• Home
  • /a>
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Abziz Blog


Novel
Kubalikkan lembar-perlembar halaman novelku, saat itu sudah tiga jam sejak adikku tertidur. Aku tidak dapat menghentikan ini. Rasa ingin tahuku menyeruak hingga aku mengetahui akhir dari novel ini. Yah, memang beginilah kebiasaanku. Di kasur ini aku membaca novel yang tebalnya hampir lima sentimeter. Di sampingku, adikku yang kelas dua SD tampak menggeliat dalam tidurnya. “Semoga mimpi indah,” batinku disela membaca. Kembali kuteruskan membaca, sesaat aku mendengar suara-suara aneh dari dalam dapur. Aku tidak mempedulikannya dan melanjutkan membaca. Sudah empat perlima bagian yang telah kubaca. “Sebentar lagi selesai,” pikirku sambil tersenyum. Kembali kudengar suara-suara aneh, tapi kali ini bukan berasal dari dapur. Kuedarkan pandangan mataku ke arah luar kamar. Gelap, kamarku satu-satunya yang masih menyala. Mataku terasa perih saat mencoba memfokuskan pandanganku ke luar kamar. “Ah, sudahlah. Itu pasti suara tikus atau kucing tetangga,” aku berusaha menenangkan diri. Suara itu terdengar lagi. Kembali kulihat ke arah luar kamarku saat bayangan hitam tiba-tiba muncul dan melihat ke arahku sesaat. “Apa itu!” aku tersentak kaget. Aku berlari ke luar kamar mencari bayangan itu. Aku juga menyalakan semua lampu agar dapat melihat sosok itu. Jantungku berdebar kencang dan tubuhku menegang, perlahan aku berjalan ke arah pintu depan. Saat aku mencoba membuka pintu, ternyata pintu rumah dalam keadaan terkunci.  Kurasa maling sekalipun tak dapat masuk rumah ini, tapi tadi itu apa? aku kembali mencarinya, tapi tak menemukan apa-apa. Mataku terasa berat untuk terus mencari. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, jantungku masih berdebar tak karuan dan perasaanku menjadi tak enak. Adikku masih tertidur pulas, aku duduk di sampingnya. Kulirik jam di depanku. “Jam dua malam, pantas saja aku jadi berhalusinasi begini …”
***
“Mbak, bangun!” teriak adikku sambil menggoyang-goyangkan badanku.
“Mbak, banguun! nanti telat, sekarang sudah jam setengah enam.”
“Apa?” teriakku tak percaya dengan yang apa yang kudengar. Aku langsung terbangun meski masih terasa mengantuk dan bergegas mengambil handuk
untuk mandi.
“Hei!” aku berteriak ketika adikku lebih dulu masuk kamar mandi.
“Siapa cepat, dia dapat.” Kata adikku sambil tertawa tidak jelas.
“Huh, dasar anak kecil!”  umpatku dalam hati. Aku kembali ke kamar, tak akan ku sia-siakan waktuku. Dengan cepat aku menjadwal pelajaranku hari ini, hari Jumat, dan memasukkannya ke dalam tas. “Bahasa Inggris, sejarah… apalagi, ya?” aku mencoba mengingat-ingatnya karena aku tidak mempunyai jadwal pelajaran. “Ah iya, ekonomii…” aku langsung memasukkan buku ekonomi ke dalam tas dengan malas, yah karena sebenarnya aku memang tidak menyukai pelajaran ekonomi. Setelah selesai menata jadwal pelajaran, aku berjalan ke kasur untuk merapikannya. Pertama, aku merapikan bantal dan menempatkannya ke tempat semula. Lalu aku menarik selimutku, aku merasa ada sesuatu yang jatuh. Aku melihat ke bawah dan langsung memungut benda itu. Melihat itu aku menjadi ingat kejadian semalam, tubuhku menegang. Aku merasa sesuatu memegang tubuhku.
“Mbak, aku dah selesai.” Kata seseorang di belakangku. Aku membalikkan badanku, “Ternyata Zidan, huh!” Aku terkejut sekaligus lega. Aku lalu bergegas melipat selimut dan meletakkan benda itu ke dalam rak buku. Setelah itu aku bergegas mandi. Selesai mandi aku langsung mempersiapkan diriku dan menyisir rambut panjangku lalu mengikatnya. Sekarang sudah jam enam pagi, aku bergegas memakai sepatu melihat adikku yang satunya lagi sudah menungguku di luar. Ibu telah menyiapkan sarapan, tetapi aku memintanya untuk dijadikan bekal di sekolah.  Setelah semua siap, aku pamit berangkat sekolah kepada ibu. Aku juga mencari ayah untuk pamit, tetapi ayah tidak ada di dalam rumah. Ternyata ayah ada di luar sedang berbicara dengan seseorang. Aku berjalan mendekatinya dan mendengar sedikit pembicaraan mereka.
“…bisa jatuh?” kata seseorang.
“Kurasa karena kucing atau anjing.” Kata ayah.
“Bagaimana bi–” orang itu berhenti berbicara saat melihatku berjalan ke arah ayah, “Sudah mau berangkat ya, dek?”
“Eh, emm iya, Pak!” kataku gugup kepada orang itu yang ternyata tetangga sebelahku. Aku langsung berpamitan dengan ayah dan tetanggaku. Di luar rumah sudah terparkir rapi sepedaku yang tadi disiapkan Ayah. Aku langsung menaiki sepeda sembari melihat tampang kesal adikku, Zidan, disampingku.
“Ayo berangkat, Dan!” Kataku sambil mengayuh sepeda.
“Lama banget, sih! Nanti aku te –”
“Iya, maaf.” Sengaja kupotong perkataan Zidan, adikku yang sekarang kelas 3 SMP. Kebetulan aku dan Zidan searah menuju sekolah. Tetapi aku kelas sepuluh, jadi aku tidak satu sekolah dengannya. Hanya saja sekolahnya lebih jauh dari sekolahku, itu yang membuatnya kesal padaku. Ia tidak mau telat sekolah, ia malu jika diketahui teman-temannya. Maklum, ia anak populer di sekolahnya. Tapi, yang unik darinya, ia tidak mau memakai motor ke sekolah yang menurut orang lain keren. Ia malah memilih berangkat naik sepeda. Baginya naik sepeda itu lebih keren dan menyehatkan. Yah, aku sendiri pun setuju Zidan naik sepeda, bukan karena kerennya, tapi karena dia belum punya SIM. Itu juga alasannku naik sepeda, selain itu aku bisa menikmati pemandangan indah ini dengan gratis selama perjalanan. “Ah, ini bukan waktunya memikirkan itu sambil melihat pemandangan. Bukan cuma Zidan yang telat aku juga bisa telat kalau begini terus,” batinku melihat kebodohan yang dari tadi kulakukan.
“Ayo, ngebut!” Kataku sambil mengayuh sepeda dengan cepat. Zidan mendengus mendengarnya.
“Dari tadi aku udah bilang itu,” Zidan mulai menyamakan kecepatannya denganku, “Ayo, lebih cepat lagi sekarang udah jam setengah tujuh!” teriak Zidan.
Mendengar itu aku pun mempercepat laju sepedaku lagi. Saat sampai di perempatan jalan, aku langsung belok kiri sementara Zidan tetap lurus.
“Bye!” kataku sambil melambaikan tangan. Zidan membalasku dengan melambaikan tangannya juga kepadaku.
***
Aku tiba di sekolah bertepatan dengan bel masuk dan langsung bergegas memakirkan sepeda. Setelah itu aku berjalan cepat menuju kelas. Beberapa siswa lain juga bergegas menuju kelasnya. Di kelas aku langsung duduk dan mengelap keringatku. Saat itu juga, bu guru datang, ketua kelas pun langsung menyiapkan kelas. Lalu, Bu Eka, guru bahasa Inggris mulai mengabsen murid-murid.
“ … Bayu,”
“hadir, Bu!” Kata seorang siswa yang juga ketua kelas ini , kelas 1 B.
“Nana,”
“Hadir, Bu!” Jawab seorang siswi yang duduk di depan mejaku yang juga mengangkat tangannya.
“Dian,”
“Hadir, Bu!” Jawab seorang siswi yang lain.
“Karina,”
“Hadir, Bu!” Jawabku terkejut sambil mengangkat tanganku. Tak menyangka namaku dipanggil, ternyata Bu Eka mengabsennya secara acak. Dan, yaps! benar itulah namaku, lengkapnya Karina Ayu Mutia. Saat ini aku berumur 15 tahun. Bersekolah di sekolah biasa, jarang bicara kecuali dengan teman dekat atau dengan terpaksa. Karena aku lebih suka membaca buku di perpustakaan sehingga aku kurang akrab dengan teman sekelasku.
Pelajaran pertama, Bahasa Inggris cukup menyenangkan, teman-temanku yang lain sepertinya juga menikmati pelajaran ini. Terutama saat seseorang temanku maju dan menceritakan pengalamannya dalam Bahasa Inggris. Aku dan teman-temanku tertawa melihat aksinya di depan kelas. Sebenarnya beliau pandai dalam berbahasa Inggris, alasan mengapa aku dan teman-teman tertawa lebih dikarenakan ekspresi beliau dalam menceritakan kisahnya bertemu dengan anjing peliharaanya, yang menurutnya lebih indah dibanding saat beliau bertemu dengan pacarnya. Semua siswa di kelas sontak menyorakinya, tentu saja karena beliau tidak pernah berpacaran.
“Hei, mending pacaran saja sana sama anjingmu!” kata Bayu jahil.
“Tidak perlu repot-repot karena aku sudah menganggapnya sebagai pacar,” kata Rian.
“Beneran, nih?” sahut Putri.
“Enggaklah, memangnya aku gak ada yang mau sampai pacaran sama anjing.” Jawab Rian jengkel.
“Ya, kenapa enggak?” tanya Angel, tampaknya ia dari tadi memperhatikan orang yang ada di depannya itu sambil menahan tawa.
“Oh! Jadi gitu, ya?” kata Mia, memasang wajah seriusnya. Aku tahu ini semua hanyalah bercanda.
“Iya-iya, kenapa enggak?” timpal Lina kali ini, kondisi kelas sekarang malah makin kacau.
“Hei! Kali–”
“That’s enough. Thanks you, Rian.” Potong Bu Eka sambil tersenyum. Rian pun langsung kembali ke tempat duduknya. Sepertinya Bu Eka memahami kondisi yang terjadi. Jika terus dibiarkan kurasa pembicaraan ini tidak akan selesai.
***
Pelajaran pertama berakhir dan aku benar-benar merasa malas pada pelajaran selanjutnya. Temanku yang lainnya sedang asik mengobrol. Sedangkan teman sampingku ini, Yasmin, sibuk memainkan ponselnya.
“Ngapain, Min? Kok senyum-senyum,” tanyaku memastikan aku tidak salah lihat.
“Enggak kok, lucu aja baca ini,” gumam Yasmin.
“Baca apa-an?” tanyaku penasaran.
“Rahasia, mau tahu aja!” jawab Yasmin asal-asalan. Aku mengerutkan keningku melihat tingkah Yasmin saat ini. Tiba-tiba kelas menjadi diam, reflek aku melihat kearah pintu. Ternyata Pak Wiharto, guru ekonomi sudah datang.  Pelajaran kali ini tentang ‘’Sistem dan Alat Pembayaran’’, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi saat pelajaran dimulai. Sebenarnya sejak pelajaran pertama kepalaku terasa sakit, tapi karena pelajarannya menyenangkan rasa sakitnya tidak terlalu terasa. Sekarang kepalaku benar-benar sakit. Aku menengok ke belakang melihat jam. Jam menunjuk pukul delapan lebih lima belas menit. Aku menghembuskan napas panjang, tak sabar pelajaran ini segera berakhir.
Aku meletakkan kepalaku di atas hamburan buku-bukuku yang tergeletak pada meja. Aku melihat ke arah luar kelas, sambil mengetuk-ngetukkan pensil, bermaksud menghilangkan sakit kepalaku ini. Samar-samar kudengar suara Pak Wiharto mengajar. Di luar aku melihat seseorang mengenakan pakaian aneh. Seperti kostum yang ada di sirkus-sirkus dalam film. Ia mengenakan baju berwarna belang merah kuning dengan sedikit rumbai berwarna putih, celana panjang berwarna biru, sepatu coklat dengan ujung yang runcing. Dan satu lagi yang paling aneh kurasa, yaitu topi bundar berwarna-warni. Dia berdiri di depan kelasku. Menatap dan tersenyum kepadaku, kurasa. Dia tampak keriput dan rambutnya berwarna putih. Tapi anehnya teman-temanku tidak menyadari kehadirannya.  Sesuatu yang lembut terasa di bawah kakiku. Aku melihat ke bawah dan ternyata seekor kucing berbulu hitam. Beberapa kali sebelumnya kucing itu juga masuk ke kelasku. Entah aku tak tahu mengapa? Tapi sepertinya kucing itu seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku melihat ke arah luar kelas lagi, tapi orang itu sudah tidak ada.
 “Ah, aku tertidur. Jam berapa ini?” gumamku sendiri. Aku melihat ke arah jam, sekarang jam setengah dua belas malam. Aku terkejut begitu mengetahuinya. “Kenapa aku bisa tertidur selama ini? Kemana yang lainnya?” aku melihat sekelilingku. Aku masih mengenakan seragam dan berada di kelas sendirian. Aku tak tahu kenapa teman-temanku atau bahkan guruku, kenapa mereka tak membangunkanku? Aku membereskan buku-bukuku dan berjalan keluar. Kelas tak terkunci, pintunya masih terbuka. Tanpa sadar aku meneteskan air mata dan terus berjalan ke parkiran sekolah. “Kenapa mereka setega ini? Kenapa mereka tak membangunkanku? Aku salah apa? Kenapa begini kupikir mereka temanku? Apakah mereka temanku?” aku terjatuh dan menangis merasakan apa yang dilakukan teman-teman kepadaku. Aku bahkan tak tahu lagi mereka temanku atau bukan. Aku tahu aku sering membaca sehingga jarang berbicara pada mereka, tapi bukankah ini sudah keterlaluan.
Aku bangun dan membersihkan air mataku dengan tangan. Malam ini sangat gelap, lampu-lampu di sekolah hanya sedikit yang menyala. Aku meneruskan jalanku, tapi aku merasa sesuatu yang aneh. Aku melihat ke atas langit di mana bulan dan bintang berada, tapi tak ada satupun bulan dan bintang yang terlihat. Aku mengerutkan kening tak mengerti, bahkan di langit yang cerah tak ada bulan dan bintang yang menemaniku. Aku bergegas menuju parkiran sepeda mencoba tak mempedulikan hal aneh yang menimpaku. Aku berjalan cepat melewati kelas-kelas dan kuperhatikan tiap kelas yang kulalui. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, tapi di setiap pintu kelas terdapat noda merah seperti darah.  Bahkan tirai-tirai jendela yang semula berwarna hijau menjadi merah. Di parkiran aku terkejut, ternyata tidak seperti yang kukira. Sepedaku bukanlah satu-satunya yang ada di parkiran, masih banyak sepeda dan motor yang terparkir. Saat mencari sepedaku aku melihat seseorang di parkiran, wajahnya tak terlihat karena gelap. Aku berjalan mendekatinya dan melihat sekeliling memastikan apakah ada orang lain atau tidak? Orang itu berdiri tegak tak bergerak, tapi sepertinya ia melayang aku tak tahu pasti di parkiran benar-benar gelap. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Aku mengambil ponselku di tas dan menyalakan flashlight. Kemudian aku mengarahkan ponselku ke arah orang itu. Begitu terlihat jelas wajah orang itu, aku tak bisa berpikir apa-apa. Badanku begitu kaku, tanganku bergetar tanpa kuinginkan, dan ponselku tiba-tiba terlepas dari genggaman. Aku tak percaya dengan yang kulihat, berkali-kali aku mengerjap-ngerjapkan mata berharap kenyataan ini tak nyata. Namun bentuk itu makin terlihat jelas. Orang itu adalah Dian, dia meninggal dengan tubuh yang digantung dan pisau yang menancap di dadanya. Wajahnya pucat pasi dengan mulut menganga dan mata terbuka terbelalak. Aku menangis tak percaya semua ini terjadi aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu kenapa Dian dibunuh dengan kejam seperti ini dan siapa yang membunuhnya? “Jika semua sepeda dan motor masih ada di sini, apakah yang lainnya juga dibunuh? Apa itu sebabnya ada darah di pintu tiap kelas? Jika itu benar-benar terjadi berarti pembunuh itu masih ada di sini.” Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba sesosok hitam bergerak, aku langsung berlari mengejarnya. Memaksa tubuh ini bergerak tak peduli apakah itu si pembunuh atau bukan. Aku terus mengejar sosok itu, aku semakin mendekatinya. Sosok itu terlihat mengenakan jaket dan celana berwarna hitam.
“Ber… berhenti! Apa kamu si pembunuh?” teriakku dengan marah. Orang itu berhenti sebentar kemudian berlari lagi. “Hei, kubilang berhenti! Jawab pertanyaanku!” Orang itu tiba-tiba menghilang, aku berjalan mencarinya. Tiba-tiba seseorang menutup mulutku dari belakang. Aku berusaha melepasnya, tapi sia-sia tenaganya lebih besar. Orang itu kemudian menarikku ke belakang dan membisikkan sesuatu.
“Tenanglah, akan kujawab pertanyaanmu jika kau tenang,” suaranya terdengar berat seperti suara laki-laki. Aku menganggukkan kepala dan dia melepaskan tangannya. Aku berbalik dan memperhatikannya ternyata sosok itu adalah seorang laki-laki remaja. Tetapi aku belum pernah melihatnya di sekolah atau pun di rumah. Dia lebih tinggi dariku, aku mencoba mengingat-ingat apakah aku mengenalnya atau tidak? “aku bukan siapa-siapa, kau tak mengenalku. Cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan.” Katanya membaca pikiranku.
“Oh, umm a… apa kamu yang membunuh temanku Dian? Apa temanku yang lainnya juga kamu bunuh?” aku berusaha tidak menangis, tetapi bayang-bayang Dian terus berputar di kepalaku.
“Bukan aku yang membunuh Dian dan temanmu yang lain sepertinya juga terbunuh.” Kata laki-laki itu dengan tenang tak peduli kegelisahanku.
“Si… siapa yang membunuh teman-temanku, kenapa ia melakukannya?” tanyaku terisak aku sudah tak tahan lagi.
“Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu. Tapi, aku dapat mengatakan apa yang terjadi, jadi tenanglah jangan menangis.” Katanya lembut sambil mengusap air mataku. Aku mengangguk dan menenangkan diriku.
“Baikklah, jadi sebenarnya apa yang telah terjadi?” kataku tak sabar.
“Pikirkan dan dengarkan ini baik-baik aku tak akan mengulanginya, waktuku tak lama lagi. Apakah tidak aneh jika di langit di mana bulan dan bintang berada tidak ada? Coba kau lihat tak ada awan sama sekali, tapi tak ada satupun bulan dan bintang yang terlihat. Pikirkanlah nanti kau dapat mengerti apa yang terjadi. Kau tadi juga sempat menyadarinya, kan?” Katanya sambil menunjuk ke langit.
“Kenapa kamu tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi? Dan kenapa harus teka-teki?” aku benar-benar tak mengerti di situasi seperti ini dia malah memberiku sesuatu yang harus kutebak.
“Karena dengan begitu kau dapat memahami apa yang terjadi.” Katanya pelan.
Seketika orang itu menghilang entah kemana begitu mengatakannya. Dan aku entah mengapa berdiri di depan kelasku sendiri. “Apa yang sebenarnya terjadi?” aku ragu apakah aku harus masuk atau tidak? Tetapi aku mendengar sesuatu dari dalam kelas jadi aku memutuskan masuk ke dalam. Kelas tertutup, aneh padahal tadi masih terbuka. Tanganku bergetar perlahan-lahan aku menggerakkan tanganku dan mencoba membuka pintu kelas. Dengan tanganku yang kiriku terkepal erat aku mendorong pintu dengan tanganku yang lain. Pintu terbuka, di kelas sangat gelap aku tidak dapat melihat apapun. Beruntung aku sempat mengambil ponselku sebelum berlari mengejar pemuda tadi. Aku mulai menyoroti sudut penjuru kelasdan berjalan memasukinya. Aku berkeliling kelas sambil terus berpikir perkataan pemuda tadi meski pikiranku terasa kacau. Lalu aku melihat seseorang memakai jubah berdiri membelakangiku. Orang itu tampak memegang pisau dan berbalik kearahku begitu aku meyorotinya. Aku yakin dia pembunuhnya, tapi aku tak yakin siapa orang yang ada di hadapanku wajahnya familiar denganku. Mirip denganku, benar-benar mirip, aku yang berdiri di sana mengenakan jubah sambil membawa pisau. Aku diam beku begitu orang itu berjalan mendekatiku.
“Ke… kenapa kamu membunuh teman-temanku? Kenapa?” teriakku sambil menahan air mata.
“Seharusnya kamu tahu, kenapa. Aku adalah kamu. Apa kamu sudah membaca pesanku di tubuh Dian?” jawab orang itu sambil tertawa.
“Aku bukan kamu. Jangan menipuku dasar pembunuh! Dan pesan apa yang kamu maksud?” lagi-lagi hal yang tidak kumengerti, aku sudah sangat muak.
“Apa kamu lupa kejadian saat itu,” katanya sambil memegang bahuku. “Dian si busuk itu, dia membiarkanmu begitu saja melihat kamu jatuh dari sepeda. Padahal ia melihatnya dan ia malah menertawakanmu, bukan begitu? Aku sengaja menulis penghianat di kertas itu karena sebagai teman ia malah melakukan itu. Jadi aku membunuhnya dan itu juga yang kamu inginkan, bukan?”
“Kamu salah, Dian nggak pernah seperti itu. Dia tidak melihatku. Dan apa hanya karena ini kamu membunuhnya? Dasar pembunuh kejam!”
“Dia bahkan tak menganggapmu sebagai teman dan temanmu yang lainnya pun juga begitu. Aku bukan pembunuh kejam, aku adalah kamu. Satu lagi, kamu sendiri juga tidak pernah menganggap mereka sebagai teman. Bagimu mereka adalah pengganggu di saat kamu membaca, benar begitu?” sosok itu kembali tertawa begitu melihatku pucat.
“Se… sebenarnya siapa kamu? A… aku selalu merasa mereka teman-temanku. Dan ucapanmu salah.” Aku tergagap mengatakannya, tak mengerti juga ia bisa mengetahuinya.
“Aku tahu segalanya karena aku adalah kamu, dan kamu masih menganggap mereka teman? Bahkan setelah mereka melakukan hal-hal yang menyakiti hatimu. Di kelas saat kamu sakit tak ada yang menanyakan kondisimu. Bahkan teman semejamu pun tidak. Lalu, saat pelajaran olahraga tidak ada yang mau menjadi pasanganmu padahal jumlah siswa genap. Lalu– ”
“Sudah cukup, hentikan! Aku tak peduli seperti apa yang mereka lakukan padaku. Aku tetap menganggap mereka temanku. Aku sangat bahagia saat mereka dekat denganku, bersamaku. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu membunuh teman-temanku. Pembunuuh!” Teriakku tak tahan.
“Kamu tidak mengerti apa yang kukatakan, ya? Sekarang aku tak peduli lagi kamu itu aku atau bukan. Sekarang aku akan membunuhmu. Ha Ha Ha.” Kata sosok itu sambil tertawa.
“A… apa?” aku bergerak mundur ketakutan, sementara sosok itu mulai mendekatiku dan mengarahkan pisaunya ke arahku. Aku kembali memikirkan apa yang dikatakan pemuda tadi. Sosok itu semakin dekat aku tak dapat bergerak mundur dan pintu kelas tiba-tiba saja tertutup. Sosok itu mengarahkan pisaunya ke wajahku dengan cepat, aku sekarang mengerti apa maksud pemuda tadi dan tersenyum senang.
***
“Ah, aku tertidur. Jam berapa ini?” kataku sambil mengusap mataku.
“Eh, sekarang jam setengah sembilan. Kamu tidur ya, Rin?” goda Yasmin.
“Emm, iya. He he he,” aku menggaruk kepalaku meski tak gatal. “Ngomong-ngomong, Pak Wiharto kemana? Kok gak kelihatan,” tanyaku bingung.
“Pak Wiharto tadi pulang, katanya ada urusan. Pelajaran sekarang diganti sama sejarah. Eh, katanya gurunya baru, lho!” Kata Yasmin berbinar-binar.
“Hah! Beneran?” kataku memastikan, Yasmin hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Entah mengapa sekarang aku merasa lega. Suatu perasaan aneh begitu aku terbangun. Mimpi dalam tidur singkatku tadi tidak dapat kuingat, namun aku senang kepalaku tak terasa sakit lagi. Lalu datang seseorang ke dalam kelasku. Aku ragu apa aku pernah melihatnya, tapi sepertinya aku pernah melihatnya
“Perkenalkan saya adalah guru baru kalian. Nama bapak Nicholas Van Der Toon, saya mengajar sejarah.” Kata bapak itu sambil tersenyum. Aku memperhatikan baik-baik bapak itu, ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi berbentuk pita. Sesuatu yang sangat formal untuk dipakai seorang guru SMA. Kemudian ia mengenakan celana panjang berwarna hitam dan memakai sepatu coklat dengan ujungnya yang runcing. Aku melihat wajahnya, ia agak keriput dan rambutnya berwarna putih ia juga memiliki janggut panjang dan kulihat sekarang ia tersenyum padaku. Aku yakin kalau aku pernah melihatnya sebelumnya.
***
Hari Senin kegiatan study wisata kelas sepuluh diadakan. Aku dan teman sekelasku satu bus, begitu pengumumannya saat busnya tiba. Sebelumnya kami tak satu bus, namun tiba-tiba muncul pemberitahuan ini. Dan guru pembimbing kami adalah Pak Nicholas guru baru kami. Aku duduk di samping Dian, sesuai yang telah ditentukan. Perjalanan menuju lokasi kira-kira membutuhkan waktu 3 jam. Aku mengambil novelku berniat membaca, namun sebelum sempat membaca, novel itu sudah berada di tangan Dian. Aku mendengus kesal dan melihat Dian membuka-buka novelku.
“Tadi kamu cerita tentang Pak Nicholas yang menurutmu aneh dan mimpimu di hari jumat aku mati terbunuh dan ternyata kamu yang bunuh aku, ya kan?” kata Dian tiba-tiba mengulang ceritaku tadi. Aku memang menceritakannya ke Dian, tapi aku tak mengerti mengapa Dian bertanya itu.
“Ya, kenapa?” aku penasaran kenapa Dian tiba-tiba begini.
“Kamu masih merasa aneh sama Pak Nicholas, Rin?” tanya Dian mengangkat sebelah alisnya.
"Oh, umm..." aku memikirkan perkataan Dian sambil melihat ke arah Pak Nicholas yang sedang membaca koran, pakaiannya masih sangat formal untuk kegiatan di luar sekolah.  Benar, lagi-lagi jas yang ia pakai, berbeda dengan guru lain yang berkemeja. “Ya dia memang aneh,” kataku akhirnya.
“Baca buku ini lagi, deh! Kamu kebanyakan baca, sih. Jadi menganggap nyata cerita, kan akhirnya.” Dian menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya sambil melihat ke arahku dan memberikan kembali novelku.

Aku tak mengerti. Aku kemudian mengambilnya dan membaca novelku lagi. Aku memang belum selesai membacanya sejak Jumat. Dan setelah selesai membaca aku mengerti ucapan Dian, novelku bercerita tentang kehidupan pesirkus sang pembunuh yang terjebak dalam mimpinya.

Karya : Salma Azizah
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kau Pertemukanku Dengan Kasih Tulus
“Ketika kau ketuk pintu hatiku, tak ada lagi celah untukmu masuk . Sang Dewa Malam membisikiku untuk menggeliat dalam kegelapan sunyi nan sepi. Delimaku, jemari lentikmu senantiasa menari dalam sanubariku menggelitik kedinginan malam. Menunggumu pulang, tak tahu arah tak tahu jalan. Tersesat! Hanya kilau bening hatimu yang akan menuntunmu kembali.” Telapak Suyatmi nampak pucat. Ingin dia merobek surat terakhir itu. Bibirnya yang merah bak buah delima kini membiru. Dinginnya malam menyelimuti kali ini. Suyatmi, gadis berbadan gemuk berisi ini telah kehilangan semangat hidupnya. Dikala ia berpisah dengan kekasihnya, Sumarno.
“Yatmi… Kemari, Nak! Ibu punya sesuatu untukmu.” seru Mak Cik, yang sudah berusia lanjut. Namun Mak Cik adalah satu-satunya orang tulus yang mau merawat Suyatmi. “Iya Mak… Tunggu sebentar.” Duk duk duk, langkah itu terdengar mendekat. Suyatmi yang dalam kesehariannya terbiasa tidak beralas kaki kini sudah berada di samping Maknya. “Ada apa, Mak? Tampaknya Emak senang sekali?” Senyum manis itu menyimpul dari bibir Mak Cik, “Iya Nduk, Mak baru saja mendapat bonus dari Pak Agus, penjualan telur asin Emak laku habis beberapa hari ini. Ini Mak ada sedikit uang saku tambahan untukmu.” Yatmi tersenyum mendengar kabar itu, namun Yatmi tampak ragu “Terimakasih Mak. . . Tapi apa tidak sebaiknya uang itu disimpan Mak saja? Yatmi belum ada kebutuhan yang mendesak, Mak.” Mak Cik membelai lembut rambut Yatmi yang hitam legam. Sama persis seperti almarhumah Ibu Yatmi dulu. Memang, dahulu Ibu Yatmi adalah kembang desa, namun beliau meninggal karena sakit memikirkan Ayah Yatmi yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk judi, judi, dan judi. “Ya sudah, Nduk. Uang ini Emak simpan untuk bekal kamu kelak.” Yatmi pun berdiri dan ijin masuk ke kamar.
Ia tak bisa lepas dari bayangan buku kusam itu. Meskipun kusam, buku itu menyimpan sejuta kenangan indah. Kisah cintanya dan Marno. Yatmi mulai membuka lembaran pertama buku itu. Ia mengingat kejadian pertama yang mengenalkannya pada Marno. Walaupun Sekolah Menengah Atas tempat Yatmi menimba ilmu tergolong terpencil, Masa Orientasi Peserta Didik tak luput dari sekolah ini. Perkenalan pertama pada saat masa orientasi itu selalu membayangi setiap jejak mereka. Ya…Mereka yang dulunya anak lugu, kini tak bisa menipu rasa yang ada dalam hati mereka. Cinta, hal yang dulunya tabu,kini menjadi penghias hari yang mereka lalui.
Setelah kenaikan kelas, Yatmi memutuskan untuk keluar sekolah untuk meringankan beban Mak Cik. Kini ia duduk membisu di samping Mak Cik. Membalur telur bebek dengan lumpur yang dicampur serbuk batu bata dan garam itu. Ia membayangkan kalau saja ia masih bersekolah, pastinya ia sedang makan berdua dengan Marno. Namun ia tak menyesali keputusannya, keinginannya untuk membantu Mak Cik nampaknya mulai mendapatkan jalan mulus. Yatmi mulai mendapat banyak pesanan telur asin, banyak keluarga yang menyukai telur asin buatannya. Sedikit demi sedikit ia mengembangkan industri rumah tangganya menjadi lebih besar.
Suyatmi merupakan anak yang menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan. Sembari mengembangkan usahanya dengan Mak Cik, Yatmi juga membeli buku-buku ilmu pengetahuan. Suyatmi ingin membebaskan diri dari keterbelakangan. Perpisahannya dengan Marno merupakan cambuk pedih bagi Yatmi. Ia terus berusaha memperbaiki hidupnya dan Mak Cik. Semangat Suyatmi terus berkobar meskipun usahanya tak selalu mulus, kadang banyak pesanan dan kadang tidak. Usaha rintisan Mak Cik itupun dititipkan ke sekolah tempat Yatmi menimba ilmu dulu.
Suatu hari ketika Yatmi menitipkan telur asin di SMA Yatmi dulu, dipecah lamunnya oleh seorang pria. “Hah Pak Bejo? Wah, sudah lama tidak bertemu ya Pak.” Tanya Yatmi dengan terkejut. “Oalah… Nak Yatmi to, sedang apa di sini?” tanya Pak Bejo “Ini Pak, saya sekarang membantu Mak untuk memasarkan telur asinnya.” “Oh, begitu… Ya sudah Nak Yatmi, Bapak tinggal dulu ya.” Sekilas ada sesosok lelaki tampan yang berjalan berdua dengan seorang wanita. Betapa hancurnya hati Yatmi ketika menyadari lelaki itu adalah kekasihnya dahulu…Marno!
Setapak demi setapak yang dilalui, semakin tidak menentu, seakan lepas engsel itu dari asalnya. Mak Cik yang memperhatikan Yatmi dari kejauhan, sudah bisa menebak apa yang dialami Yatmi siang tadi. “Kenapa Yatmi? Kok kamu lesu sekali?” “Tidak apa-apa Mak, hanya saja tadi Yatmi bertemu Latifah sahabat Yatmi dulu.” “Lho, kok malah sedih?” “Bukan apa-apa kok Mak, mungkin Yatmi hanya lelah. Yatmi ke kamar dulu ya, Mak.” Mak Cik mengangguk kecil menunjukkan masih ada kejanggalan yang dirasakan.
“Teganya kamu Latifah. Kamu sahabatku yang dahulu selalu menemani hariku. Tawa canda kita kau rusak sudah, kau hancurkan dengan sikap khianatmu.” Air mata menetes dari sudut mata sayu Suyatmi. Lembaran buku kusam itu pun nampak merapuh karena air yang merembas padanya. “Apa yang dulu kamu janjikan, menjadi sahabat setiaku. Kini kau rusak janji manismu sendiri tanpa penjelasan berarti. Kau acuh ketika menemuiku siang tadi. Bahkan kalian nampak tidak pernah mengenalku sebelumnya. Memang aku hanyalalah yatim yang tak tamat sekolahnya, namun tak sepantasnya kalian merendahkanku seperti ini.” Semakin deras air mata yang menetes dari mata sabit itu. Yatmi bergegas menuju tempat  wudhu. Dibasuhnya muka manis itu dengan sentuhan lembut. Ia lalu menghadap Sang Khaliq, diadukannya semua kejadian yang telah ia alami. Semacam ada kekuatan gaib. Yatmi menemukan dirinya yang baru, kini Yatmi menjadi dukun beranak. Reputasinya mengalahkan Pak Tunggono, langganan Pak Amrun. Ia menyadari, semakin lemah ia menjalani kehidupan, kehidupanpun semakin tak memiliki belas kasihan padanya. Ini yang ia jadikan pacuan untuk meperbaiki hidupnya.
Tabungan yang ia miliki selama ini, ia gunakan untuk membuka toko kelontong kecil-kecilan. Jiwa wiraswasta yang entah menurun dari siapa seakan ia berjalan dengan pembimbingnya yang tak tampak. Jauh berbeda dengan Yatmi yang dahulunya hanyalah wanita lemah. Yang hanya karena cinta, ia terseok-seok mengaduh kesakitan tanpa seorangpun peduli padanya. Cukup sudah itu menjadi kenangan pahit yang ada dalam perjalanan hidupnya. Kebangkitannya kini membawa pada kebaikan, wanita yang kuat, yang tidak mudah terombang-ambingkan apalagi hanya dengan khianat yang dilakukan Marno dan Latifah.

Waktu berlalu, mengenalkan Yatmi pada Bambang. Lelaki yang tak kalah tampan dengan Marno. Hanya saja kalah mapan mungkin. Bahtera kehidupan baru pun dimulai Yatmi. Menjalin kasih tulus abadi. Dengan Bambang.

Karya : Rico Adi Setyanto
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
DIBALIK MATA INI

Hari ini adalah hari senin, hari yang kebanyakan dibenci oleh anak sekolah, namun tidak  dengan Natha siswi kelas 11 SMA ini. Ia mempunyai sikap acuh tak acuh sehingga membuat dirinya tidak peduli dengan keadaan ini. ya dia sama seperti siswa siswi biasa yang berangkat ya berangkat aja nggak meduliin yang lain.. nah ini sekilas tentang kepribadian Natha.
***
Sesampainya di sekolahan, seperti biasa dia kumpul bersama dengan kedua sahabatnya, yaitu Vanka yang cerewet dan Nurul yang sok tau, mereka ngomongin orang lah, ngomongin guru lah, dan apa aja yang mereka suka. Tiba tiba “kringggggg” bel masuk berbunyi, mereka masuk ke kelas mereka yang kebetulan mereka satu kelas. Kelas mulai gaduh karena guru belum juga masuk ke kelas mereka, inilah saat yang tepat untuk mereka gunakan melanjutkan pembicaraan mereka tadi. “Ehh,lo tau nggak? Gue denger denger ada siswa baru lho” ucap Nurul yang memang sok tau ini “Ah yang bener lo??dia cewek apa pria?? pasti pria kan?? Cakep nggak?? Cakep kan?? Dia pindah ke kelas kita nggak?? Iya kan??” kata Vanka yang super duper cerewet ini. “Hemmm. Mulai nih kebiasaannya” kata Nurul yang jengkel. “Biarin” kata Vanka. ”Emm kalo dia cakep gimana? Mau lo gebet juga?” ejek Nurul. Tiba tiba pandangan mereka beralih ke Natha yang kelihatan murung tak bersemangat. “Itu Natha kenapa??” Tanya Vanka. ”Entah” tambah Nurul. “Hehh Nat lo kanapa? Dari tadi pagi gue lihat lo nggak semangat gitu? Lo tau nggak, kata Nurul ada anak baru lho, kalo pria lo mau gue jodohin sama dia? Ehh enggak deh, buat aku aja.hahahaha” kata Vanka. “Hussss” bentak Nurul. ”Gue nggak papa kok, cuma lagi badmood aja” kata Natha.
“Ehhh guys, jangan berisik itu ibu guru sudah otw, dia kayaknya bawa murid baru deh”  kata Hendra. “Hahh,beneran?? Wahhh… kalo itu pria pasti ganteng”  kata Vanka dengan suaranya yang khas, kayak petir. ”Huuuuuuuuuu” ejek temen temen sekelas nya.
Selamat pagi anak anak, maaf ibu datangnya agak telat, karena ada sedikit kepentingan. Nah anak anak hari ini kalian kedatangan teman baru yang akan  belajar bersama kalian selama 2 tahun kedepan. ”Baik sekarang silahkan perkenalkan diri kamu”  kata ibu guru. “Perkenalkan, nama saya Christian, biasa dipanggil Tian, saya pindahan dari SMA di Magelang, senang bisa pindah di sekolah ini”. kata Christian, sembari menatap kedepan berusaha untuk melemparkan tatapan bersahabat kepada semuanya. Dan dia segera menyadari kalau hampir semua yang berada di dalam kelas menatap kearahnya. Namun, karena ada kata ‘hampir’ maka, itu berarti tidak semua. Karena dengan jelas, mata Tian terhenti kearah penghuni bangku di depannya. Gadis yang berambut panjang tergerai, sedang asik dengan buku bacaannya. Tak menatapnya sama sekali, entah karena ia keasikan membaca buku atau memang kehadirannya sama sekali tidak menarik perhatian. Entahlah, Tian bukan merupakan tipe orang yang bisa menebak kepribadian seseorang. Rupanya gadis itu adalah Natha. ”Baiklah anak anak, ibu rasa sudah cukup perkenalannya, nah Tian kamu boleh pilih tempat duduk yang kamu sukai” kata ibu guru. Tian pun memilih tempat duduk di belakangnya Natha. ”Haii Tian,kenalin gue Vanka, gue siswi paling cantik di sekolah ini” kata Vanka. ” Ihh apaan sih genit banget, maafin dia ya, dia emang gitu orang nya, emm Tian kenalin, gue Nurul temennya Vanka” kata Nurul. “Haii Vanka, haii Nurul senang bisa kenalan sama kalian” kata Tian.
***
Setelah beberapa jam berlalu,”kringgggggg” bel pulang sekolah berbunyi. Di perjalann pulang Tian menyadari kalo Gadis itu dari tadi sama sekali tidak menoleh kearah nya, yang membuat Tian menjadi penasaran. Ingin menyapa tapi ia mengurungkan niat itu, takut mendapatkan tanggapan yang tidak semestinya. Tanpa berikir panjang ia kemudian bertanya nama gadis itu ke hendra yang kebetulan sedang pulang bersamaan. “Ndra, ngomong ngomong gadis yang disamingnya Vanka itu namanya siapa ya??” Tanya Tian. “Oh ituu.. jangan jangan kamu naksir ya.. cieeee”  ledek hendra. “Enggak ya, gue Cuma penasaran aja, nggak lebih” kata Tian. ”Okeylahh.. dia itu namanya Natha, gue punya nomor handphone nya, lo mau??” kata Hendra. Tanpa berpikir panjang Tian kemudian mengiya kan tawaran Hendra.
                                                ***
Sesampainya di rumah, Tian bergegas menghubungi Natha, mereka mulai ngobrol panjang lebar, hingga membuat mereka semakin akrab. Hari terus berganti, Tian dan Natha mulai ada perasaan nyaman, entah karena sikap mereka yang dewasa atau memang Cinta lah yang membuat mereka merasakan indahnya dunia. Keesokan harinya seperti biasa Tian dan Natha beraktifitas seperti selayaknya teman biasa, tidak ada tanda tanda kalau mereka saling tertarik, bahkan Vanka dan Nurul pun tidak mengetahui nya. Memang Tian dan Natha sudah berjanji jika ia tidak memberitahu kepada teman teman nya, jika selama ini ia saling menaruh hati.
***
“Nat, Tian nyariin lo tuh, dia ada di Taman, Sana gih temuin dia dulu. Kasian dia udah nunggu” kata Nurul. “Emangnya dia nyariin aku buat apa?” tanya Natha penasaran. ”Udahlah..sana aja dulu, nanti kamu tau kok” tambah Vanka. Natha pun bergegas nemuin Tian di taman, dan tanpa ia sadari ternyata Vinka dan Nurul sudah mengetahui perasaann Tian dan Natha, mereka berniat untuk memberi kejutan kepada sahabatnya itu.
***
“Tian?? Ngapain kamu manggil aku ke sini??” panggil Natha sambil menepuk pundaknya
“Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu Nat.” Kata Tian
“Mau ngomong apa? Ngomong aja langsung”
“Natha, sejak aku memperkenalkan diriku ke teman teman semua, Cuma kamu yang membuat aku penasaran, sikap kamu yang cuek membuat aku ingin lebih mengenal kamu. Awalnya aku gak pernah kepikiran buat suka sama kamu,apalagi cinta sama kamu, tapi semakin lama aku kenal kamu, ternyata aku merasa nyaman sama kamu, ganjil rasanya kalau gak ketemu kamu, cuma nama kamu yang setiap hari aku bisikan dalam doaku, nama yang membuat air mataku berlomba lomba menggenangi wajahku. Entah keajaiban apa yang ada di dalam namamu itu, aku tidak pernah menjanjikan kesetiaan tapi aku berjanji akan sebuah perasaan, perasaan yang tidak akan pernah sirna ditengah gelapnya dunia. Jadi Kamu mau nggak jadi pacar ku?? Kata Tian.
 Seketika semua teman teman Tian dan Natha pun  berteriak ”Terima,terima,terima” termasuk Vanka dan Nurul.
 “Ihhhh sosweet banget ya Christian, aku jadi iri deh” kata Vinka. “Samaaaaa” tambah Nurul. “Emmm, Tian makasih ya kamu telah datang di dalam kehidupan ku, aku juga nyaman saat di dekatmu, kau adalah salah satu laki-laki yang bisa memahami keadaan ku, aku seneng banget bisa kenal kamu, jadi sekarang aku mau jadi pacar kamu.” Kata Natha.
Semuanya pun bersorak sorai mendengar kalimat yang dilontarkan dari mulut Natha.“Tian, aku mohon sama kamu, kamu jangan pernah tinggalin aku ya,aku sayang banget sama kamu.” pinta Natha.
”iya sayang, aku janji aku nggak akan ninggalin kamu. Aku juga sayang banget sama kamu. Makasih ya” kata Tian


Karya : Naomi Kurnia
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
3 in 1
“Punyaku mana?” tanyaku pada Krisna.
“Nih, nih. Buruan!” Krisna memberikanku beberapa atribut MOS yang harus dipakai hari ini. Lalu ia segera berlari menuju barisan, sedangkan aku dengan susah payah masih mencoba menggunakan selempang kertas dengan hati-hati agar tidak robek di tepi lapangan.
“Ayo cepetan, Dik. Segera masuk ke barisan!” ketua OSIS berteriak menggunakan toa sambil mondar-mandir. Gayanya sombong khas pengurus MOS. Ia menggunakan seragam OSIS dan jas almamater merah tuanya yang disampirkan dibahu kanannya. Tubuhnya tinggi dan cukup berisi. Kulitnya sawo matang dan berkilau terkena cahaya matahari pagi. Tapi tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya. Dia seperti.... oh astaga! Dia adalah kakak kelasku sewaktu SD! Wow! Dia sekarang jauh lebih... em, tampan. Tapi, siapa ya namanya?
Setelah tanpa sadar aku mengamatinya cukup lama, aku langsung berlari menuju barisan kelompokku yang kutandai dengan adanya salah seorang teman SMP-ku. Begitu masuk barisan, aku langsung merapikan rambutku yang saat itu dikepang delapan belas.
“Hei, Dik!” tiba-tiba kakak OSIS pembawa toa berteriak. Seluruh murid tersentak dan terdiam ketakutan khas anak baru yang masih cupu. Dan dia menatapku.
“Kamu, yang baru aja datang. Cepat mundur ke barisan belakang!” katanya sambil menunjukku. Tanpa menunggu si pembawa toa ngomel, aku langsung bergabung ke barisan belakang yang notabene adalah barisan yang berisi murid baru yang melanggar peraturan. Maksudnya apa sih? Murid baru yang terlambat kan bukan hanya aku saja. Dan apa maunya dengan mempermalukanku di khalayak ramai seperti tadi? Ah, aku malu sekali. Rasanya ingin berenang di Segitiga Bermuda saja!
Sementara si pembawa toa mengatur para murid baru berjalan ke aula, anggota OSIS yang lain mencatat pelanggaran kami dan beberapa mendokumentasi. Setelah barisan utama habis, pembawa toa langsung datang menghampiri kami.
“Kalian itu, ya! Baru sebentar masuk sini aja udah belagu! Kalian nggak menghargai kami yang ngasih peraturan! Seenaknya nggak bawa atribut lah, salah bikin atribut lah, telat lah. Kalian yang terlambat! Memangnya masuk jam tujuh itu kepagian? Atau mau dikasih jam malam aja?” pembawa toa yang sedari tadi mondar-mandir sambil marah-marah kini berhenti di hadapanku. Sekilas kulihat seragamnya. Oh iya, namanya Farel!
“Dan kamu! Udah datang telat, atribut juga dibawain. Niat nggak sih ikut MOS?” dia langsung menyemprotku habis-habisan di depan umum lagi. Yaelah. Pak ketua yang terhormat, kalau kalian nggak kasih syarat macam-macam, aku juga bisa bikin atribut dan datang subuh sekalipun! Namun daripada mencari mati, aku menyimpan kata-kata itu dan hanya menunduk. Sekilas aku diam-diam melihat wajahnya. Dia tersenyum.
Masa MOS itu sudah terjadi satu semester yang lalu. Namun aku masih tidak bisa melupakannya. Dan setelah itu, setiap kali aku bertemu Kak Farel, dia selalu menggodaku dengan bersiul ke arahku. Namun ketika aku menengok ke arahnya, dia langung menghadap langit sambil bersiul dan memetikkan jari seolah-olah sedang berinteraksi dengan burung. Aku hanya meliriknya sinis. Berhubung kini dia sudah tidak menjabat lagi sebagai ketua OSIS karena sudah kelas 12, aku tidak lagi takut padanya.
Kelakuannya itu terkadang membuatku tersipu. Namun bila ia sudah melihat pipiku memerah, dia langsung tertawa mengejekku. Itu membuatku malu dan tidak bisa membalasnya. Saras dan Vania, kedua sahabatku itu justru yang heboh sendiri setiap Kak Farel menggodaku. Tidak heran, Kak Farel memang terkenal di sekolah kami. Walaupun begitu, katanya dia agak pendiam dan dingin. Temannya juga itu-itu saja. Beruntung sekali bila bisa dikenal atau bahkan diketahui olehnya.
Dan untuk menghindari godaannya, aku menjadi jarang keluar kelas. Tapi aku tidak berdiam diri begitu saja. Aku, Saras, dan Vania selalu menonton film setiap jam kosong atau istirahat. Beberapa teman lain ikut juga, hingga sering membuat kelas menjadi gaduh karena jeritan kami yang tidak manusiawi.
Tapi tidak sampai di situ, Kak Farel tetap saja menggodaku dengan mondar-mandir di depan kelasku setiap istirahat. Teman-teman sekelasku selalu meledekku setiap kali dia lewat dengan berkata, “Eh, pacarmu lewat tuh”. Dia benar-benar sudah menimbulkan fitnah keji. Atau bila pulang sekolah, dia akan berlari dari belakangku dan sengaja menabrakku. Lalu ia akan berbalik melihatku sambil menjulurkan lidah. Ampun deh, maunya dia apa sih? Dia benar-benar jauh dari pendapat orang-orang yang menganggapnya kalem dan keren.
Dan suatu hari, aku mendapat sebuah email. Email itu berbunyi: “Hai :)”. Hmm... siapa ini? Alamat email unknown@yahoo.com itu benar-benar asing. Dan aneh.
Aku tidak berniat membalasnya. Jangan-jangan ini teror? Jangan-jangan Krisna mengerjaiku? Dia kan suka iseng. Atau malah jangan-jangan Vania dan Saras yang sedang menghiburku lantaran aku sedang sendiri (baca: jomblo)? Daripada nanti aku dipermalukan lebih baik tidak usah ambil risiko.
Namun walaupun tidak dibalas, email-email selanjutnya rutin masuk. Dan semua isinya tidak penting, seperti: “Apa kabar?”, “Kegiatan hari ini apa aja?”, “Selamat belajar”, dan pesan-pesan lainnya.
Suatu kali aku mendapat email lagi, bunyinya: “Halo, kok lama nggak ke kantin? Lagi bokek ya?”. Hmm, kalau isinya seperti ini, seharusnya dia ada di sekolah ini! Dan pastinya bukan teman sekelasku. Krisna kah? Dia kan di kelas sebelah. Tapi tidak mungkin. Cicak bakal berbulu kalau sampai dia mengirim kalimat seperti itu. Secara, dia itu orang yang benar-benar tidak ada romantisnya sama sekali.
Hari ini aku menunggu email itu datang untuk menebak siapa pengirim email itu. Namun sampai istirahat kedua tidak ada pemberitahuan email masuk di ponselku. Tumben sekali. Biasanya sebelum bel masuk email itu sudah ada.
Vania yang baru saja dari kantin lari menghampiriku dengan wajah girangnya yang memang selalu terpasang di wajahnya. Dia meletakkan sebungkus kerupuk kulit di mejaku.
“Buat kamu,” katanya dengan senyum yang makin melebar.
“Oh, makasih. Dari siapa?” tanyaku sambil membuka bungkus kerupuk itu. Lalu kumakan satu. Dia malah semakin girang saja. Kenapa sih dia? Kena pelet kali ya.
“Dari siapa?” tanyaku sekali lagi.
“Pria,” katanya tanpa mengecilkan lebar senyumannya. Ampun deh, lama-lama bisa sobek mulutnya.
“Siapa? Krisna?” kataku. Dia hanya menggeleng.
“Terus siapa?” tanyaku semakin gemas dengan teka-tekinya.
“Aku nggak boleh kasih tau katanya. Makan aja,” dia semakin girang. Sumpah, dia kenapa sih? Jangan-jangan ini kerupuk dikasih racun. Lalu dia lari menghampiri Saras dan membisikkan sesuatu. Saras yang tadinya diam mendengarkan kini ikut girang. Mereka jadi heboh berdua. Wah, kong kali kong. Aku harus hati-hati.
Terlepas dari kerupuk yang sepertinya mengandung pelet ini, aku masih penasaran dengan email yang hari ini tidak kuterima. Aku kembali mengecek ponsel, namun tetap tidak ada pemberitahuan. Ah, lupakan. Lebih baik kuhabiskan saja kerupuk mencurigakan ini.
Hari selanjutnya, aku masih tidak menerima email dari si uknown itu. Dan pada istirahat kedua, Vania kembali dari kantin membawakanku dua bungkus bakpao hijau. Dengan ekspresi yang sama. Pesan yang sama. Dan dari orang yang sama. Daripada aku bertanya lagi dan hanya dapat balasan cengiran, lebih baik aku duduk dan makan bakpao gratis ini. Sepertinya makanan titipan ini baik-baik saja, karena aku masih hidup setelah makan kerupuk kemarin.
Sampai seminggu, tetap tidak ada email masuk. Dan makanan titipan selalu datang dengan kuantitas yang meningkat. Hari ini saja aku mendapat lima bungkus nasi goreng. Buset, dia pikir perutku karet, bisa makan sebanyak ini? Lalu kubagikan empat bungkus nasi goreng ke teman-temanku dan kumakan satu. Hmm, dasar tukang katering.
Aku kembali menatap ponselku. Kenapa dia tidak kirim email lagi ya? Apa dia sudah lelah karena email-emailnya tidak pernah kubalas? Tapi kalau berhenti sampai di sini, maka aku tidak akan pernah tau siapa pengirimnya. Lalu aku berpikir untuk coba membalasnya. “Kamu siapa, sih?” tulisku.
Satu detik. Dua menit. Tiga jam. Empat hari. Masih tidak ada balasan. Karena kesal, aku mengiriminya puluhan email dengan pertanyaan yang sama. Satu menit. Dua menit.
Ting!
Ada email masuk! Segera kubuka, dan ternyata dari orang itu!
Duh, banyak banget balasannya. Kangen ya? :P. Maaf lama nggak kirim email, kuotaku habis :D. Tapi sebagai ganti kirim email, aku kirim kamu makanan lho setiap hari. Kamu makan kan? Kamu nggak pernah ke kantin lagi, sih. Takutnya kamu beneran bokek :P.
Dan aku, mungkin aku orang yang paling bikin kamu kesal. Selama ini aku begitu karena aku ingin mencari perhatianmu. Kita ketemu lagi setelah sekian tahun. Tapi sepertinya kamu nggak mengenaliku. Aku coba berbagai cara biar kita bisa kenalan lagi baik-baik. Tapi ternyata, astaga. Kamu orangnya cuek banget. Emailku aja nggak pernah kamu balas. Jadi ayo kita mulai lagi dari awal. Dan maaf buat kelakuanku waktu MOS itu ya :).
Ternyata dia! Si pembawa toa, si uknown, dan si tukang katering ternyata adalah orang yang sama! Dan itu maksud dari tingkah mengesalkannya selama ini.
Segera aku keluar kelas dan melayangkan pandanganku ke arah kantin. Kantin sudah agak sepi karena sebentar lagi bel masuk. Tepat setelah bel berbunyi, empat orang pria keluar dari kantin. Dan dia ada di sana.

Dia tersenyum padaku. Aku balas tersenyum dan melambaikan tangan dengan ponsel di genggamanku. Dia tersenyum mengerti. Kini kami siap memulai dari awal.

Karya : Meta Anggitarini
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Saat Cinta Bersatu
Kamis, 9 Juli 2015,  hari dimana anak-anak labil udah saatnya beranjak ke masa yang lebih dewasa, masa yang udah enggak kekanak-kanakan lagi,  dan masa yang udah bukan waktunya buat galau-galauan lagi. Yaitu masa putih abu-abu. Dan pada hari itu lah, Putri mengikuti MOPD ( Masa Orientasi Peserta Didik ) di sekolah barunya. Nama lengkapnya adalah Elsa Putri Cahaya. Ia bersekolah di sekolah yang cukup bonafit di kotanya, yaitu kota Surabaya. Kepribadian Putri sama seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia sangat suka dengan warna pink, apalagi warna pink pastel, hmm bahkan seisi kamarnya full dengan warna pink. Mulai dari dinding kamar yang di cat dengan warna pink pastel kesukaannya, meja belajar, dan kasur di kamarnya pun juga berwarna pink. Maklum saja, dari kecil ia sangat suka dengan kartun anak-anak Hello Kitty. Semua perabot yang ada di kamarnya, tersusun sangat rapi. Sehingga siapa saja yang ada di kamar itu pasti akan merasakan kenyamanan. Namun, kesukaannya terhadap warna pink tidak ia tampakkan kepada orang-orang disekitarnya, kecuali kepada orang tua dan sahabat-sahabatnya. Putri sangat suka bernyanyi. Dari kecil ia sudah belajar bernyanyi dengan guru vokalnya, bahkan ia pernah menjuarai beberapa lomba yang ada di kotanya. Trophy kejuarannya pun tertata rapi diatas meja belajarnya.
Baru sehari masuk sekolah, Putri udah klepek-klepek sama salah seorang kaum adam di kelompok MOPDnya, kelompok trapesium. Namanya Rendy Putra. Saat ia maju ke depan kelas untuk memimpin jalannya diskusi, ia melihat seorang pria  yang duduk di kursi paling belakang di kelas itu. Pria pendiam dengan senyum yang memikat hati kaum hawa yang melihatnya, hmm siapa lagi kalau bukan Rendy.
Putri yang memang dari dulu tergolong anak yang rajin, sepulang sekolah ia pun langsung mengerjakan tugas dari seniornya, tiba-tiba handphone nya berdering, ada pesan masuk, ia membaca pesan itu...
“Hai Put, rumah kamu daerah mana? J – Rendy”.
Sontak, Putri pun berteriak cukup keras,  untung saja saat itu ia sedang di rumah sendiri, ia tak henti-hentinya untuk tersenyum dan memandangi layar handphone nya. Karena Rendy menggunakan emot senyum yang membuat Putri seakan –akan sedang melihat senyuman itu di dunia nyata. Dan, Putri pun menjawab...
“Hai Ren J Rumahku di Jl. Gatot Subroto No.14.  Rumahku di pinggir jalan, gerbang warna pink pastel”.
Namun, handphone nya berdering lagi, ternyata itu adalah laporan bahwa pesan tersebut gagal terkirim. Hmm ternyata pulsa sms Putri tinggal Rp 0,-. Akhirnya Putri pun tidak membalas pesan itu.
Keesokan harinya di sekolah, Putri memimpin diskusi lagi bersama seorang temannya yaitu Satrio Bagus. Satrio berasal dari SMP yang sama dengan Putri. Lagi-lagi, Putri melihat senyuman itu. Di dalam hati Putri berkata “Mashaallah... indah sekali senyuman itu”. Senyuman itu membuat Putri keGR-an. Sepulang sekolah, Putri memberanikan diri untuk sms ke nomor Rendy.
“Selamat Sore Ren J maaf ya, sms mu kemarin tidak aku balas. Rumahku di Jl. Gatot Subroto No.14.  Rumahku di pinggir jalan, gerbang warna pink pastel”, Putri mengulang sms yang gagal terkirim kemarin sore.
Namun, berkebalikan dari hari kemarin, kali ini Rendy lah yang tidak membalas sms Putri. Putri sempat kecewa karena Rendy tak membalas smsnya, namun Putri kembali tersenyum, karena besok di sekolah ia akan bertemu dengan pria itu lagi. Ya kalau ngliat pria itu, rasanya jantung mau copot, senyumnya membuat jantung Putri berdegup kencang tak beraturan, ckckck.
Mentari kembali menampakkan kehadirannya di muka bumi ini, itu tandanya Putri harus segera bersiap-siap untuk ke sekolah. Hari itu adalah hari MOPD terakhir, hari itu menjadi hari yang menyedihkan bagi Putri, karena hari itu adalah hari terakhir Putri bisa melihat senyuman itu sebelum libur datang. Putri ngga bisa ngebayangin gimana nantinya ia bisa melihat senyuman itu lagi. Namun, hari itu Putri telah memiliki foto pria idamannya itu, karena pada hari itu kelompoknya mengadakan acara bakti sosial di suatu masjid yang tidak jauh dari sekolahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung mencetak foto itu, dan di belakang cetakan foto itu tertulis...
“ Sabtu, 11 Juli 2015, kenangan MOPD yang tak akan terlupakan, aku berfoto dengan lelaki yang berhasil membuat jantungku berdebar saat melihat senyumannya”.
Foto itu langsung ia masukkan ke album barunya yang ia beri judul “ Masa-masa SMA “
3 minggu telah berlalu, tepatnya tanggal 3 Agustus 2015, para siswa-siswi SMA di seluruh penjuru Surabaya sudah memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah masing-masing. Tak berbeda jauh dengan Putri. Putri masuk jurusan IPA di sekolahnya. Saat memasuki kelas barunya, yaitu kelas X IPA 2, ia tidak melihat Rendy di kelas barunya, itu tandanya dia tidak satu kelas dengan pria idamannya itu. Ohh sungguh, ia kecewa karena tidak sekelas dengan Rendy. Sepulang sekolah, Putri tidak langsung pulang, namun ia berkeliling menyusuri setiap kelas untuk melihat papan nama yang tergantung di pintu kelas. Dan ia mendapati nama “Rendy Putra”, ternyata ia di jurusan IPS. Yaitu kelas X IPS 2. Hmm sama-sama 2, namun beda jurusan. “Nggak papa lah, beda jurusan besok juga akan bersatu, haha!” ,celoteh Putri dalam hati sambil meringis sedikit.
Hari demi hari telah Putri lewati tanpa melihat senyuman itu, sampai pada hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015, saat Putri berangkat sekolah dan menuju kelasnya, ia berpapasan dengan seorang pria. Pria itu tersenyum, dan senyuman itu tertuju pada Putri. Ya pria itu adalah Rendy. Sungguh, itu membuat Putri sangat bahagia. Dan keesokan harinya, 29 Agustus 2015 pada jam yang sama ia pun juga melihat senyum pria itu mengarah lagi kepadanya, senyuman itu tak bisa membendung bibir Putri untuk membalas senyuman itu. “Ohh God, pertanda apa ini?”. Itulah pertanyaan besar di benak Putri.
            Senin, 31 Agustus 2015, setelah anak-anak SMA Persada Surabaya upacara rutin di lapangan, lagi-lagi Putri berpapasan dengan Rendy. Dan sama seperti biasanya, Rendy mengeluarkan jurus jitu nya, yaitu senyum badainya. Putri klepek-klepek dengan senyuman itu. Jantung Putri berdebar begitu cepat setelah berpapasan dengan pria itu. Malamnya, Putri memberanikan diri untuk chattingan dengan Rendy.  Pesan pertamanya :  “Hai Rendy J apa kabar?”. Sampai larut malam, Rendy tak kunjung membalas pesan dari Putri, karena Rendy belum juga membaca pesan itu. Mungkin saja Rendy, sedang sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Bulan telah berganti begitu cepatnya, Agustus menjadi September. Pergantian bulan itu suram bagi Putri. Apalagi kalau bukan karena kuota internetnya habis. Hmm dan Putri pun di landa kegalauan. Akhirnya Putri pun membeli kuota internetnya. Saat ia online WhatsApp ada pesan masuk dari Rendy...
“Hai juga Put. Kabar baik kok. Kalau kamu gimana?”.
Namun pesan itu di kirim Rendy pukul 22.00 saat kuota Putri habis. Saat Putri berniat menjawab, lastseen profile Rendy pukul 21.57 . Menurut Putri, lebih baik ia tidak membalas pesan itu, karena ia tak mau mengganggu Rendy, karena itu sudah terlalu malam untuk berbincang disosmed. Setelah membaca pesan Rendy, Putri pun langsung tertidur dengan pulasnya.
Keesokan harinya, setelah Putri mengerjakan PR, Putri langsung mengambil hpnya, dan langsung online WhatsApp. Biasanya ia hanya membuka pesan-pesan yang ada di Grup WA yang ia ikuti saja, namun kali ini ia mengirim pesan kepada Rendy.
“Hai Ren, alhamdulillah kabarku baik-baik saja. Lama tidak berbincang ya”.
Tidak lama kemudian, Rendy pun membalas pesan Putri.
“Alhamdulillah Put, kalau begitu. Iya ya, lama kita tidak berbincang”
 “Di sekolah kita hanya saling tersenyum ya Ren, kita belum pernah berbincang secara langsung. Karena dari aku nya sendiri sih takut untuk memulai perbincangan terlebih dahulu. Berani memulai hanya melalui sosmed, hahaha”
Dan... chattingan itu terus berlanjut. Sampai-sampai Putri ketiduran dan tidak membaca pesan Rendy yang terakhir yang mengatakan “Selamat Malam Put”.
Keesokan harinya, saat istirahat pertama, ia bertemu dengan Rendy yang saat itu juga berada di depan kantin sekolah, tak terduga Rendy pun menyapa Putri yang sedang asyiknya ngobrol dengan sahabat karibnya yaitu Dhina Amanda. “Hai Putri” itulah 2 kata yang diucapkan oleh Rendy, dan berhasil membuat Putri jatuh hati mendengar suaranya. Putri tak dapat berkata apa-apa, ia hanya bisa tersenyum dan terus memandangi punggung pria itu yang telah beranjak meninggalkan titik dimana Putri terpaku saat Rendy menyapanya.
“Aduh Putri, baru sebulan masuk sekolah aja, udah dapet gebetan ya? Aku kapan dicariin?”, canda Manda.
 “Apaan sih Nda, aku hanya temenan kok sama dia, ngga lebih” jawab Putri judes. Karena Putri, tak ingin ada seorangpun yang tahu bahwa ia telah jatuh cinta kepada laki-laki itu.
Setiap hari nya, dua anak remaja yang sudah saatnya meninggalkan masa labilnya itu, Rendy dan Putri, mereka hanya bisa saling memandang satu sama lain dan hanya bisa berbalas senyum. Setiap harinya, Putri pun memotret Rendy secara diam-diam. Dan sepulang sekolah langsung ia cetak, tak lupa ia masukkan ke album kesayangannya. Dan sampai akhirnya, hal itu membuat Manda merasa curiga kepada Putri, yang sering senyum-senyum sendiri saat memandangi Rendy.
Melihat tingkah laku sahabatnya itu, Manda pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Putri tentang perasaannya. Dan akhirnya, Putri pun menceritakan seluruh isi hatinya kepada Manda, bahwa ia kagum terhadap Rendy. Tetapi lama kelamaan, rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta.
Suatu hari, teman sebangku Rendy mengusilinya. Ia membacakan pesan-pesan Putri yang masih terdapat di riwayat chat WhatsApp Rendy. Dan akhirnya, berita bahwa Rendy dan Putri memiliki hubungan yang khusus itu tersebar ke seluruh anak-anak kelas X SMA Persada Surabaya. Dan teman sekelas Putri pun tahu tentang itu. Akhirnya, Putri dan Rendy menjadi bahan bullyan di kelas mereka masing-masing. Hal itu menjadikan keduanya semakin jatuh cinta satu sama lain. Dan pada suatu malam, Putri memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah voice note lagu percintaan yang sedang booming pada saat itu, dan pastinya Rendy juga tau apa makna dari lagu tersebut.
Setelah mereka berdua saling memberi kode, bahwa mereka saling mencintai satu sama lain, mereka sudah tak canggung lagi untuk berbincang di depan umum. Setiap harinya, mereka ngobrol di emperan kelas Putri, dan mereka pun juga sering belajar bersama. Meskipun beda jurusan, itu tidak menjadi masalah untuk mereka berdua. Mereka tetap bisa membantu satu sama lain jika ada yang kesulitan dalam mengerjakan tugas. 
Suatu hari, saat Rendy berniat untuk menjemput Putri karena mereka berjanji untuk belajar bersama, Rendy melihat sebuah album foto di luar tas Putri, dan pada saat itu Putri sedang tidak ada di kelasnya. Rendy pun penasaran dengan album itu. Dan tak terduga oleh Rendy, album itu mayoritas berisi foto Rendy. Hal itu menjadikan Rendy semakin yakin untuk menambatkan hatinya kepada Putri. Saat Putri datang,  tiba-tiba Rendy memegang kedua tangan Putri, dan itu membuat Putri tak bisa bergerak dan tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata apapun. Ia seperti terpaku. Jantung nya berdebar begitu cepat. Dan Rendy mengucapkan sebuah kalimat yang tak terduga oleh Putri sebelumnya...
“Put, maukah kamu jadi pacarku? “, ucap Rendy lirih.
“Ren, apakah aku sedang bermimpi?”, jawab Putri dengan tampang terheran-heran
“Enggak Put, kamu enggak mimpi kok”, jawab Rendy dengan tersenyum sambil mencubit pipi kanan Putri yang tembemnya minta ampun.
“Aww! Kok aku di cubit sih”, ucap Putri dengan judes sambil manyun.
“Habisnya kamu gitu sih jawabnya, aku kan serius. Kamu mau jadi pacarku nggak?” tanya Rendy untuk kedua kalinya.
Tanpa pikir panjang Putri pun langsung menjawab pertanyaan itu dengan tampang sok sedih, “Aku ngga bisa Ren”.
Jawaban itu membuat wajah Rendy seketika berubah, dari wajah yang tersenyum ceria menjadi wajah yang masam, seperti orang-orang pada umumnya saat dilanda kekecewaan. Dan tak selang beberapa lama Putri melanjutkan perkataannya tadi “Aku ngga bisa nolak Ren”.

Sontak, Rendy pun langsung memeluk tubuh kurus cewek berpipi gendut itu dengan hati yang begitu bahagianya. Dan ia mengucapkan, “Put, aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Aku sungguh menyanyangimu. Dan aku berjanji akan menjagamu sampai maut memisahkan kita”

Karya : Mercia Widyasari 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

/>

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juli 2018 (1)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (1)
  • November 2016 (12)
  • Agustus 2015 (1)
  • Maret 2015 (2)
  • Februari 2015 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates