ingin menangis kali ini. Jawaban yang ia tulis hanya ada 2 nomor yang benar–benar sama persis  seperti tulisan Pak Wawan. Dan hasilnya? Astaga. Bahkan nilai Reya tidak melebihi angka enam. Pulang sekolah Reya segera lari ke basecamp, ia tidak peduli ada siapa saja disitu. Melempar tasnya ke meja dan membanting tubuhnya ke kursi—menunduk—kemudian tangisnya benar – benar pecah.
Adrian, Belia, Maya, Rizki yang sudah ada di meja bundar tersebut tersentak. Reya menangis—seorang Reya yang biasanya cuek–cuek saja kali ini menangis. Maya dan Belia segera mendekat ke arah Reya. Mengelus–elus puncak kepalanya—bertanya kenapa. Yang ditanya justru seenggukan—bingung menjawab apa. Rizki hanya melihat aksi di depannya itu, sementara Adrian malah keluar basecamp entah kemana.
Setengah jam setelahnya, Reya sudah mulai tenang—yang justru malah ketiduran di meja basecamp. Tidurnya pulas sekali. Satu jam setelahnya Reya terbangun, kepalanya berat sekali. Matanya juga susah dibuka. Dan kesalnya lagi—orang pertama yang dilihatnya justru Adrian. Ah, sial—pikirnya. “Tidurnya pules amat, tadi ada gempa loh”, Adrian yang melihat Reya bangun langsung menyelutuk.
“Nih, minum dulu, gausah jaim. Gue tau lo haus”, kata Adrian sambil menyodorkan segelas  teh hangat. Reya meneguknya perlahan.
“Yang lain kemana? Tumben basecamp sepi.”
“Pada cari bahan buat kemah bulan depan, yang disini tinggal gue, elo, Maya, Rizki, sama Sisil tuh di depan.”
“Terus lo ngapain disini?”
“Liatin lo”
“Oh.”
“Ngapain nangis?”
“Ngg..” Reya hendak menjawab ketika tiba – tiba beberapa kawannya masuk ke basecamp.
“Udah bangun Rey?” “Kenapa Nangis Rey?” dan beberapa pertanyaan lain yang serentak disodorkan kepada Reya.
“Gapapa” Jawab Reya pendek.
“Gausah sok gapapa lo Rey, nangis tuh pasti ada alesannya.”, Kata Adrian sewot yang dibalas pelototan Reya. Ia sungguh tidak ingin bertengkar hari ini.
“Iya, Rey. Cerita lah. Kita kan keluarga.”
“Ngg.. gausah deh.”
“Siapa tau kita bisa bantu, kamu gak percaya sama keluarga sendiri, Rey?”
“Eh.. bukan gitu.”
“Yaudah, makanya cerita.”
“Ngg.. ya intinya aku kecewa.”
“Widihh.. ngeri nih Reya. Kecewa sama Adrian  ya, Rey?”
“Apaan bawa–bawa nama gue.”, Adrian yang merasa terpanggil namanya membela diri.
“Sama matematika.”
“Napa emang matematika?”
“Dari dulu tuh, gue selalu merhatiin pelajaran matenatika. PR juga selalu gue kerjain—meskipun banyak nanya. Kalo ulangan juga belajar sampe malem dan gue rela gak belajar pelajaran lain demi matematika. Dan hasilnya? Nilainya udah kayak anak kecil belajar berhitung. Empat lima paling mentok di enam. Gue tuh jadi ngerasa—bodo banget gitu ya. Salah apa coba? Apa iya harus pake nyontek biar hasilnya bagus?”
“lo salah besar, Rey..” Potong Adirian langsung.
“..Lo jangan pernah sekalipun nyontek—dengan cara apapun. Lo emang bisa puas setelah tau nilai lo bagus. Tapi setelahnya—lo akan bener–bener nyesel. Sebenernya bukan cuma itu yang gue takutin. Gue takutnya lo sekali nyontek akan ketagihan nyontek terus, Rey—kebiasaan ngandelin orang lain. Gimanapun,  nyontek itu sama aja korupsi.”
“Ya, tapi nilai matematika gue jelek terus, mama gue bisa koor Indonesia raya tiap pagi ke gue.”
“Matematika doang kan? Pelajaran lain baik–baik aja kan? Biologi misalnya. Lo gak harus pinter matematika buat jadi dokter, lo gak harus pinter matematika buat jadi presiden. Lo tau aja udah cukup. Gak semua pekerjaan tuh nuntut pinter matematika, Rey. Kesalahannya adalah..”
“Apa?”
“Kita hidup di negara yang memandang kecerdasan siswanya dilihat dari nilai matematika mereka. Sementara bapak gue SMA aja gak lulus, tapi sekarang? Bisa jadi pengusaha sukses.”
“Tapi gue udah usaha buat dapetin nilai bagus.”
“Hasil tuh ga selalu bisa dilihat sekarang. kalo nilai matematika lo jelek itu gak usah sepaneng—hidup lo gak selalu tentang matematika. Ada banyak hal di dunia ini yang gak bisa dihitung secara matematis. Kerja keras misalnya.”
“Tapi orangtua gue, selalu ngeliat hasil, tanpa ngeliat gimana usaha gue ngedapetinnya. So, itulah yang ngebuat gue kepikiran buat nyontek.”
“Hah, dengan cara kayak begitu lo yakin masa depan lo bagus ? Rey, kalo lo mau punya masa depan yang cerah, yang bagus, kenapa harus pakai cara yang jelek buat ngedapetinnya?  Norak, Rey.”
Adrian terdiam sejenak. 2 detik kemudian melanjutkan kata–katanya.
“... Lo tiap pulang sekolah seminggu 2x ikut saka, tiap sabtu lo bantuin orang–orang di buat sosialisasi kesehatan. Malemnya, lo masih maksain diri buat belajar. Di usia lo segini, lo udah belajar mengabdi tuh udah keren. Percaya sama gue. Tuhan gak buta, Rey. Tunggu 5 sampe 10  tahun lagi. Apa yang akan terjadi di kehidupan lo.”
Skak mat—semua perkataan Adrian (mungkin) benar. Teman–teman Reya diruangan itu melongo—selama ini mereka tidak tahu bahwa Adrian bisa sebijak itu. Sementara Reya hanya terdiam—merenungi apa yang dikatakan Adrian—yang justru semakin ia membantah, hatinya berkata semua perkataan Adrian benar.
“Inget, Rey. Gaada satupun usaha yang sia–sia. Hasil gak akan menghianati kerja keras”, Kata Adrian ketika mengakhiri kalimatnya.
Sore itu langit cerah—tanpa awan. Semoga pertanda baik.
Jakarta, 2022
Reya hendak melepaskan jas dokter miliknya ketika asistennya mengatakan bahwa masih tersisa satu pasien lagi. Reya mengangguk mengiyakan. Tersenyum ketika seorang pasien masuk ke ruangannya dengan memakai masker. Mungkin flu—pikirnya.
Pasien itu duduk di hadapan Reya. Reya hendak bertanya sontak terkejut ketika pasien di depannya membuka masker.
Ini Adrian, kan?
“Adrian?”, kata Reya dengan nada bertanya, yang dipanggil justru cekikikan.
“Santai aja keles mukanya, Rey. Jadi gimana? Kata Gue dulu bener, kan?”
Reya tertawa.
“Jadi lo jauh–jauh kesini Cuma mau nyampein itu doang? Rese lo, ah.”
Adrian ikut tertawa.
“Kalo iya kenapa?”
“Thanks a lot, Yan. I was so lucky to have a friend like you.”, Kata Reya sambil tersenyum.
“Lebay, lo.”, Balas Adrian beberapa detik kemudian dan membuat sontak mengerucutkan mulutnya dan memukulkan bantal leher dibelakangnya pada Adrian.
Dan lagi, seperti bernostalgia, mereka justru kembali bertengkar seperti hari – hari di tujuh tahun lalu.



Karya : Hafidhania Penadi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kasih Yang Terpendam
Musim mulai berganti. Begitu pula dengan seragam putih biru yang kini mulai berganti menjadi putih abu-abu. Namaku Rinta Ayu Lesmana, aku seorang gadis remaja 15 tahun yang duduk di kelas 9 SMP. "Rin gimana masih pusing nggak?", tegur seorang gadis berambut panjang. Gadis itu adalah Nindya Kusuma. Sahabat yang sangat tahu tentang diriku. Kami sudah bersahabat dari 3 tahun yang lalu. "Nggak papa kok Nin,  ini udah agak mendingan." Kami sedang berada di sebuah bus yang menuju ke kota kelahiranku yaitu Yogyakarta. Sekolah kami baru saja melakukan kegiatan study tour ke Bandung sejak 2 hari yang lalu. Kegiatan study tour ini merupakan agenda terakhir di akhir semester ini. Kondisi tubuhku saat ini memang sedang tidak sehat. Nindya duduk disampingku selama kami berada di dalam bus. Dia selalu merawatku, ketika aku merasa mual atau pusing, dia adalah orang yang terus menemani dan memberi semangat padaku.
Nindya sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Kini tiba saatnya kami harus menjalani ujian akhir nasional. "Eh Rin kamu pengen nerusin kemana nanti?", tanya Nindya kepadaku. "Kalau bisa, aku ingin sekali sekolah di SMA 3 Jogja, kalau kamu rencananya mau kemana?", jawabku dengan kembali melempar pertanyaan. Kulihat wajah Nindya tertunduk lesu dan dengan pelan keluar suara, "Sepertinya aku akan melanjutkan sekolah ke Bogor Rin." Aku terbelalak mendengar ucapan Nindya, perlahan air mata membasahi pipiku. Aku tak sanggup membayangkan kenyataan yang akan kuhadapi, sahabat yang selama ini ada menemani hari-hariku dengan sekejap mata akan pergi untuk meneruskan masa depannya jauh dari kota ini. Bibirku mulai bergetar seiring ucapan keluar dari mulutku, "Kalau kamu beneran mau ke Bogor, jangan lupain aku ya Nin, kita udah lama sahabatan kayak gini." Dengan seketika Nindya memelukku sangat erat, air mata membasahi wajahnya. "Pasti Rin, aku nggak akan lupain kamu. Aku yakin suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi, main bareng, ngobrol bareng dan banyak lagi." Kelamnya senja sore itu seolah mengerti akan perasaanku dan Nindya.
Tak pernah kusangka bahwa sore itu adalah pertemuan terakhirku dengan Nindya, karena keesokan harinya Nindya sudah berangkat ke Bogor. Berat rasanya memulai masa putih abu-abuku tanpa Nindya, sahabat terdekatku. Di SMA baruku ini memang banyak teman-teman yang sangat baik padaku, namun tak satupun dari mereka yang lebih mengerti tentang diriku kecuali Nindya. Hari demi hari kulalui dengan berbagai macam hal baru. Ada masanya aku mulai tertarik dengan seorang pria, namun tak lebih dari cinta monyet anak SMA. Tak terasa kini seragam putih abu-abu sudah akan kutanggalkan. Kini aku sudah beranjak menjadi gadis dewasa. Aku tidak pernah lupa pada Nindya, sahabat masa SMP-ku. Sudah setahun ini aku tidak berkomunikasi dengannya lagi. Rasanya berat, apa mungkin Nindya sudah bosan ataukah dia sudah lupa denganku? Yang jelas, kini kami sudah menjalani kehidupan kami sendiri-sendiri tanpa saling mengetahui satu sama lain.
Kini tiba saatnya aku harus belajar ekstra keras untuk bisa meneruskan masa depanku di universitas yang aku inginkan. Sebuah universitas terkemuka di Jogja, yaitu Universitas Gadjah Mada. Aku mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas yang menunjang kegiatan belajarku. Pagi ini aku memulai hariku dengan semangat karena hari ini adalah hari seleksi untuk masuk UGM dengan tes. Aku mandi dan segera menuju UGM. Rasanya mendebarkan, soal-soal yang harus kukerjakan lumayan sulit, namun aku harus tetap optimis. Aku mendaftar jurusan Akuntansi di UGM. Setelah selesai melakukan tes itu, aku menuju parkiran kampus untuk mengambil motorku dan segera pulang. Tiba-tiba, "Bruuk . . .", aku terjatuh ke lantai. Kulihat seorang laki - laki berbadan tegap dan tinggi sedang merapikan buku-bukuku yang berserakkan di lantai. "Eh maaf mbak saya nggak sengaja, nih buku-bukunya." ucap lelaki itu dengan sopan. Aku segera berdiri dan menjawab, "Iya mas, nggak papa. Lain kali hati-hati aja." ucapku dengam senyum lalu aku berjalan meninggalkan laki-laki itu. Aku mulai mengendarai motorku dan meninggalkan kampus itu, di perjalanan kulihat lelaki yang tadi menabrakku di kampus itu sedang berjalan bersama seorang wanita di sebelahnya. Wanita itu berkacamata dan seolah aku sudah tidak asing lagi dengan wajah wanita itu. "Ah mungkin itu temannya." ucapku sambil meneruskan perjalanan.
"KRIIIINGG . . . . .  KRIIING . . .", bunyi alarm di kamarku. Hari ini tanggal 21 Februari 2016, hari saat hasil tesku akan diumumkan di UGM. Dengan bersemangat, aku mulai merapikan diri dan berangkat ke UGM. Disana sudah riuh oleh calon mahasiswa yang juga ingin melihat hasil tes mereka. Perlahan aku menyusup gerombolan orang-orang yang berjubel di depan papan pengumuman. Setelah berjuang keras, akhirnya aku mencapai papan pengumuman tersebut, ku fokuskan pandanganku pada sebuah kertas yang tertempel di depan mataku. "Yeeeeee . . . ." , teriakku setelah aku mendapati namaku tertera disana sebagai daftar mahasiswa yang diterima di jurusan Akuntansi UGM. Saat itu aku dengan spontan memeluk orang di sebelahku. Setelah aku tersadar, aku segera melepaskan pelukan itu. " Ehh ehhh maaf mas, saya terlalu senang tadi makanya jadi begitu." Lelaki itu menjawab, " Lhoo mbak kan yang kemarin bukunya jatuh gara-gara saya tabrak kan. Senang bisa ketemu sama mbak lagi.
 Aku tersentak bahwa ternyata lelaki yang kupeluk tadi tidak lain adalah lelaki yang dulu pernah membuat buku-bukuku jatuh. "Eh iya mas. Sekali lagi maaf ya." Ucapku dengan sedikit gugup. " Iya mbak, nama mbak siapa?", tanya lelaki itu dengan mengulurkan tangannya. "Nama saya Rinta.", jawabku dengan tersenyum sambil membalas uluran tangannya. "Saya David mbak. Salam kenal." Balasnya dengan senyuman manis.
Dalam sekejap kurasa ada sebuah rasa masuk dalam hatiku. Entah apakah itu. Hari-hari selanjutnya David selalu terbayang diingatanku. Apalagi David sangat baik padaku. Kami sering bertemu di kampus secara tidak sengaja.
Sore ini aku harus mengantar ibukku ke rumah makan temannya untuk memesan makanan. Sesampainya di rumah makan itu, aku tertarik dengan sebuah rumah dengan kebun terbuka di pelatarannya. Kebun itu dipenuhi macam-macam bunga dengan kolam ikan dibagian tengahnya. Kulihat ada seorang gadis sebayaku sedang menyiram bunga di salah satu sudut taman itu. Kusapa gadis itu, "Wah bunga nya bagus-bagus mbak." Gadis itu membalikkan badannya. Dan ternyata, aku sangat kaget dengan apa yang kulihat di depan mataku. "Nindya, ini beneran kamu?", kulihat gadis itu juga kaget namun setelah itu dia tersenyum padaku lalu memelukku dengan erat. Tak pernah kusangka bahwa kami akan bertemu disini. Kami kembali meneteskan air mata seperti pada saat kami akan berpisah. Aku dan Nindya mulai berbincang-bincang seperti dulu. "Apa kabar Rin kamu?", tanya Nindya. "Aku baik- baik aja Nin, kamu sendiri gimana Nin?", "Aku juga baik-baik aja Rin." Semenjak pertemuan itu hubungan persahabatanku dengan Nindya kembali terjalin baik seperti dulu. Apalagi belum lama ini aku tahu bahwa Nindya juga sudah kembali ke Jogja dan juga kuliah di UGM.
Hari ini aku sangat lapar setelah mengikuti beberapa mata kuliah. Aku sudah resmi menjadi mahasiswa di UGM. Aku segera menuju kantin dan kulihat disana ada David yang sedang memesan minuman. Dengan sengaja aku memilih tempat duduk di sampingnya. "Hallo Vid, kok sendirian?", David segera menoleh ke arahku, " Iya Rin, nggak ada temen nih, habis lihat pengumuman." Saat David mengatakan itu, pandanganku tertuju pada handphone David yang tepat berada di depanku. Kulihat layarnya, " Deg . . ." jantungku mulai berdebar kencang. Kuberanikan diri untuk bertanya pada David, "Vid kalau boleh tau, cewek ini siapa?". David segera membuka ponselnya dan melihat foto yang kumaksud itu sambil tersenyum manis seolah pikirannya menerawang jauh entah kemana. "Oh ini, ini pacarku Rin. Namanya Nindya, saat ini dia sedang sakit-sakitan, ini alasan kenapa selama ini aku yang sering ke kampus ini untuk mencarikan dia info. tentang kampus ini. Aku sangat menyayanginya. Kasihan dia akhir-akhir ini dia harus bolak-balik ke Rumah Sakit untuk menyelesaikan pengobatannya." Dalam sekejap, ada rasa memasuki jiwaku, kurasakan semua perasaan yang selama ini kubangun untuk David seketika runtuh. Aku tak tahan mendengar kata-kata David yang menceritakan tentang Nindya, sahabat terdekatku. Rasanya sakit. Kuputuskan untuk aku pergi dari kantin itu, "Vid, maaf ya aku harus pergi." Aku segera berlari menuju taman kampus, disana air mataku tak terbendung lagi. Tak pernah kusangka bahwa ternyata David adalah kekasih Nindya, sahabat yang baru saja aku temui kembali.
Handphone-ku berbunyi saat aku masih ada di taman kampus. Tertera di layarku tulisan "Sahabatku Nindya". Segera kuhapus air mataku dan aku mulai bicara, "Hallo Nin, ada apa?", mulai terdengar suara dari ujung telepon, "Begini Rin, besuk kamu datang ke rumahku ya jam 7 malam." Suara itu terdengar sangat bahagia dengan sedikit tawa. Jawabku, "Memangnya ada acara apa Nin?"
Sejenak tak terdengar suara dari telepon itu, "Aku mau tunangan sama pacarku Rin, namanya David. Besuk kukenalin sama kamu deh, yang penting kamu datang ya." Air mataku kembali jauh.  Dengan segera aku menjawab, "Iya Nin, aku akan datang." Segera ku matikan handphone-ku. Perasaanku serasa dihantam sesuatu yang tak mudah untuk aku jelaskan.

 Tiba malam dimana pertunangan Nindya dan David akan digelar. Aku datang dengan membawa kado untuk Nindya. Sebenarnya masih berat untuk aku menerima kenyataan ini. Namun aku berusaha ikut bahagia atas kebahagiaan sahabat terdekatku yaitu Nindya. Sampai tiba hari pertunangan itu, tak ada seorang pun yang tahu jika sebenarnya aku menyimpan perasaan terpendam pada David.

Karya : Dyah Cintya Paramita
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

/>

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juli 2018 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (1)
  • November 2016 (12)
  • Agustus 2015 (1)
  • Maret 2015 (2)
  • Februari 2015 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates